Hello I'm nada
Gimana? Nungguin gak?
Aduh, jangan langsung pada overthinking baca judulnya nih wkakaka
Semangat!
Hppy Reading!
25. RASA SAKIT DAN CINTA
“Langit cepat bersiap. Jam terbang pesawat sudah mepet waktunya,” ujar Papanya kepada Langit. “Kita harus sudah sampai Las vegas besok pagi,”
“Kenapa mendadak?” tanya Langit yang lebih memilih untuk duduk di sofa panjang rumahnya. Salah satu kakinya diangkat naik ke atas pahanya.
“Kakek kamu menggelar acara pesta keluarga besar. Perayaan keberhasilan perusahaannya,” Wira melirik bingkai foto yang ada disatu meja kecil. Foto keluarga lengkap dengan sepasang suami istri dan dua anak laki-laki. Wira tersenyum melihat foto itu. “Sekalian kita akan bertemu adik kamu disana Langit,”
Langit melihatnya. Ada pancaran kebahagiaan di kedua mata Papanya saat melihat foto saudaranya itu. Kemudian Langit ikut melihat bingkai foto keluarga itu. Mengamati foto kecilnya dulu. Gambar Langit yang sedang berdiri sambil merangkul saudara laki-lakinya yang ada disampingnya. Dia—sedang menangis. Berbeda dengan Langit yang justru sedang tertawa. Lalu dibelakangnya lengkap ada Papa dan Mamanya yang juga sedang tersenyum menghadap kamera.
Dulu rumah ini sangat ramai dan lengkap. Namun sekarang hanya tinggal Langit dan papanya. Langit mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia tidak boleh lemah. Anak lelaki sepertinya ini pantang untuk menangis.
“Papa tau kamu rindu suasana kebahagian itu Langit. Karena papa juga merindukannya,” ucap Wira pada Langit. Kemudian Langit melihatnya dengan pandangan tanpa minat sama sekali.
Langit terkekeh sarkas mendengarnya. “Aneh padahal Papa yang ngancurin. Tapi Papa juga yang kangen.”
“Langit kita udah sering bahas ini berulang kali.”
“Papa tau? Sebenernya Langit udah muak Pah. Langit bener-bener muak sama tingkah laku Papa.” ucap Langit dengan tegas namun masih terdengar kecewa. Mungkin postur badannya masih terlihat biasa saja. Namun mata tajam Langit seolah menjelaskan semuanya.
“Langit gak tau apa maksud Papa. Orang gila mana Pah? Yang tega ngehancurin kebahagiannnya sendiri?” ucap Langit sementara Wira—diam membisu ditempatnya sambil menatap anaknya itu. “Langit gak salah ngomong, kan?”
“Bukannya kebahagian anak adalah kebahagian orang tuanya?” Wira tercenung ditempat. Perkataan Langit barusan memang tidak seberapa. Namun itu saja cukup berhasil menggores perasaannya.
****
Langit memandang hamparan luas kota las vegas dari atap gedung tinggi. Langit bergerak melepaskan kacamata hitamnya menggunakan satu tangannya lalu diselipkan pada kemejanya sendiri. Dengan pandangan kosong Langit memandang pemandangan kota luar negeri yang indah ini dari atas.
“What do you se, bro?” ucapan seseorang, dengan aksen kentalnya tidak membuat Langit menoleh. Karena Langit sudah tahu persis suara siapa itu.
“It turns out do not change,” seseorang itu mendekat lalu berdiri tepat disamping Langit. “Masih tetap dingin,”
Langit terkekeh mendengar orang itu berbicara dengan bahasa Indonesia yang baku. “Its’ too standard.”
KAMU SEDANG MEMBACA
LANGIT
Novela Juvenilsiapa tau tiba-tiba cerita ini viral ehehe Halo I'm Nadaa [Wajib follow author karena cerita akan di privat!] Langit adalah bagian atas dari permukaan bumi yang di sebut, atmosfer. Itulah ya...
