"Kau tidak akan pergi, Megan," ulang Mikail dengan tegas dan penuh penekanan. Tekanan di tangan Megan pun semakin menguat, sengaja menyakiti wanita itu. "Kita baru saja menikah dan lihatlah," pandangan Mikail beralih ke arah Kiano yang duduk di kursi tak jauh dari posisi mereka berdua. Putra kecilnya itu sedang sibuk bermain-main dengan kucing peliharaan yang tadi dikenalkan pada Megan namanya George. Bahkan menceritakan dengan detail segala hal tentang peliharaannya tersebut pada Megan. Saking antusiasnya sambutan Kiano terhadap kedatangan Megan di kehidupan mereka.
"Apa kau akan meninggalkannya di tengah- tengah kebahagiaannya?"
Megan seketika membeku. Tubuhnya di tarik Mikail hingga keduanya terlihat saling berpelukan. Dengan lengan Mikail yang melingkari pinggangnya. Dan berada dengan jarak sedekat ini, membuat Megan menahan napasnya.
"Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengecewakannya lagi, Megan. Sekarang aku suamimu, dan ... aku belum sempat mengatakannya. Tapi ...di detik kau menjadi istriku, segala hal tentangmu akan menjadi urusanku." Mikail memutar wajahnya, sehingga wajah mereka saling berhadap- hadapan. Menyisakan jarak hanya beberapa senti, yang membuat Megan benar- benar kewalahan menerima terpaan napas panas pria itu di wajahnya.
"Segala hal, Megan. Sebaiknya kau mulai sedikit memahami dan menerka-nerka apa yang menunggumu di dalam pernikahan kita."
"A-apa?" Megan tak sempat melanjutkan tanyanya ketika Mikail memutar tubuhnya dan membawanya berjalan ke arah Kiano.
"Kita akan membicarakan pernikahan ini setelah kita pulang," ucap Mikail.
Megan tak mengatakan apa pun lagi. Memasang senyum untuk Kiano yang menyadari kedatangan mereka. Meninggalkan kucing putih di kursi dan langsung memanjat naik ke gendongan Mikail.
"Jadi...apakah sekarang aku bisa memanggil tante cantik dengan panggilan Mama?" tanya Kiano pada Mikail, tetapi kemudian pandangan bocah itu beralih ke arah Megan.
Hati Megan seperti tersentil. Menatap wajah mungil itu dengan mata yang segera digenangi air mata. Pandangannya beralih ke arah Mikail, yang membalas tatapannya dengan tatapan datar.
"Kenapa kau tidak menanyakannya langsung padanya, jagoan?" ucap Mikail dengan kelembutan yang begitu tulus pada putranya. Bahkan pria itu tersenyum.
"Apakah boleh tante cantik?"
Megan mengangguk, bahkan sebelum Kiano menutup mulut, dan tiba-tiba saja Mikail membawa tubuhnya ke dalam pelukan pria itu. Perasaan bahagia membuncah di dadanya. Bahkan Mikail mendaratkan kecupan di keningnya, bergantian dengan kening Kiano. Megan tak yakin apakah Mikail benar-benar menciumnya, ataukah hanya ingin mempertontonkan pernikahan ini pada Kiano. Megan tak peduli yang mana alasannya. Yang ia pedulikan saat ini, dirinya telah kembali ke kehidupan Kiano. Itu sudah menjadi semua yang ia inginkan.
Setelah menghabiskan waktu dengan duduk-duduk dan Mikail menceritakan beberapa kisah masa kecil pria itu yang dihabiskan di tempat ini, yang sebagian besar kisahnya sudah pernah Megan dengar. Ketiganya pun kembali pulang.
Dengan dalih bahwa pria itu dan dirinya harus pergi ke rumah sakit, Kiano naik mobil yang berbeda.
Megan dan Mikail masuk ke dalam mobil setelah mobil Kiano meninggalkan halaman rumah.
"Masuk." Mikail membukakan pintu mobil untuk Megan.
Megan pun naik dan menggeser tubuhnya ke ujung jok saat Mikail menyusul masuk.
"Sekarang kita bicara tentang kesepakatan pernikahan ini." Mikail memulai pembicaraan tepat ketika pintu mobil tertutup. Bahkan mesin mobil belum dinyalakan. Benar-benar tak membuang waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still In Love
RomanceSetelah impiannya tercapai, nyatanya semua pencapaiannya tersebut tak bisa menyempurnakan kebahagiaan di hati Megan Ailee. Ketika ia bertemu dengan mantan suami, Mikail Matteo dan putra yang ia tinggalkan tujuh tahun lalu kembali muncul di hidupnya...
