Jaehyun bisa melihat Jihyo yang sedang berjalan keluar dari dalam rumahnya. Gadis itu memakai atasan kemeja putih dengan rok pendek berwarna merah muda.
Dia cantik.
Dari dulu pun Jaehyun mengakuinya, tapi tetap tidak ada yang membuat perempuan polos seperti dia menarik.
Laki-laki ini menyukai perempuan yang bar-bar. Dan kalian pun sepertinya tahu maksudnya setelah mengenal Jaehyun sampai sekarang.
Saat Jihyo memakai sabuk pengamannya, mata Jaehyun sesekali curi-curi pandang pada kaki Jihyo. Mencoba mencari tau bekas sisa-sisa tragedi tadi malam.
"Pagi, Jae. Kamu udah sarapan?" tanya Jihyo basa-basi.
Jaehyun hanya mengangguk dan menjalankan mobilnya.
"Maaf semalam aku matiin teleponnya, aku gak sengaja jatuhin mangkuk ramen. Jadinya, tumpah ke kaki. Tapi, semuanya aman kok," ujar Jihyo.
Sementara Jaehyun pura-pura tidak perduli. Padahal, ini yang dia minta semalam. Sampai ingin gila-gilaan perkara hal konyol seperti itu.
"Lagian kenapa ceroboh lo gak hilang-hilang, sih? Lo mau sampai gak sengaja bunuh diri lo sendiri baru sadar kalau tingkah lo itu gak benar?" Jaehyun menyindir Jihyo.
Selalu tidak sengaja, tidak sengaja, tidak sengaja. Berakhir melukai diri sendiri.
Jihyo merengut kesal. Semalam Jihyo memecahkan mangkuk Mingyu, tapi Mingyu bahkan tak marah tak perduli dengan mangkuknya.
Kalau bisa mengulang waktu, Jihyo lebih baik bertunangan dengan Mingyu. Mulut Jaehyun tidak ada sopan santun terhadap sesama manusia.
"Iya, maaf."
Jaehyun meminggirkan mobilnya dan berhenti. "Coba lihat, mana!" tegasnya.
"Apanya?" tanya Jihyo polos.
"Kaki lo yang kena tragedi karena otak kecil lo," sungut Jaehyun.
Jihyo mencopot flat-shoesnya. Lalu mengangkat sedikit kakinya. "Gak apa-apa, semalam-"
Mata Jihyo melotot begitu Jaehyun mengeluarkan sebuah salep dari sakunya.
"Eh! Aku bis-"
Jaehyun menunduk dan mengoleskan salep itu pada kaki Jihyo.
Ada yang mau tahu bagaimana perasaan Jihyo?
Ya, tentunya ingin meledak.
Sejak kapan Jaehyun perduli dengannya? Yang Jihyo tahu, laki-laki ini memang hanya bisa marah, protes, bentak-bentak dirinya aja. Hal-hal semacam ini biasanya tak ada di dalam kamus kehidupan Jaehyun.
"Jae, kepala kamu gak habis ketimpuk batu, 'kan?" tanya Jihyo setelah Jaehyun kembali menjalankan mobilnya seolah tidak terjadi apa-apa.
Lagipula, dapat dari mana salep ini?
"Menurut lo?"
"Iya, soalnya Jaehyun gak akan kayak gitu ke aku."
"Emangnya gue sejahat itu sama lo?" tanya Jaehyun seolah tak merasa selama dua tahun ke belakang, sifatnya sangat-sangat buruk.
"Iya," jawab Jihyo singkat.
"Tiga hari lagi Mingyu ulang tahun."
Ucapan dari Jaehyun membuat Jihyo menoleh. "Iya, aku udah beli hadiah," balasnya sambil tersenyum.
"Lo tau dari mana?"
"Baca biodata di buku catatannya," tutur Jihyo.
"Ngomong-ngomong, taraaa!" Jihyo menunjukkan casing ponselnya yang transparan. Di belakang ponsel Jihyo ditaruh fotonya dengan Jaehyun saat di photobooth.
Jaehyun juga punya satu, tapi Jihyo yakin Jaehyun sudah menghilangkan atau bahkan membuangnya tepat saat Jihyo memberikannya.
