"Tante, izinin Jihyo untuk ikut ke Jogja ya? Saya janji jagain dia," ucap Jaehyun setelah menurutnya cukup berbasa-basi beberapa kali dengan wanita paruh baya yang tampak sudah sangat rapih di pagi-pagi sekali ini.
"Saya jujur belum berani, Jae. Jogja tempat yang jauh, belum lagi belakangan ini saya rasa dia makin lemah." Wanita itu tampak menunduk sedih.
Ia sangat ingin melepas putrinya pergi ke perjalanan perpisahan sekolah itu. Pasti selama ini putrinya sudah menghabiskan banyak hal di rumah sakit dan jarang sekali pergi ke tempat-tempat baru.
"Ada saya, Tante. Saya serius akan cek dia setiap jam, kalau bisa setiap menit. Ini perjalanan terakhir sama teman-teman sekolah. Setelah ini, kita akan susah ketemu bahkan dengan teman-teman sekolah." Jaehyun masih berusaha membujuk.
Gadis yang dijadikan pusat perdebatan itu bahkan belum turun sejak dua puluh menit setelah Jaehyun meninggalkan kamarnya.
"Nanti saya diskusikan dengan Papanya dulu," final wanita itu. "Ngomong-ngomong kalian pagi begini mau kemana?" tanyanya, seperti mengalihkan topik ke pembicaraan yang lebih segar.
"Belum tau, Tante. Mungkin ... ke beberapa tempat," tutur Jaehyun, agak ragu. Karena sejujurnya dia bingung ingin kemana.
Biasanya ... kalau Jaehyun pergi dengan teman-teman perempuannya, mereka hanya ke club malam, atau ... ke hotel kesukaannya.
Ya, semua bisa menebak, 'kan? Benar, itu yang dilakukan disana.
Tapi, setelah Jaehyun mengadakan analisis apa yang dilakukan Jihyo dan Mingyu selama berpacaran sangat berbanding terbalik dengan apa yang dia lakukan. Mereka tampaknya suka pergi melipir dari kota Jakarta, mengingat beberapa foto di Instagram milik Jihyo cenderung pergi ke tempat-tempat seperti pantai, sebuah jembatan yang ada di daerah Jawa Barat, atau bahkan ke festival-festival yang diadakan di pinggiran kota.
Tentu Jaehyun bingung, bagaimana mereka tau tempat-tempat seperti itu hingga berhasil menonjok hatinya dengan rasa cemburu.
"Di makan, Jae. Jangan cuman minum tehnya aja," suruh wanita paruh baya itu, semakin mendekatkan piring berisi sandwich itu kepada Jaehyun.
Jihyo turun dan langsung duduk di sebelah Jaehyun.
"Mama, Jihyo mau jalan-jalan dulu ya," pamit Jihyo dan mulai menyeruput susu putih yang memang disediakan untuknya.
"Kamu sama Jaehyun tumben banget mau jalan pagi-pagi, biasanya ketemunya Mama lihat-lihat cuman kalau disuruh aja. Lagi ada apa sebenarnya sampai pagi begini?"
Pertanyaan wanita paruh baya itu hanya dibalas senyuman dari Jaehyun, Jihyo melirik Jaehyun karena memang pada dasarnya dia tak mengerti dan malas menarik kesimpulan yang berujung penyesalan kalau tidak sesuai ekspetasi.
"Hmm, rahasia ya? Ya sudah, terserah kalian. Jaehyun, titip Jihyo ya." Wanita itu mulai menaruh sandwich pada piring kecil untuk Jihyo.
"Kamu hari ini bagaimana? Baik atau tidak rasanya?" tanyanya lagi. Jihyo hanya mengangguk. "Baik, Ma. Aku gak apa-apa."
"Tapi belakangan kamu kelihatan pucat."
"Iya, Ma. Tapi gak apa-apa kok," sangkal Jihyo lagi.
"Tenang aja, Tante. Saya janji langsung hubungi Tante kalau Jihyo kenapa-kenapa." Tangan Jaehyun mencubit pipi Jihyo lalu kembali menatap wanita paruh baya itu. "Tapi, pasti dia gak apa-apa. Soalnya sama saya," ucapnya percaya diri.
Jihyo tersenyum kikuk.
Setelah mengganjal perut dengan sandwich, mereka langsung saja menuju mobil milik Jaehyun.
"Kamu masih pakai, Jae?" tanya Jihyo, melihat cincinnya masih tersemat di jari Jaehyun dengan apik.
