Hai readers....ma'af ya lama nggak update, lagi gantian oleng nih sama si bocil, jadi nggak sempet up deh. Pada kangen nggak sama si Arul???hayo siapa yang kangen???
Ini ngetiknya sambil nungguin bocil yang lagi sakit, tapi nggak pernah mau minim obat. Ada nggak readers yang anaknya sakit susah sekali minum obat kaya bocil ku ini ya?pusing saya lho..
Semoga update an nya menghibur yaa...
****
Seminggu telah berlalu, Arul dan Laila malam itu menginap lagi di rumah keluarga Madjid, mereka sudah janjian mau ziarah ke Makam Bung Karno, Candi Penataran sama langsung silaturrahmi ke rumah kerabat Rifa di daerah Nglegok sepulang dari kendurian Hari Raya Ketupat.
HP Arul yang di taruh di atas gawang pintu kamar Laila tak henti-hentinya berbunyi ketika ditinggal Arul ikut kendurian di mushola. Tentu saja itu sangat mengganggu penghuni kamar dan pasti menarik perhatian serta rasa penasaran Laila, siapa kiranya yang sepagi itu sudah menghubungi Arul.
Segera Laila mencari kursi guna membantu mengambil HP itu dari atas pintu yang tak bisa di jangkau Laila. Dering HP sudah mati ketika Laila berhasil meraih HP yang lupa di silent oleh si pemilik. Laila berusaha membuka HP yang ternyata di password oleh Arul. Cukup lama Laila mencoba membuka kunci HP itu, dari nama, tanggal lahir Arul, pun tanggal lahir Bara, nama samaran Arul semua di coba tapi gagal.
Klik...
Kunci HP terbuka ketika Laila coba memasukkan tanggal pernikahan mereka. Segera Laila membuka panggilan tak terjawab. Ada nama Santi di log teratas dengan 4kali panggilan, kemudian di bawahnya ada nama Ratna, Risa, Ayu dan yang lebih mengheran kan Laila, ada nama Ubay di sana.
Bagaimana bisa Arul beruhubungan dengan Ubay??dilihat dari panggilannya itu masih 3 hari yang lalu, sedang Laila sama sekali tak berkomunikasi dengan Ubay semenjak seminggu sebelum pernikahan Laila dengan Arul. Bahkan nomer Ubay pun Laila tak lagi menyimpannya, tapi kenapa justru Arul malah punya?.
Segera Arul menyalin nomer-nomer yang menelpon Arul tersebut ke HP nya sendiri, adanya nama Ubay membuat hati Laila merasa tak tenang, bukannya Laila masih berharap atau menyimpan rasa pada Ubay, bukan. Justru Laila merasa aneh ketika seorang suami berkomunikasi dengan mantan pacar di belakangnya. Sedang Laila juga yakin itu bukan Ubay orang lain yang kebetulan punya nama yang sama. Karna Laila tidak pernah sekalipun mendengar Arul bercerita punya teman bernama Ubay.
"Pasti ada sesuatu" pikir Laila.
"Assalamu'alaikum Bunda" Bara yang datang dari kenduri bersama Arul masuk kamar tepat setelah Laila mengembalikan kursi plastik yang tadi ia gunakan untuk mengambil HP Arul di atas gawang pintu. Tentu saja Laila sudah mengembalikan HP Arul ke posisi semula, agar Arul tak curiga.
"Wa'alaikum salam Mas Bara..." jawab Laila, lalu Bara meraih tangannya untuk bersalaman dan menciumnya. "Gimana??seru kenduriannya??" tanya Laila
"Selu Bunda...Mas dapat banyak cekali ketupat, ayo maem di depan Bunda, Umy Lian udah nungguin lho.." Bara menarik tangan Laila.
"Oh ya?... ya udah, ayo kita maem sama-sama, mumpung Dek Shaka nya udah bobo' lagi sehabis mandi tadi" jawab Laila lalu mengikuti tarikan tangan Bara yang menuntunnya ke teras.
Dan benar saja, di teras sudah berkumpul semua keluarganya sedang menikamati ketupat dari ember nasi yang sama. "Ni'mat mana yang kau dustakan?" batin Laila melihat pemandangan betapa keluarganya begitu akur, akrab makan bersama sambil bercanda ria. Pemandangan yang setahun sekali bisa mereka rasakan karna jarak dan aktifitas mereka yang tak memungkinkan selalu bisa bersama.
"Hai Ay....ayo, kita tungguin dari tadi lho" panggil Berlian ketika melihat Laila hanya menonton mereka dengan binar mata bahagia.
"Wah....aku jangan ditinggalin dong" Laila tersadar dari lamunannya lalu segera ikut bergabung.
"Mbak La sih kelamaan, ayo...kita lomba makan ketupat ini" kata Awan.
"Ayo Mbak...Mas Zian udah habis 2 buah ketupat ini" sambung Inun.
"Bu'...ambil sayur lagi Bu'...sayur nya kurang ini nanti" kata Madjid.
