26. Actually, eke tuh lekong

62 2 0
                                        


•••

Pagi itu, Naya duduk bersantai di ruang keluarga, di temani secagkir teh yang telah diseduh. Teh herbal yang beberapa lalu Rosa berikan, gunanya untuk membantu merileks kan pikirannya. Belakangan ini, kepala Naya sering berdenyut karena emosi. 

Sumber sakit kepala Naya tidak lain dan tidak bukan adalah Satya dan Jashan. Yang satu habis membuat drama menculik pengantin orang, yang satu bukannya melarang malah menjadi suport terdepan.

"Hadeuh..." Naya menghela napas, tangannya langsung meletakkan gelas teh ke atas tatakan ketika ekor matanya menangkap sosok Jashan yang baru saja lewat. "Shan."

Mendengar namanya di panggil, Jashan berhenti tepat di ujung tangga. "Nggih, Kanjeng Ratu. Ada apa?"

"Sini."

Jashan berkedip sekali. Perasaannya tidak enak. "Sesungguhnya, wahai nyai, hambamu yang rendah ini sedang tidak enak badan, mau ke atas dulu-"

"MAMA BILANG KE SINI, JASHAN."

Jashan langsung lari kecil, dia segera berimpuh di depan kaki Naya. "Ma, kalau Jashan ada salah, Jashan minta maaf,"

"Salah kamu banyak."

"Makanya sekarang Jashan bersimpuh, untuk minta maaf, Ma."

Naya lantas menarik napas dalam. Jashan akan memasuki usia kepala tiga dalam beberapa bulan, namun tingkah laku anaknya itu masih saja seperti waktu kuliah dulu. Naya tidak habis pikir, bagaimana caranya supaya Jashan bisa lebih serius menangani kehidupan.

"Sudah!" Naya menjeda, "Mama manggil kamu bukan mau dengar permintaan maaf kamu yang nggak berdasar," ia kemudian menghembuskan napas sejenak. "Sore ini, kamu ke restoran Mama."

Alis Jashan terangkat tinggi. "Nggak bisa dong, Ma. Aku kan kerja jadi babunya Papa di perusahaan, masa mau jadi kasir di restoran Mama lagi. Andai aku Naruto yang bisa Kagebunshin, Aku jabanin."

"Mama nggak minta kamu kerja di restoran."

"Terus?"

"I arranged a blind date for you."

"MAH!"

Jashan hendak berdiri, namun mata Naya melotot, membuat Jashan kembali pada posisinya, berlutut.

"Mama nggak terima protes."

"Tapi aku nggak mau di cariin kencan buta kayak gini. Aku masih bisa nyari cewek sendiri."

"Halah. Nunggu kamu yang cari yang ada Mama udah meninggal."

"Astaga, Ma. Nggak boleh gitu ngomongnya. Mama tau nggak sekarang mama tuh mirip siapa?"

Naya mendelik. "Siapa?"

"Ibu-ibu CEO di dracin yang kebelet punya cucu, terus cariin anaknya mantu pakai blind date."

"Kamu bukan CEO, nggak usah narsis."

"Aku nggak bilang Aku CEO, Ma. Aku bilangnya Mama kayak-"

"Nggak usah mengalihkan pembicaraan. Intinya kamu pergi kencan buta sore ini di restoran mama!"

"Titik nih, nggak pake koma?"

"NGGAK!"

Jashan tidak kehabisan ide untuk melawan argumen Naya. "Oke, gini, Ma. Aku ini udah dewasa, dan orang dewasa bebas untuk memutuskan segala sesuatu yang akan terjadi dalam hidupnya, apalaga something as important as marriage. Itu keputusan besar, Mama nggak bisa main seenaknya aja arranged a blind date for me, that's not fair. Itu melanggar undang-undang KUHP-"

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang