[ 14 ]
•••
"Siapa?" tanya Rosa sekali lagi, menghentikan gerakan pisaunya yang sedang mengupas buah.
"Anaknya Wiksa," jawab Jaka santai.
"Hah?! Wiksa udah punya anak?!" Rosa kaget setengah mati sampai melepas pisau buahnya. "Kapan nikahnya?!"
"Udah lama, Sayang. Wiksa tuh anaknya udah dua. Istrinya udah meninggal, jadi dia udah jadi duda keren sejak 18 tahun lalu."
"Istrinya meninggal? Kapan? Terus dulu dia nikah sama siapa?"
"Kamu ingat Casey gak? Yang anak Hukum gaya kelakuannya kayak pentolan geng motor itu?"
Rosa melotot. "Yang gayanya laki banget itu?! Demi apa?!"
Selama zaman kuliah dulu, Rosa memang kenal Wiksa sebagai sahabat karib Jaka dan Milan—Tiga Sekawan Fakultas Teknik. Tapi beda sama Milan yang humble dan hobi ngelawak, Wiksa ini tipe cowok es batu: dingin, irit bicara, dan kalau Rosa datang cuma bisa menatap datar.
"Seriusan, Yang?" Rosa masih belum memproses fakta bahwa si es batu Wiksa bisa berjodoh sama cewek segahar Casey.
"Dua rius, Sayang."
"Kok Wiksa mau ya sama cewek modelan Casey?"
Jaka terkekeh pelan. "Ya mau lah. Casey kan cantik, Yang. Cewek-cewek modelan Casey gitu yang dulu sebenarnya jadi incaran aku... Untung aja aku keburu ketemu kamu."
Muka Rosa langsung tertekuk 5 sentimeter. "Ooh gitu? Yaudah, lagian kalau dulu kamu gak kecelakaan, aku juga udah jadi istrinya Jamal sekarang!"
Jaka tertawa mara-mara melihat ke-gengsian istrinya. "Iya, iya, canda. Nah, intinya, anaknya Wiksa mau numpang menginap di rumah kita seminggu."
"Bukannya anaknya dua?"
"Anak pertamanya udah berangkat sekolah ke London dua bulan lalu," jelas Jaka. "Wiksa ditugaskan jadi pilot switch di maskapai China selama seminggu. Dia khawatir ninggalin anak bungsunya sendirian di rumah walau ada ART. Apalagi anaknya cewek, jadi—"
"Anaknya cewek?!" potong Rosa, matanya mendadak berbinar-binar seperti menemu harta karun.
Jaka menghela napas. Sudah menduga reaksi istrinya. "Iya, cewek."
"Kelakuannya mirip Casey gak? Like mother like daughter gitu?"
"Enggak," jawab Jaka. "Aku udah sering ketemu Mikael. Anaknya manis, ramah, baik banget. Bisa dibilang Wiksa versi cewek yang pandai bersosialisasi."
Rosa bertepuk tangan girang. "Aaaa lucu banget! Yaudah, aku suruh Mbok nyiapin kamar buat... siapa tadi namanya?"
"Mikael. Dipanggil Mika."
"Iya, Mika! Dia ada alergi makanan gak? Biar sekalian aku kasih tahu Mbak Imes—"
"Gak ada, Sayang, aman."
Jaka cuma bisa menggeleng-geleng melihat antusiasme istrinya. Maklum, Rosa itu dari dulu mengidam-idamkan punya anak cewek, tapi yang keluar malah tiga bujang serudukan a.k.a Triple J. Makanya kalau Ningning, Delia, Wini, atau Karina main ke rumah, Rosa bakal memanjakan mereka habis-habisan layaknya anak kandung.
"Permisi Pak, Bu. Di depan ada tamu anak cewek, katanya neng Mika," panggil Pak Yadi, penjaga rumah.
"Langsung bawa masuk, Pak!" seru Rosa antusias.
Baru saja Rosa dan Jaka hendak melangkah ke depan, Mika sudah berjalan masuk di belakang Pak Yadi yang membawakan kopernya.
Rosa terpana. Benar kata Jaka, muka Mikael itu adem banget. Polos, cantik, ramah, persis Wiksa tapi versi anggun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