"Telur gorengnya juga Bu" imbuh Awan. Rifa pun segera ke dapur mengambil sayur lodeh nangka sama kacang panjang, serta 3 telur goreng dalam piring yang sudah di persiapkan sejak tadi pagi. Ada juga serundeng isi kacang tanah dalam toples.
"Alhamdulillah...ini makan bersama yang bener-bener mantap dan nikmat" komentar Halimy. Tentu saja, Halimy yang seorang Agus atau Kyai kecil tak lagi dapat menikmati makan bersama seperti ini, dulu ketika nyantri dan kuliah, dia bisa menikmati nya, tapi setelah menikah dan mulai ikut berdakwah, apalagi sekarang nyalon menjadi wakil bupati, sulit sekali merasakan momentum seperti ini.
Jangankan waktu makan bersama dengan keluarga besarnya, waktu untuk Berlian sang istri dan Adya untuk anaknya pun seolah Halimy tak punya. Jadwal dakwah dan kampanye dari ajudannya begitu padat sekali, sering kali Halimy harus berganti baju di dalam mobil untuk datang di acara satu ke acara yang lain, jangan di pikir dia bisa beristirahat di dalam perjalanannya. SALAH! Sang ajudan akan memaparkan segala macam kegiatan, tipe-tipe orang yang akan di temui di acara berikutnya dan memberi tahu Halimy di acara nanti Halimy harus begini dan begitu. Tak jarang Halimy hanya tidur 2-3 jam dalam sehari itu.
"Iya Mas...setahun sekali ini baru bisa ngumpul kaya' gini" jawab Laila.
"Mumpung bisa kumpul ayo di nikmati, semoga tahun-tahun berikutnya, kita bisa selalu begini" jawab Rifa
"Aamiin" sahut yang lain.
"Gimana kalau kita ke Blitarnya bawa bekal aja, sepertinya seru makan di Candi Penataran sambil lesehan" kata Halimy.
"Seru sih Mas...tapi aku ndak yakin deh bekal kita bakal ke makan disana Mas" jawab Laila
"Kok gitu?" tanya Halimy.
"Ya sekarang aja kita udah pesta begin, nanti di Penataran kita pasti belum lapar, terus nanti di rumah keluarga Nglegok, pasti di suruh makan juga di sana, apalagi di rumah Mbah yang paling sepuh itu...siapa Bu' namanya?"
"Mbah Tisah"
"Iya..dirumah Mbah Tisah itu pasti disuruh makan sama di rumah Pak Najib yang kepala sekolan MAN Kod itu" jawab Laila
"Aya bener Bi...kita nggak usah bawa bekal, nanti dirumah saudara-saudaranya Ibu' itu pasti kita bakal kekenyangan juga" jawab Berlian.
"Oh...gitu...Alhamdulillah klo begitu"
"Mas Halimy sih nggak pernah ikut kita-kita klo pas kesana, ini masih mau yang pertama kali kan ya?" jawab Awan
"Namanya juga sibuk Wan...ini aja aku udah nyempet-nyempetin tau, ajudan ku sudah cerewet nyuruh balik ke Jember, tak bilang 3 hari lagi baru aku mau balik, aku masih capek, mau cooling down dulu mumpung Idul Fitri"
"Sibuk banget ya Mas?" tanya Laila
"Bukan sibuk lagi Ay...bahkan Adya itu, belum tentu seminggu sekali lho ketemu sama abi nya, Mas Halimy ini berangkat sebelum Adya bangun dan pulang pasti jauh setelah Adya tidur" jawab Berlian
"Ya kan udah resikonya Mi...kan aku udah tanya dulu sama Umi kalau aku ikut nyalon konsekuensinya begini, Umi setuju dan ridho, ya aku maju to..." jawab Halimy
"Iya sih Bi...tapi ini benar-benar di luar ekspektasi ku sebelumnya" jawab Berlian yang merasa kehilangan sosok suami dalam rumahnya.
"Sabar Lian....kalian harus saling dukung" jawab Madjid
"Nggeh Pak" Lian tak membantah.
Setelah acara makan bersama selesai, mereka akhirnya berangkat mengawali petualangan hari ini untuk berziarah ke makam Presiden pertama RI, dan bersilaturrahmi ke rumah saudara-saudara mereka di wilayah Blitar Utara.
Dengan dua mobil mereka pergi bersama. Arul, Laila, Shaka, Awan dan Bara ikut di mobil Halimy. Sedang Zian, Inun Madjid dan Rifa naik "Mr Bean" mobil sedan lawas milik Madjid berwarna biru tosca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suamiku Super Pelit
Short StoryLaila Maulidia (27), istri dari seorang Syahrul Ulum (31) atau Laila sering memenggilnya "Mas Arul", harus menghadapi sifat super pelit suaminya, mencoba selalu mempertahankan rumah tangganya demi anak dan juga perasaan orang tua serta mertuanya. Se...
