"Tinggalkan Mikail. Atau aku sendiri yang akan membuatmu kehilangannya."
"Kau benar-benar berengsek, Marcel. Sampai kapan kau akan berhenti menggangguku dan Mikail?"
"Sampai aku merasa puas."
"Aku sama sekali tak peduli dengan kepuasan yang akan kau dapatkan dari penderitaanku."
"Jika kau tidak bisa memberiku kebahagiaan yang kuinginkan, maka kau pun tak berhak atas kebahagiaan itu, Megan. Aku akan memastikan kau merasakan hal yang sama. Seperti yang kurasakan. Setiap derita dan setiap kepedihanku, kau akan ikut merasakannya."
"Tidak. Aku tak bertanggung jawab untuk semua itu. Kau sendirilah yang bertanggung jawab pada dirimu sendiri, Marcel."
"Kau tahu, aku dan Mikail terbiasa berbagi. Prestasi, pencapaian, dan harta, aku tak pernah merasa peduli dengan apa yang dimilikinya. Satu-satunya hal yang paling tidak bisa kutahan kecemburuanku adalah dirimu. Hanya dirimu. Jadi"
Megan mendorong tubuh Marcel, tetapi pria itu menangkap pinggangnya dan mendorongnya ke dinding. Punggung membentur tembok dengan keras, membuat Megan memekik oleh hantaman tersebut dan Marcel memang sengaja memberinya rasa sakit tersebut.
Wajah pria itu semakin mendekat, menipiskan jarak di antara wajah mereka dan berbisik dengan kebenginsannya, "Kau meninggalkan kami berdua? Atau aku akan membuatmu kehilangan Mikail untuk selama-lamanya?"
"Pastikan saja tidak ada anak di antara kalian. Atau aku akan membuat kalian semua berada dalam keraguan yang membunuh kita semua secara perlahan."
Megan mengerjap, mengingat dengan jelas kalimat ancaman Marcel yang sudah tertanam kuat di benaknya. Matanya menatap ketajaman tatapan pria itu yang berusaha menggali penjelasan di balik tatapannya. Megan menarik napas perlahan dan berkata dengan suara berusaha keluar setenang mungkin. "Aku tak ingin membahas hal itu, Mikail."
Mikail terdiam. Megan tak pernah pandai menyembunyikan kebohongan ataupun rahasia darinya. Wanita itu seperti buku yang terbuka baginya, tetapi kali ini. Tembok tinggi Megan sama persis dengan saat ia mempertanyakan alasan wanita itu meninggalkannya tujuh tahun yang lalu.
"Marcel?" Mikail mengucapkan nama saudaranya dengan tanda tanya yang mengambang. Mulai memikirkan kemungkinan kekacauan yang wanita itu miliki salah satu sumbernya adalah Marcel.
Seluruh tubuh Megan menegang, membuang pandangannya dari Mikail dan wajahnya seketika terlihat begitu emosional. "Dan aku tak ingin membahas hal apa pun tentang dia, Mikail," desis Megan tajam. Dengan kemarahan yang menggeliat dari dalam dadanya.
"Sekarang. Kau masih ingat aku akan mengetahui apa pun urusanmu dengannya, kan?" Mikail menekan kalimatnya dengan tegas dan penuh penekanan. Memastikan Megan mengingat dan mendengarkan dengan saksama. "Akan jauh lebih baik jika aku mengetahuinya darimu sendiri, Megan."
Wajah Megan yang membeku mulai memucat. Ia sudah menjanjikan hal tersebut pada Mikail, dan berpikir bahwa itu tak akan menjadi sebuah janji. Melainkan sebuah penghindaran. Demi memikirkan cara untuk mengulur pertanyaan tersebut. Dan ia sudah kehilangan satu hari untuknya memikirkan cara tersebut. Ia masih punya waktu.
Mikail beranjak, mengambil remote AC dan menaikkan suhunya sebelum berkata, "Tiduralah. Besok pagi Kiano sudah boleh pulang jika tak ada keluhan apa pun."
Megan tak mengatakan apa pun. Kedua matanya hanya mengamati Mikail yang meletakkan remote di nakas tepat di sampingnya dan mengatur lampu ke mode tidur. Sebelum kemudian berpindah ke kasur khusus penjaga yang diletakkan di sisi lain ranjang Kiano. Berbaring dengan lengan diletakkan di kening dan matanya mulai terpejam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still In Love
RomanceSetelah impiannya tercapai, nyatanya semua pencapaiannya tersebut tak bisa menyempurnakan kebahagiaan di hati Megan Ailee. Ketika ia bertemu dengan mantan suami, Mikail Matteo dan putra yang ia tinggalkan tujuh tahun lalu kembali muncul di hidupnya...
