"Rome. One night. Ship."
- Nathalia Soedipdjo.
•••
Sambil memutar kemudi mobil dengan satu tangan, Jeno sesekali melirik cewek di sampingnya. Nama cewek itu Nathalia, baru beberapa puluh menit lalu dikenalkan oleh Rosa.
Suasana di dalam mobil sebenarnya tergolong sepi, tapi ajaibnya Jeno sama sekali tidak merasa canggung. Malahan, ada rasa penasaran yang menggerogoti otaknya. Sejak awal melihat Nathalia, Jeno kena serangan déjà vu. Muka cewek ini tidak asing, tapi ingatan Jeno seperti file terselip di folder paling dalam.
Lantaran mulutnya sudah gatal setengah mati, Jeno akhirnya memecah keheningan. "Um... Nathalia, right?"
Nathalia menoleh anggun. "Iya."
"Kamu udah lama kenal sama Mami aku?" tanya Jeno, membuka jalan basa-basi.
"Lumayan," sahut Nathalia santai. "Tante Rosa itu pelanggan tetap Mama aku."
"Pelanggan tetap?"
"Iya, kue dan brownies."
"Aaaah!" Jeno manggut-manggut paham. Misteri kenapa kue ulang tahun di rumahnya selalu enak tiap tahun akhirnya terpecahkan. "Kuenya emang enak banget sih. Tiap tahun Mami pasti beli di sana." Jeno menoleh sekejap, melemparkan senyum terbaiknya sebelum kembali fokus menatap jalanan.
"Puji Tuhan kalau suka," balas Nathalia ikut tersenyum.
Tapi asli deh, gue pernah ketemu ini cewek di mana ya? batin Jeno sibuk mengaduk-aduk memorinya.
"Um, Nathalia... kamu pernah liburan ke luar negeri?"
Satu alis Nathalia terangkat.
"Maksud aku... maybe Rome?" tanya Jeno lagi, melirik cepat untuk membaca ekspresi cewek itu.
"Aku pernah ke Italia, tapi lebih sering di Milan. Kalau ke Roma... kayaknya pernah sekali. Kenapa?"
"Oh, enggak, gak apa-apa," sangkal Jeno cepat. "I just wonder, rasanya aku pernah ngeliat kamu... kayak di dek kapal pesiar?"
Bahkan sebelum Jeno menyelesaikan kalimatnya, Nathalia sudah tertawa pelan. "Yup. Aku pernah ikut tour kapal pesiar."
Jeno mengangguk mantap. Berarti ingatan visualnya tidak konslet. Cewek cantik yang dulu berdiri menatap laut di dek kapal memang benar Nathalia.
"Gimana liburannya waktu itu? Seru?"
"Lumayan."
Jeno mengernyit. Nada suara Nathalia barusan terkesan amat sangat terpaksa. "Lumayan? Kok dari nadanya kayak kurang seneng gitu?"
"Yah... begitulah."
"Kenapa? Pelayanannya kurang oke? Atau fasilitasnya?"
Sebagai salah satu perwira penting di kapal pesiar mewah milik Kapten Syam, jiwa korsa Jeno mendadak meronta-ronta! Kapal itu adalah kebanggaannya—makanan bintang lima, hiburan kelas atas, pelayanan tanpa cela! Mendengar ada penumpang yang cuma bilang "lumayan" rasanya seperti menyenggol harga diri Jeno sebagai pelaut.
Halah, Jeno. Kenapa gak sekalian kamu nikahin aja itu kapal?
"Bukan kok, everything was fine," hibur Nathalia.
"Terus?"
"Pengalaman pribadi aku aja yang gak begitu menyenangkan di sana."
"Kenapa? Kamu mabuk laut?"
Nathalia terkekeh tipis. "Anggap aja gitu."
Jeno memutuskan menahan diri untuk tidak menginterogasi lebih lanjut. Yang penting reputasi kapalnya aman. Ego laki-lakinya yang haus validasi akhirnya bisa tenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