"Iya lah," jawabnya.
Setelahnya Jihyo hanya mengangguk.
"Bunda beberapa hari yang lalu telepon aku, dia tanya banyak hal tentang kamu. Aku rasa kamu buat salah sama dia, ya? Suaranya agak sedih," tutur Jihyo, sebenarnya sudah agak lama. Namun, sepertinya Jaehyun sudah bisa diajak bicara dengan normal.
"Jangan bahas itu, bisa?" tanya Jaehyun, Jihyo menghembuskan nafasnya dan mengangguk.
"Kamu kenapa, Jae? Tiba-tiba sok begini sama aku?" tanya Jihyo sambil menatap ke pemandangan di luar sana lewat jendela mobil di sampingnya. Lebih tepatnya, ingin menghindari tatapannya dari Jaehyun.
"Memangnya kenapa? Lo gak suka?" tanya Jaehyun balik, lebih seperti tidak suka. "Udah kepelet sama Mingyu lo?"
"Enggak, aku rasa kamu aneh aja."
Hening.
Selama tiga menit mereka sama-sama sibuk dengan pikirannya.
"Gue mau belajar buat nerima lo," ucap Jaehyun pelan.
"Jangan terima aku. Setelah kelulusan kita harus bebas dari hubungan ini, Jae."
Terdengar suara kekehan Jaehyun. "Jadi, lo suka sama Mingyu?"
Kali ini, tak ada jawaban. Jaehyun hanya tertawa kecil. "Gak masalah."
•••
Jam sepuluh pagi, mereka sampai di sebuah kebun binatang yang sangat asri ini. Sepanjang jalan, daun dan pohon bagai tuan rumah yang sibuk menyapa sana-sini dengan paduan angin pagi menjelang siang ini.
Setelah membeli tiket masuk, Jaehyun memakaikan tiket itu di pergelangan tangan Jihyo terlebih dahulu sebelum memakainya sendiri.
Gadis itu hanya diam mendapatkan perlakuan seperti itu, walau ada sedikit rasa berdesir di dadanya. Terutama ketika Jaehyun menggenggam tangannya dan masuk ke bagian binatang herbivora.
"Jae, lihat lucu banget! Mau foto di sini!"
Jaehyun terkekeh sebelum akhirnya mengangguk. "Sana," ucapnya.
Jihyo lantas melongo karena Jaehyun menepi, duduk di sebuah kursi panjang di bawah pohon rindang. Gadis itu menarik niatnya untuk berfoto dan mengikuti Jaehyun.
"Ih, terus yang foto aku siapa?"
"Cari orang lah, jangan manja. Emangnya gue bansur lo?" tanya Jaehyun kesal.
Jihyo merengut, sebenarnya apa yang dipikirkan oleh Jaehyun. Rencana apa kali ini? Tadi baik-baik, sekarang mulai kambuh.
"Ya udah, gak jadi," tutur Jihyo malas dan mengambil posisi duduk di samping Jaehyun.
Hening.
"Aduh, kayaknya gue salah ngomong nih. Terus yang benar kayak apa?"
Jaehyun membatin.
"Harusnya foto sama gue, bukan minta gue jadi tukang foto." Akhirnya terucap juga unek-unek kepala Jaehyun.
"Hah?" Gadis itu melongo, menatap Jaehyun bingung. "Tapi ...-"
"Iya, harusnya foto sama gue. Enak aja lo minta foto sendiri," ucap Jaehyun dengan wajah ditekuknya.
Berhasil membuat Jihyo semakin kikuk.
Demi Tuhan, ini adalah pertama kalinya Jihyo melihat ekspresi semacam itu dari Jaehyun. Biasanya ...
"Kamu kesal? Ngambek?" tanya Jihyo tak percaya.
Jawabannya tidak ada, karena laki-laki itu hanya diam dan tentu sudah sangat jelas bukan?
-TBC-
Sampai ketemu habis aku UAS, doain aku ya Gaes biar UASnya lancar huhu. Maaf ya harus dipotong dulu update-updateannya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Only
FanfictionJaehyun bilang dia tak akan pernah mengakui Jihyo sebagai tunangannya karena mereka dipaksa bertunangan beralasan bisnis kedua orang tuanya masing-masing. Sementara Jihyo mati-matian mencintai Jaehyun. Entah dengan alasan apa. "Kalau kamu gak suka s...