•••
"Hai, mi." kata Jeno menyapa Rosa yang sedang mengiris cake sementara ia sendiri membuka lemari es, mengambil minuman ion yang semalam ia masukkan ke dalamnya.
"Hai." jawab Rosa tersenyum tanpa mengalihkan fokus dari kegiatannya.
Jeno selesai mengambil minuman dan menutup lemasri es, ia kemudian berdiri di samping Rosa.
"Cake dari mana?"
"Hm?" Rosa mengangkat pandangan sebentar, melihat ke arah Jeno, ia kemudian tersenyum. "Dari Julia, ituloh yang kemaren nebeng pulang sama kamu."
Mulut Jeno ber-oh ria.
"Lia gimana anaknya? Easy going kan?"
"Iya." jawab Jeo sembari sesekali meneguk minuman yang ada di tangannya.
"Mami liked her. Anaknya mandiri, gak menye-menye kayak cewek-cewek kamu yang sering ketemu mami dulu-"
"Mi-"
"Koko umurnya udah berapa?"
Jeno bisa menebak kemana arah pembicaraan ini, Rosa gak mungkin gak tahu berapa umur Jeno sekarang, wanita tersebut hanya sengaja bertanya.
"Udah tahu kok kalau umur segini harusnya udah mulai ngenalin calon mantu ke mami."
Rosa tergelak mendengarnya, ia memindahkan beberapa potong kue ke lima piring kecil di depannya.
"Mami tuh snenag banget tahu waktu dulu kamu pacaran sama Delia, kan bisa besanan sama tante Naya." kata Rosa. "Cuma yah mau diapa, anak mami kelamaan di laut." ia melirik Jeno sebentar. "Akhirnya Delia sold out."
"Berarti belum jodoh."
"Iya, sih." kata Rosa. "Tapi masa setelah putus dari Delia kamu gak nemu pacar baru? Dont tell you're not move on yet."
"Aku sibuk. Kan mami tahu sendiri, aku kerjanya di kapal gimana, pulang aja paling mentok seminggu 5 tahun."
Rosa mencibir pelan. "Iya deh, si paling kapal."
"Lagian mami kenapa sih, kebelet banget punya menantu. Mau cucu?"
"Bukan mau cucu." kata Rosa, selesai memindahkan kue. "Kalau soal anak kecil, ada Eden dirumah. Your sister masih bisa di panggil bocil thats why mami gak butuh granchild, but mami mau menantu yang bisa diajak ngobrol bareng, belanja bareng, yang masak di dapur bareng-"
"Ada bibi-"
"Ya bibi beda lagi, Ko."
Jeno belum mau menikah. Dia belum siap. Jeno gak ingin menikah karena Rosa pengin menantu, tapi Jeno ingin menikah karena dia memang sudah siap dan finansialnya sudah pas untuk menikah.
"Mami tuh mau curhat sama menantu mami, soal suami mami, anak-anak mami which is gak bisa di dengerin sama Eden. Mami mau berbagi keluh kesah berumah tangga sama menantu mami."
"Yaudah, tanya Jake aja. Kapan dia mau ngenalin pacarnya ke mami."
"Loh?"
Mampus. Akibat di desak, mulut Jeno jadi bocor.
Gerakan Rosa yang sedang menaikkan piring kecil berisi sepotong kue ke atas nampan terhenti. "Jake punya pacar?"
Untungnya, Jeno belum mengatakan the worst part jadinya dia masih bisa beralibi. "Iya. Emang Jake belum ngenakin ke mami?"
Rosa menggeleng. "He's not." lanjutnya seraya mengerutkan kening, merasa aneh sebab biasanya Jake akan menceritakan bagian dari hidupnya pada Rosa.
Tidak seperti si mantan bontot a.k.a James dan si bungsu Jeno yang kadang gak suka kehidupan percintaannya di ketahui oleh Rosa, Jake berbeda, dia biasanya menceritakan dekat sama siapa, suka sama siapa, yah walaupun tidak menceritakan semuanya tapi tetap saja diantara ketiga putranya, Jake yang paling terbuka.
"Mami akan nanya ke dia."
"Biar aku aja, mi." Jeno mengambil alih nampan dari tangan Rosa dan mereka berjalan keluar dari dapur menuju ruang keluarga.
Disana ada Eden yang duduk anteng di samping James, dua bocah--ralat, yang satu mantan bocah--tersebut asik menonton tivi, tidak ada Jaka disana.
Jeno meletakkan nampan ke atas meja dan ikut duduk setelah sebelumnya telah mengambil sepiring cake untuk diberikan pada Eden.
"Loh, papa mana?" tanya Rosa.
"Tuh." James menunjuk dengan dagunya ke arah Jaka yang duduk di kursi pinggir kolam, lagi serius ngedengarin ceritanya si Jake. "Ngobrol sama Jake."
"Makasih, Ko." Eden mengambil piring kue dari tangan Jeno.
"Sama-sama." jawab Jeno mengusap kepala Eden.
"Jake baru datang?" tanya Rosa.
"Iya." jawab James.
"Lagi ngobrolin apa sama papa?" tanya Rosa lagi.
"Gak tahu." jawab James. "Tapi kayaknya ngomongin pacarnya-"
"Lo tahu?" tanya Jeno.
James mengangguk. "Ketemu kemarin depan minimarket."
Rosa mengerutkan kening. "Bukannya kemarin masih di Aussie?"
James segera mencari alibi. "Pas landas mungkin langsung ketemu pacarnya."
"Aneh. Gak biasanya Jake gak langsung pulang kerumah."
"Iya, mi. Abang udah jarang main sama Eden." si bocil nampaknya juga merasakan hal yang sama. "Oh iya, kemarin ada Eden juga disana, pacar abang cantik banget, mi."
Jeno dan James saling lihat, dari mata James mengisyaratkan kalau Eden tahu tentang kehamilan itu dan ia menyuruh Jeno lewat matanya untuk membungkam mulur Eden sebelum mengluarkan kalimat yang seharusnya menjadi rahasia.
"Oh ya, cantikan mana sama mami?"
"Eden mau bilang mami, tapi gak boleh bohong."
"Oh, jadi pacar abang lebih cantik?"
"Iya. Rambutnya hitam, terus putih, terus baik banget, mi. Namanya kak-" Eden berhenti, melihat ke atas berusaha mengingat. "-kakak nama pacar abang siapa?"
"Digta." jawab James, setengah kesal karena bocil kematian telah membeberkan hampir 50 persen dari rahasia Jake.
"Nah itu."
"Udah, udah kuenya dimakan dulu itu, nanti diambil sama kak James." Jeno buru-buru mengalihkan perhatian Eden.
Eden yang perhatiannya teralihkan pun sudah mulai memakan kuenya, sedikit cepat, takut jika James mengambil kuenya.
"Mami kesana deh, mau dengerin apa yang Jake obrolin sama-"
"Papa bilang mami gak boleh menginterupsi." kata James.
"Kok gitu?"
"Gak tahu, papa bilang gitu ke aku."
Rosa mengerutkan kening, menoleh penasaran pada suami dan putra keduanya yang nampak serius mendiskusikan sesuatu.
Ia penasaran, apa yang mereka bicarakan saat ini?
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
