"Bara mana?? kok nggak kedengeran suaranya?" tanya Arul keluat dari kamar Arul melihat Laila yang tengah menyusui Shaka.
"Ikut Bapak nginep di Pakel, kamu pulang jam berapa semalam?" tanya Laila balik.
"Ndak tau, paling jam 10 apa jam 11, anak-anak ngumpul dirumah emak" bohong Arul.
"Kok tumben nggak ads suara musik seharian? biasanya klo disana kan jedang jedung aja nggak tau waktu?" heran Laila
"Mixernya rusak, ntar mau tak benerin" Arul lagi menemukan alasan. "Aku mau sarapan, kamu masak apa?" tanya Arul mengalihkan omongan, malas kalau di korek-korek terus sama Laila
"Lodeh nangka, pindang sama krupuk, mandi dulu sana...shubuhan dulu" Laila mengingatkan.
"Ck....nggak ada yang lain apa? Makanan apa itu?" sungut Arul.
"Bersyukur masih bisa makan, uang belanja nggak ngasih, banyak aja protesnya" jawab Laila kesal, memang selama Arul pulang, Laila sama sekali tak pernah di kasih uang sama Arul. Laila sama sekali tak merasakan hasil jerih payah Arul kecuali Bara minta di belikan bakso dan uang 300 ribu ketika Laila habis melahirkan waktu itu.
"Kamu tau sendiri aku pulang nggak bawa uang, masih juga nanyain uang belanja" jawab Arul. Padahal uang Arul sudah dia belikan alat-alat sound system dan dia sembunyikan dirumah orang tuanya. Pintar kan??!!!
"Ya sudah klo begitu terima saja, nggak usah rewel" jawab Laila, sambil melangkah ke dapur, meninggalkan Shaka yang tertidur, Laila mencuci peralatan bekas masak yang belum sempat ia cuci karna Shaka menangis.
"Cerewet" sungut Arul berjalan ke dapur lalu mengambil nasi untuk sarapan, lalu membawanya makan di ruang keluarga sambil nonton TV.
"Walaupun nggak mandi mbok ya o cuci muka dulu"
"Crewet banget sih kamu, mending kamu siapin deh semua surat-surat mu untuk masuk PT, ntar siang tak anter ke rumah tekong yang bantu ngurusin kamu kesana"
"Kamu aja yang ke PT sana, kamu aja yang jadi TKI, nggak lihat apa anaknya masih kecil begini, tega banget jadi orang"
"Ck....mumpung masih kecil jadi lebih gampang di tinggal, ntar klo udah gede makin susah, tinggak titipin sama Ibu' aja kan enak, pasti terurus" kata Arul sambil menikmati sarapannya.
"Haaaa..aku kamu suruh jadi TKW, anak dititipin ke Ibu'...trus kamu mau ngapain??" tanya Laila.
"Ya aku kerja lah, aku mau membesarkan dan menambah sound system ku" kata Arul.
"Itu terus yang kamu pikirin, pernah nggak sih kamu mikirin anak? Bara tahun ajaran ini masuk TK lho, kamu udah mikirin belum biayanya, sound aja ya di pikir, pikirin to masa depan anak"
"Kita mati nggak ninggalin warisan itu nggak dosa tau, lagian Bara sekolah kan bisa di yayasan Bapak, ngapain sih susah-susah mikirin biaya" jawab Arul enteng. Shock Laila dengan kata-kata Arul. Jangan kan warisan, buat makan besok aja Laila sangsi ada di pikiran Arul atau nggak. Laila lelah. "Pokok nya siapain surat-surat nya, soal Sakha biar di urus Ibu', ngapain aku mikir bayi yang nggak ada lucu-lucunya sama sekali, toh itu anak ku apa anaknya Dian aku juga nggak tau" gerutu Arul langsung memantik emosi Laila yang telah sampai di ubun-ubun itu meledak.
"Apa maksud kamu ngomong begitu?" Laila menggenggam tangannya sampai memutih ruas-ruas jarinya.
"Kan kamu denger sendiri, kalau itu anak ku, ngapain kamu repot-repot ngasih nama anaknya Dian? pasti kamu ada apa-apa sama Dian kan?" tuduh Arul.
