Q | Jeno pamit.

614 50 0
                                        

[ 17 ]
(Typo bertebaran)

•••

"Mami!"

Rosa yang sedang melipat baju berbalik, lalu menepuk dadanya kaget melihat putra pertamanya datang dalam wujud yang sudah sangat memprihatinkan.

"Ya Tuhan, Koko!" Rosa seketika berlutut menyejajarkan tingginya dengan Jeno. "Koko kenapa, Sayang?!"

Rosa menepis pasir yang menempel tebal di pipi tembam Jeno. Tidak cuma di pipi, rambut bocah umur 5 tahun itu sudah mirip ladang pasir berjalan.

"Aku berantem sama Jashan!" adu Jeno sesenggukan, matanya memerah.

"Lho, kok bisa berantem sama Jashan?" Rosa membawa Koko Jeno ke gendongannya dan mendudukkannya di sofa.

"Jashan mau merebut pengantin aku!"

Rosa membelalak. "Pengantin... bohong-bohongan maksud kamu?"

Jeno menggeleng keras sampai pasir di rambutnya berguguran. "Bukan, Mi! Pengantin beneran! Aku sama Karina lagi main pengantin-pengantin, terus Jashan ditugasin jadi pendetanya."

"Terus?"

"Tapi Jashan mendadak maksa mau jadi pengantin lakinya Karina! Aku disuruh jadi pendeta! Aku gak mau lah, aku kan yang dandan duluan! Jadi aku dorong Jashan!" maki Jeno polos. Lalu bocah itu perlahan menunduk, sadar kalau aksinya mendorong teman itu salah. "Apa aku salah, Mi?"

Rosa menghela napas. "Koko gak boleh main dorong begitu. Jashan kan temannya Koko..."

"Tapi Jashan juga balas dorong! Terus kita guling-gulingan di pasir!" cemberut Jeno.

"Aduh... Terus Jashan sama Karina sekarang di mana?"

"Sama Papa."

Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Jaka masuk dengan raut wajah seperti kepalanya mau pecah. Di lengan kanannya ada Karina yang menangis sesenggukan sampai hidung kecilnya memerah bak tomat, sementara di lengan kirinya ada Jashan yang rambutnya penuh pasir plus ada lebam membiru di pipinya.

Melihat lebam di pipi Jashan, Rosa langsung menoleh kaget ke Jeno. "Koko mukul Jashan?!"

"Enggak! Aku cuma dorong doang!" bela Jeno defensif.

"Terus kenapa muka Jashan—"

"Ini gak apa-apa, Yang. Udah aku periksa, cuma kepentok mainan pas mereka guling-guling," potong Jaka cepat.

Jaka memosisikan ketiga bocah itu berderet di atas sofa. Formasinya: Jeno di ujung kiri, Karina di tengah-tengah sambil sesenggukan, dan Jashan di ujung kanan. Sementara Jaka dan Rosa duduk bersila di lantai, menghadapi 'sidang pengadilan anak bawah umur'.

Jeno dan Jashan sama-sama buang muka, melipat tangan di dada dengan bibir memanyunkan diri.

"Kalian berdua masih gak mau baikan?" tanya Jaka mencoba mencairkan suasana. "Bukannya kemarin udah janji mau jadi teman selamanya?"

"Gak!" sahut Jeno galak. "Jashan bukan teman aku lagi!"

"Aku juga gak sudi temanan sama kamu!" balas Jashan tak kalah nyaring.

Jeno menoleh tajam. "Oke! Kita PUTUS PERTEMANAN!"

Jeno mengulurkan dua jari telunjuknya yang ditempelkan membentuk ikatan. Jashan yang sudah hafal ritual sakral itu langsung menyabet ikatan jari Jeno pakai telunjuknya. CRAP!

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang