Megan berhasil mengurai air matanya dan tak sampai jatuh ke pipinya ketika melepaskan pelukannya pada Kiano. Dengan senyum lebar yang dipenuhi binar kerinduan, kedua telapak tangannya bergerak merangkum wajah mungil bocah itu. Menatap mata bulat Kiano yang jernih. Sejernih air laut seperti milik Mikail.
"Hai, tante sangat senang kau datang ke sini."
"Ya. Kiano juga."
Telapak tangan Megan mengelus sisi wajah mungil Kiano. Seolah butuh meyakinkan berkali-kali bahwa putranya benar-benar bisa ia sentuh. "Apa kau benar-benar Kiano?"
"Ya, tante cantik. Ini Kiano." Telapak tangan mungil Kiano menyentuh punggung tangan Megan. "Apa tante cantik sudah tahu siapa Kiano?"
Megan mengangguk, menahan gumpalan emosi yang memadati tenggorokannya. Menahan tangisan yang hendak terlepas. "Ya, tentu saja. Kau putraku. Kiano Matteo."
Kiano pun ikut mengangguk. "Ya, tante cantik adalah ibuku."
Megan kembali membawa tubuh mungil itu ke pelukannya. Memeluknya dengan lebih erat. "Sayang, mama benar-benar minta maaf. Sungguh minta maaf."
Kiano membalas pelukan tersebut, senyum bahagia menyelimuti wajah mungilnya dengan penuh kerinduan yang kini terpuaskan.
Keduanya saling melepaskan kerinduan dan butuh beberapa saat yang lebih lama untuk mengurai pelukan tersebut.
***
Setelah menghabiskan waktu dengan makan malam yang disiapkan Jelita untuk Megan dan Kiano. Akhirnya kebersamaan tersebut harus berakhir ketika pengawal yang mengantar Kiano datang ke apartemen tersebut mengatakan Kiano harus pulang.
Megan sendiri yang menyadari hari sudah malam dan tak mampu menolak waktu yang sudah ditetapkan oleh Mikail untuk pertemuan singkat yang manis ini.
"Apakah besok tante cantik akan benar-benar menjadi mamaku?" Pertanyaan Kiano tersebut seketika membekukan Megan untuk sejenak. Menatap mata polos itu lekat-lekat dan langsung mengangguk ya.
"Ya, tentu saja, sayang." Megan mengelus rambut kepala Kiano dengan lembut. Senyum mengembang lebar di kedua ujung bibir wanita itu. Apa pun akan ia lakukan untuk putranya tersebut.
Megan mengecup pipi kanan dan kiri Kiano, kening dan kiga hidung bocah tersebut. Dan mengulangnya hingga berkali-kali. Rasanya tak pernah cukup mencium putranya tersebut hanya dengan satu kali.
Dan meskipun mereka menghabiskan waktu yang cukup banyak malam ini, tetap saja Megan merasa kehilangan dan begitu merindukan putranya tersebut, meski Kiano masih terlihat oleh kedua matanya.
Jelita menyambutnya begitu ia kembali baik dan masuk ke dalam apartemennya. Dengan kedua tangan bersilang dada dan tatapan 'sekarang saatnya bicara.'
"Kau benar-benar akan menikah dengan mantanmu?"
Jelita mendesah panjang dan duduk di kursi panjang, rautnya tertekuk kembali. "Hanya itu pilihan yang diberikan oleh Mikail."
"Dan apa kau tahu apa artinya itu?"
Megan menggeleng pasrah.
Jelita mendesah keras. "Mikail tidak akan memperlakukanmu dengan baik, Megan. Dia terlihat sangat membencimu."
"Aku hanya lebih takut menghilang dari hidup Kiano, Jelita. Satu-satunya hal yang kutahu tentan pernikahan ini hanya Kiano. Kau dengar apa yang diucapkannya sebelum dia pergi, kan? Dia bertanya apaka aku besok benar-benar akan menjadi mamanya? Aku bahkan tak perlu berpikir dua kali untuk menjawab ya. Aku memang ibu kandungnya."
Jelita bergerak mendekat, duduk di samping Megan dan merangkul wanita itu. "Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri?"
Megan terdiam, tampak memikirkannya selama beberapa saat dan hanya helaan napasnya sebagai jawaban.
KAMU SEDANG MEMBACA
Still In Love
RomansaSetelah impiannya tercapai, nyatanya semua pencapaiannya tersebut tak bisa menyempurnakan kebahagiaan di hati Megan Ailee. Ketika ia bertemu dengan mantan suami, Mikail Matteo dan putra yang ia tinggalkan tujuh tahun lalu kembali muncul di hidupnya...
