[ 21 ]
(
Typo bertebaran)
•••
"Ceu Wini pingki lala poooooo~!"
Wini memijat pelipisnya yang mendadak nyut-nyutan. "Munaroh, plis. Jangan muncul di depan gue kalau lo masih pake skin default!"
Munaroh cemberut. Dengan malas, hantu itu berputar seperti pemberat gasing. Seketika wujudnya berubah total. Dari yang tadinya berambut lepek berantakan, kebaya berdarah-darah, plus bonus golok tajam menancap penuh estetika di leher, kini berganti menjadi hantu perempuan berpenampilan super rapi. Kebayanya bersih kinclong, rambutnya disanggul anggun.
Anggun banget... sayang statusnya sudah almarhumah.
"Udah ganti kostum kan, Say?" tanya Munaroh manja.
"Plis deh, gue tuh gak lagi nge-cosplay, gue beneran hantu—"
"Mana ada hantu genit kayak lo!" Wini menyapu sisa lip gloss di bibirnya, memasukkannya ke dalam saku seragam sekolah, lalu berbalik. "Nah, kalau glowing begini kan adem mata gue. Sumpah, skin default lo tuh really-really euuwww!"
Wini memang terlahir dengan paket combo indigo super rumit. Dia bahkan tidak ingat kapan pertama kali matanya terdistorsi melihat makhluk tak kasat mata. Yang dia tahu, sejak balita dia sudah menganggap hantu itu seperti tetangga sendiri.
Hanya keluarganya yang tahu rahasia ini. Plus beberapa orang terdekat seperti Om Jaka dan Tante Rosa. Ya iyalah tahu, Wini kan dulu langganan jadi anak titipan di rumah keluarga Khoo kalau orang tuanya sibuk.
Jujur, Wini gak pernah menganggap kelebihannya ini sebagai 'anugerah'. Ini tuh kutukan terselubung!
Bayangkan, kalau orang normal tidur matiin lampu bisa nyenyak, Wini malah panik. Begitu lampu dipadamkan, kamar Wini berubah jadi venue festival hantu dari segala genre! Tapi kalau lampunya dinyalakan, Wini gak bisa tidur tenang juga karena pasti ada aja hantu iseng yang jahil mainin gorden atau niup-niup telinga.
Untungnya, pas kelas 6 SD, Papi Milan dan Mami Soraya memutuskan pindah rumah. Alasan utamanya ya demi kesehatan mental Wini. Rumah lama mereka kan mepet banget sama Rumah Sakit Umum. Percayalah, hantu rumah sakit tuh wujudnya jauh lebih jahanam dan tidak ramah anak!
Di rumah baru inilah Wini ketemu 'benteng pertahanan'. Namanya Mbak Astuti, hantu angkatan 90-an yang kebetulan pemilik sah kamar tidur Wini di masa lalu. Kamar itu dulu mau diubah jadi gudang, tapi setiap kali tukang mau merenovasi, Mbak Tuti selalu bikin kesurupan massal. Walhasil, kamarnya utuh dan disewakan secara gratis untuk Wini.
Mbak Tuti baik banget. Dia yang selalu siaga menjaga Wini dari hantu-hantu liar. Pasukan penjaganya juga lumayan komplit, ada Kang Eman—hantu pos ronda yang hobi ronda malam meski udah mati—dan beberapa hantu lokal lainnya.
Nah, kalau Munaroh ini beda spesies. Dia hantu angkatan 80-an yang dulunya dimakamkan di lahan yang sekarang berubah jadi sekolahnya Wini.
Sebenarnya pas pindah ke sekolah baru, Wini berniat hidup ala NPC normal: pura-pura buta dan pura-pura gak lihat setan. Tapi waktu itu ada hantu jahat yang mau mendorong Wini dari lantai tiga, dan Munaroh datang menyelamatkan Wini bak pahlawan kesiangan yang sukses.
By the way, nama aslinya bukan Munaroh. Wini asal sebut aja, tapi malah keterusan. Munaroh sendiri melabeli dirinya dengan nama keren: Mona. Katanya, dia hantu modern yang sudah teredukasi, up-to-date sama tren, dan hobi ke Inggris.
"Cantik banget sih, Ceu Wini..." puji Munaroh mengambang di atas meja rias. "Mau jalan berdua sama Mas Ganteng yaaa?"