Jaehyun sedikit melirik apa yang diperlihatkan oleh gadis dengan senyum secerah matahari pagi ini. Ada sedikit perasaan senang di dalam diri Jaehyun, senyumnya sedikit merekah karenanya.
"Aku pasang pas sama kamu aja, kalau di sekolah aku pakai fotoku sama Mingyu. Jadi, kamu tenang aja." Jihyo terkekeh pelan.
Begitu mendengar penuturan Jihyo barusan Jaehyun kembali dengan ekspresi datarnya. Kenapa nama Mingyu harus selalu keluar disini.
•••
Seperti biasa, Jihyo selalu memeluk lengan kiri Jaehyun saat berjalan. Mereka masuk menyusuri koridor yang temaram ini.
Konsep pameran seperti biasanya, selalu tenang dengan dinding bercorak cream dan lampu kuningnya seolah menjadi ke khasan tersendiri.
Baik Jihyo ataupun Jaehyun sama-sama orang yang awam dengan seni lukis seperti yang dipamerkan disini.
Lukisan yang diketahui hanya sebatas Monalisa. Itu pun tidak tahu kenapa lukisan itu bisa sangat melejit popularitasnya sampai sering di sebut-sebut dalam setiap kesempatan.
Maaf bila ada penggemar seni, tapi seperti diatas disebutkan kalau mereka memang awam.
"Lukisannya tentang cinta, tapi kenapa abstrak kayak gini ya?" tanya Jihyo.
Mereka memang tidak memakai jasa pemandu yang sudah dengan baik dipersiapkan untuk mereka. Jaehyun yang menolaknya karena akan pusing sepanjang jalan di dongengi oleh pemandu tersebut.
Jaehyun ikut memperhatikan lukisan yang dimaksud Jihyo. "Mungkin pas buat, dia lagi putus cinta," tebak Jaehyun asal.
"Hmm, bisa jadi."
Dan Jihyo berujung salah kaprah karena mendengarkan Jaehyun.
Orang payah bertemu dengan orang payah, bisa memporak porandakan dunia dengan persatuan kebodohan itu.
"Lo suka sama Mingyu?" tanya Jaehyun tiba-tiba.
Jihyo mendongak, menatap Jaehyun yang sedang menatapnya juga.
"Hmm, iya," jawab Jihyo.
"Lo serius sama Mingyu dari kelas sepuluh?" tanya Jaehyun lagi.
Masih tidak yakin, tapi kejadian semalam seolah menamparnya. Sepertinya hubungan mereka sangat baik.
"Selama ini lo ngejar gue buat apa kalau suka sama Mingyu?" Lagi-lagi Jaehyun bertanya. Jihyo bingung harus menjawab apa.
"Aku ... suka sama kamu juga."
Saat itu Jaehyun tertawa kecil. "Maksud lo? Lo mau dua-duanya?"
"Aku suka sama Mingyu, tapi aku lebih suka sama kamu," jujur Jihyo. "Mingyu cuman orang baru, beda sama kamu."
"Masih kamu pemenangnya, Jae." Jihyo mengalihkan pandangannya. Rasanya malu berbicara seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi? Itu memang kenyataan pahitnya.
"Mingyu baik, aku suka dia jaga aku setiap detik. Kamu memang gak semanis Mingyu, tapi hati aku tetap nunjuk kamu. Aku suka Mingyu karena sifatnya, tapi aku gak tau suka kamu karena apa."
Jaehyun hanya diam mendengarkan penuturan Jihyo.
"Gue gak suka-"
"Ya aku tahu, tapi aku tetap suka kamu."
Bukan, bukan itu maksud Jaehyun. Jaehyun tak suka mendengar kebaikan Mingyu dari gadis disampingnya ini.
-TBC-

KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Only
FanfictionJaehyun bilang dia tak akan pernah mengakui Jihyo sebagai tunangannya karena mereka dipaksa bertunangan beralasan bisnis kedua orang tuanya masing-masing. Sementara Jihyo mati-matian mencintai Jaehyun. Entah dengan alasan apa. "Kalau kamu gak suka s...