"Kamu keterlaluan, picik sekali pikiranmu" teriak Laila "Aku masih bisa terima kalau kamu sekedar mengabaikan Shaka, tapi kalau kamu mengingkari Shaka anak mu dan malah menuduh aku selingkuh sama teman kamu sendiri, aku bener-bener tidak terima. Pakai otak mu yang sempit itu buat mikir, kamu ke Bali aku udah hamil 7bulan lebih, sebelum ke Bali selain ngajar semua waktu ku full sama kamu, otak mu bisa nemu nggak kapan aku bisa berbuat macam-macam sama orang lain?? bagaimana bisa Shaka anak orang lain?? Kebangetan"
Brak.... ceklek...
Laila membanting pintu kamarnya lalu menguncinya dari dalam. Sakit sekali rasa hati Laila atas tuduhan Arul. Lelaki macam apa sebenarnya yang menikahinya itu?. Bagaiman bisa kata dan tuduhan itu keluar dari mulut lelaki itu.
Prang...
"Perempuan tak tau diri, bikin emosi aja kerjaannya" Arul tak kalah berang menendang piring ke arah dinding yang menyebabkan pecahnnya berserakan. Dia tak sadar diri bahwa justru kata-katanya yang membuat emosi Laila tak bisa terkendalikan lagi. Suara motor yang di gas-gas dengan suara keras lalu menjauh meninggalkan rumah itu. Entah mengapa di balik rasa sakit hatinya, Laila merasa tenang Arul meninggalkan rumah. Shaka yang terganggu dengan suara-suara itu hanya usek-usek aja tapi tak sampai menangis, Laila buru-buru menepuk-nepuk badan si anak dan bocah itu langsung terlelap lagi.
Air mata Laila mengalir begitu saja menatap bayi tak berdosa itu, betapa malang nasibnya, bukan hanya tak di ingin kan ayah nya, tapi juga tak di akui sebagai anak oleh orang yang seharusnya menyayangi sepenuh hati. "Ma'af kan bunda ya Nak, tak bisa memberi keluarga yang bahagia untuk mu" kata Laila mengusap pipi anaknya dengan sayang.
"La.... kamu baik-baik saja?" tanya Solik mengetuk pintu kamar Laila pelan. Ya...Solik mendengar pertengkaran pasangan suami istri itu, pertengkarang di pagi hari itu tentu saja terdengar jelas di dari rumah Solik yang hanya berjarak sejengkal saja dari rumah Laila. "La...."
Ceklek...
"Mbak...." Laila keluar dari kamar lalu menangis dalam pelukan bibi sekaligus sahabatnya itu.
"Sabar ya..." Solik membalas pelukan Laila, menguatkan perempuan di pelukannya itu.
"Sakit sekali rasanya Mbak...bukan hanya mengabaikan Shaka, tapi dia juga meragukan kalau Sakha anaknya...aku ndak terima, apa salah Sakha sama dia, sampai begitu teganya dia bilang seperti itu" kata Laila
"Sabar....suatu saat dia pasti akan menyesali kata-katanya, percaya saja...Gusti Allah nggak pernah tidur La" jawab Solik
"Aamiin" jawab Laila.
"Ya sudah...kamu tenangin diri dulu ya, aku beresin pecahan-pecahan beling itu" kata Solik.
"Ndak usah...biar aku aja, kamu tu lagi hamil lho Mbak" kata Laila.
"Nggak apa-apa...aku bisa kok, klo kamu yang bersihin...yakin deh nanti kamu pasti nangis lagi" tolak Solik.
"Makasih ya, selalu ada buat aku, selalu ngertiin aku" kata Laila.
"Nggak usah lebay gitu" canda Solik biar Laila terhibur, dengan cekatan Solik membersihkan pecahan piring dan gelas yang berserakan itu. Laila ke dapur dan membuat 2 gelas teh hangat untuk mereka berdua. Setelah itu mereka duduk di teras sambil mengobrol menikmati hari minggu mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suamiku Super Pelit
Short StoryLaila Maulidia (27), istri dari seorang Syahrul Ulum (31) atau Laila sering memenggilnya "Mas Arul", harus menghadapi sifat super pelit suaminya, mencoba selalu mempertahankan rumah tangganya demi anak dan juga perasaan orang tua serta mertuanya. Se...