Wini tersenyum miring. "Tahu aja lo."
"Aku ikut dong!"
"Kalau lo mau gue siram pake air yasin yang udah dibacain Tiga Qul plus Ayat Kursi, sok aja ikut," ancam Wini santai.
Munaroh kicep seketika. "Hih... coba saja aku Kristen."
Wini memutar bola mata.
"Lagipula ya Ceu, kata pepatah, kalau anak muda jalan berdua tuh pasti ada setan di tengah-tengahnya!"
"Terus lo mau jadi setannya gitu?"
"Yeaaahh! They're siblings, so what's the problem?" celoteh Munaroh dengan tatabahasa Inggris yang bikin guru bahasa Inggris menangis di pojokan.
"Lo ngomong sekali lagi, gue lemparin kemenyan lo ya!"
"Aaaaah!" Munaroh merengek dramatis. "Aku mau ikut... Masa Ceu Wini punya pacar ganteng gak bagi-bagi sih?"
"Nih hantu dulu waktu masih hidup kerjaannya apaan sih? Doyan beut genitin pacar orang!"
"Aku ikut ya?" Munaroh melayang-layang berputar di depan Wini, mencoba memasang raut wajah imut. Sayangnya, karena matanya agak bolong dikit, Wini malah bergidik ngeri.
"Kagak!"
"Yah..." Munaroh lesu. "Aku kan mau cari pacar juga..."
"Gak ada manusia yang mau pacaran sama hantu, Munaroh!"
"MONA!" potong Munaroh tak terima.
Wini mendengus. "Gue yang ngasih lo nama Munaroh—"
"Tapi aku maunya dipanggil Mona! Munaroh is too ndeso, aku gak mau, gak suka, gelay!"
"Rgggghhh!" Wini rasanya ingin mencakar wajah Munaroh, tapi tangannya cuma menembus angin. "Beneran gue lempar kemenyan lo!"
"Benci banget! Aku laporin kamu ke Komnas HAH ya!" ancam Munaroh sambil bersedekap.
Wini melongo. "Komnas HAH?! Apaan lagi tuh?!"
"Iya! Hak Asasi Hantu! Kamu bisa dituntut pasal berlapis karena berani melempari hantu cantik, imut, dan tak berdosa seperti aku!"
"Kalau lo gak berdosa, lo udah di surga, Nyet! Bukannya di mari gentayangan kagak jelas kayak jemuran hilang!"
Munaroh terenyak, memegang dadanya seolah terkena serangan jantung yang kedua kali. "Ceu Wini jahat banget! Tega!"
"Dih! Hantu kok baperan!"
BRAAAAK!
Pintu kamar Wini mendadak didobrak kasar dari luar!
"ASTAGFIRULLAHALADZIM!!!"
Wini dan Munaroh sama-sama melompat kaget.
Di ambang pintu, Juan berdiri dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat pasi panik.
"Win! Kamu gak apa-apa?!"
Munaroh yang melayang di belakang Juan langsung mengelus dadanya. "Mas Ganteng ngagetin aja deh! Untung jantung Mona udah gak berdetak. Kalau masih berdetak, duh, Mona bisa mati dua kali!"
Wini meringis, melirik sinis ke arah Munaroh yang sibuk centil di belakang punggung Juan.
"Win...?" panggil Juan khawatir.
"Aku... aku gak apa-apa kok," sahut Wini memelan. "Kamu kenapa pake acara ndobrak pintu segala sih?"
"Aku khawatir banget! Dari luar aku denger kamu teriak-teriak emosi..." Juan menatap sekeliling kamar Wini yang sepi. "Kamu... lagi ngomong sama siapa?"
Di belakang Juan, Munaroh menutup mulutnya, terkikik geli sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Wini.
Hantu sialan, maki Wini dalam hati, pasrah setengah mati.
•••
Tbc..
Seperti biasa besti..
*JanganLupaUangParkir😉.
Lot of luv,
Ciao bella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Keluarga Bahagia - REVISI
Fiksi PenggemarMenurut google, keluarga adalah sekelompok orang yang disatukan dengan ikatan perkawinan, darah atau adopsi dalam lingkup rumah tangga yang saling berinteraksi dengan posisi sosial yang jelas. kalau menurut kamu, keluarga itu apa? #picbypinterest #...
