1. Eden J. Hattala

552 34 7
                                        


•••

Tahu gak sih rasanya bangun pagi, lalu manusia pertama yang kalian lihat begitu membuka mata adalah sosok paling kalian cintai di muka bumi?

Itulah yang dirasakan Jaka. Setiap hari. Tanpa absen.

Percaya atau tidak, Jaka ini tipe suami yang always bangun lebih dulu dari istrinya, Rosa. Dia dengan senang hati bakal selonjoran jam-jam cuma buat menatap wajah Rosa yang masih tertidur lelap. Dari gaya tidurnya yang kadang agak brutal, sampai alis Rosa yang mendadak berkerut gara-gara bermimpi entah apa—semuanya diamati Jaka dengan penuh pengabdian.

Alasan Jaka makin betah kerja dari rumah ketimbang kelayapan keluar kota ya sederhana: dia gak bisa tidur nyenyak kalau gak ada wangi Rosa di sampingnya.

Bucin? Oh, sangat! Jaka itu sudah tenggelam di level terdalam samudera kebucinan.

Kalau ditarik mundur ke masa lalu, Jaka sendiri heran kenapa Rosa mau bertahan sama cowok se-berantakan dia waktu jaman pacaran dulu. Jaka yang dulu itu krisis jati diri tingkat dewa. Anak broken home, hidup gak jelas, mana pernah mimpi bisa serius sama cewek sesempurna Rosa?

Dulu tuh, kalau Jaka gak sengaja berpapasan sama Jamal, tingkat insecure-nya langsung meroket ke luar angkasa. Soal dompet, oke lah Jaka sanggup adu mekanik. Ketampanan? Jaka gak kebanting. Otak? Lumayan encer. Tapi soal tabiat, kelakuan, dan yang paling krusial—keluarga—Jaka itu mines alias Nol Besar!

Orang tua Jaka cerai pas dia masih ingusan, dan gak ada satupun yang mau menampung Jaka. Ayahnya nikah lagi, ibunya pun sama. Jaka cuma dibesarkan oleh seorang Bibi. Masalah fasilitas sih super berkecukupan. Kalau gak percaya, mana ada anak kuliahan ke kampus naik motor Kawasaki H2R yang harga second-nya bisa buat beli rumah, udah gitu tuh H2R malah dijadikan taruhan balapan liar.

Bahkan waktu menyelamatkan teman dekatnya, Jean, dari rumah bordil, Jaka menebusnya pakai sertifikat Villa di Bali pemberian ibunya. Gila? Memang! Jaka tuh tipe cowok impulsif-totalitas kalau sudah urusan orang tersayang.

Tapi setotal apa pun dia, Jaka tetaplah remuk di dalam. Bibi yang merawatnya meninggal saat Jaka umur 15 tahun. Sejak saat itu, Jaka sadar dia sendirian di dunia ini.

Makanya, waktu pacaran sama Rosa, Jaka gak berani berharap banyak. Dia sempat menyerah. Tapi melihat Rosa mati-matian pasang badan melawan ayahnya sendiri—ditambah provokasi tiada henti dari Milan, Jean, dan Wiksa yang menendang bokong Jaka agar berjuang—Jaka akhirnya memberanikan diri. Dia sadar, Rosa pantas dipertahankan, dan dia juga berhak bahagia.

Jaka akhirnya memberanikan diri menghadap ayah Rosa. Meminta restu baik-baik yang tentu saja... ditolak mentah-mentah. Sampai akhirnya terjadi insiden tragis Jaka kecelakaan parah gara-gara nekat tancap gas mengejar acara pertunangan Rosa dan Jamal.

Sampai detik ini, Rosa masih memilih bertahan. Rosa rela angkat kaki dari rumah mewahnya, memutus hubungan dengan keluarga besar yang sampai hari ini masih gagal move on menolak pernikahan mereka. Jaka dan Rosa tetap berinisiatif memberi kabar tentang pernikahan mereka, kelahiran Jeno, Jake, James, hingga lima tahun lalu si bungsu Eden lahir.

Hasilnya? Ayah Rosa tetap bergeming bagai batu karang. Rosa sering menangis sesenggukan kalau teringat ayahnya, tapi satu hal yang selalu dia tekankan pada Jaka: "Aku gak pernah menyesal memilih kamu."

Mungkin... itu alasan kenapa Jaka siap menyerahkan seluruh nyawanya untuk Rosa.

"Selamat pagi, cintaku..." bisik Jaka begitu melihat kelopak mata Rosa bergerak perlahan.

Rosa tersenyum tipis, matanya masih lengket. "Morning... Jam berapa sekarang?"

Jaka melirik jam dinding di belakang Rosa. "Setengah sembilan."

Diary Keluarga Bahagia - REVISICerita yang bikin terobses. Temukan sekarang