Jihyo bersandar di bahu Jaehyun, Jaehyun pun tak menolaknya. Mereka hanya sama-sama diam
Merenungi apa yang mereka lakukan beberapa menit lalu dan tentang bagaimana kue cokelat itu kini sudah tak berbentuk berciuman dengan tanah.
Otak Jihyo dipenuhi bagaimana cara mendapatkan kue cokelat di malam hari yang sudah larut ini. Toko kue macam apa yang masih menerima orderan larut malam lewat ojek online.
Sementara Jaehyun memikirkan rasa malunya, tadi sepertinya dia mengucapkan beberapa hal yang sebenarnya tidak diperlukan.
"Gue gak bisa ... lihat lo sama dia."
Malu rasanya, Jaehyun ingin kembali menarik ucapannya.
"Kuenya jatuh, aku harus bilang apa ke Mingyu? Kejutan ulang tahun tanpa kue, itu aneh"
Hujan tanpa aba-aba turun di langit Bandung yang memang sejak sore sudah berawan. Yugyeom, Mina, Jungkook, Lisa, dan Rosè berlarian masuk ke dalam Villa.
Tapi, berbeda dengan yang lain yang sudah masuk ke kamar mereka. Rosè masih di teras Villa itu. Menatap jauh pada pagar yang masih belum ada tanda-tanda kedatangan Jaehyun.
Rosè tertawa melihat lelucon yang diucapkan oleh Yugyeom. Namun, matanya melirik Jaehyun yang tengah menaruh tangannya di saku dan berjalan keluar.
Sejujurnya Rosè ingin bertanya Jaehyun akan kemana, tapi melihat pakaian Jaehyun yang biasa saja dan tak membawa motor, bisa dipastikan laki-laki itu hanya ingin berjalan-jalan disekitar sini.
"Lo dimana hujan-hujan gini, Jae?" gumam Rosè, ada nada khawatir yang terselip digumamannya.
Baik Jihyo dan Jaehyun akhirnya mundur, terpojok pada pondok itu agar tak kena tampias. Mereka sama-sama duduk ditengah, berdekatan karena angin yang pastinya membuat air hujan itu tampias di kanan dan kiri juga.
Kue cokelat itu bahkan kini lebih malang nasibnya.
Jaehyun duduk bersila sementara Jihyo memilih menekuk kakinya.
"Mingyu gimana, ya?" Jihyo belum membaca pesan dari Mingyu di ponselnya, sehingga tidak tahu laki-laki itu sudah kembali ke Villa lewat jalan memutar.
Jaehyun malah memutar matanya. Mingyu masih dipikirkan oleh gadis ini sementara nasib mereka tak lebih baik terjebak di pondok kecil dengan penerangan terbatas ini.
"Setelah lulus nanti, kalau kita lanjut ke jenjang yang lebih serius gimana?"
Pertanyaan dari Jaehyun, sukses membuat Jihyo membulatkan matanya dan menatap laki-laki yang tampak santai itu.
"Menikah?" tanya Jihyo. Jaehyun mengangguk menanggapi. "Gue takut setelah lulus ada pemaksaan lagi. Kayak itu," tuturnya, sambil menunjuk cincin di jari manis Jihyo.
Gadis itu menggeleng. "Gak boleh. Kita gak boleh sampai sana."
Malah, Jaehyun yang kini tertampar dengan perkataan Jihyo.
"Kenapa? Lo bukannya suka sama gue?" tanya Jaehyun mendesak, seolah sangat minta di jawab.
"Aku rasa ini obsesi, Jae. Aku gak cinta sama kamu."
Deg.
Jaehyun terdiam, bingung harus memasang ekspresi apa. Apakah senang akhirnya Jihyo sadar akan apa yang dilakukannya selama ini? Atau malah ... tidak suka?
Jihyo tersenyum menatap Jaehyun. "Maaf, aku baru sadar. Mulai sekarang, aku janji gak akan repotin kamu lagi dengan tingkah aku. Kita ketemu kalau disuruh orang tua kita aja, aku janji gak akan datang ke rumah kamu pagi-pagi buta."
Tak ada tanggapan dari Jaehyun, laki-laki itu hanya menatapnya dengan tatapan datar seperti biasa.
Bolehkah Jaehyun meminta Jihyo untuk melakukan hal-hal anehnya seperti biasa untuk terakhir kalinya malam ini? Mumpung hanya mereka disini, hanya mereka berdua.
Tapi setelah itu benar-benar tak ada percakapan dari mereka.
"Jae, maaf aku basah gini masuk ke rumah kamu. Ini kamu makan ya nanti, aku pulang dulu."
"LO NGAPAIN SIH KESINI HUJAN-HUJANAN? NANTI KALAU SAKIT, GUE YANG DIOMELIN AYAH!" Jaehyun berteriak dan mencengkram bahu Jihyo.
Jihyo meringis. "Maaf, tapi aku udah kebiasaan."
Persetan dengan kebiasaan, Jaehyun melempar kotak yang ada di meja makan.
"Sekarang kalau begini lo udah paham, 'kan? Gue gak butuh makanan dari lo, bahkan gue masih bisa hidup tanpa makanan sampah dari lo."
Jaehyun melirik Jihyo yang tampak tenang menatap lurus ke depan.
"Maaf, gue menyesal."
Hujan tak kunjung reda, dengan sunyinya malam membuat Jihyo mengantuk dan berujung tertidur dengan kaki menekuk menghadap Jaehyun.
Jaehyun pun sama, dia bahkan lebih dulu memasuki alam mimpinya dibanding dengan gadis disampingnya.
Sekitar jam satu malam, hujannya sudah berhenti bersamaan dengan Jaehyun yang terbangun. Senyumnya terukir begitu melihat Jihyo yang tertidur dibahunya.
Seolah melupakan ucapannya semalam yang tampak ingin pergi meninggalkannya.
Tapi, Jaehyun tidak tega membangunkannya untuk kembali ke Villa. Alhasil, Jaehyun menggendongnya dan menaruh Jihyo di kasur kamarnya.
Beruntung semuanya sudah tidur di kamarnya masing-masing.
Tangan Jaehyun sibuk merapikan selimut untuk Jihyo dan merebahkan dirinya dengan menghadap kearah Jihyo. Masa bodoh kalau ia ketiduran dan besoknya diwawancara oleh semua temannya.
"Kenapa lo mau lepasin gue tepat setelah gue berniat biarin lo masuk?" tanya Jaehyun dengan suara setengah berbisik.
"Lo udah capek kejar gue, ya?" Jaehyun tersenyum dan mengelus pipi Jihyo perlahan. "Siapa suruh jatuh hati sama bangsat kayak gue."
"Entah itu obsesi atau bukan, gue gak perduli. Lo suka sama gue, itu yang gue tau."
"Lo tahu? Gue gak akan bisa ngomong kayak gini pas lo sadar. Gue ... terlalu takut lo pergi karena sifat monoton yang gue punya."
"Enyah lo dari kehidupan gue! Pergi yang jauh!"
"Pergi lo!"
"Jangan pergi, gue gak akan izinin lo."
Jaehyun terkekeh kecil. "Sekarang, malah gue yang kayak terobsesi sama lo."
•••
Jihyo terkejut begitu melihat Jaehyun di sampingnya, ingin berteriak namun Ia berujung akan membangunkan semua orang.
Akhirnya Jihyo melipir dan pergi pelan-pelan dari kamarnya.
Dia tidak boleh ketahuan tidur bersama Jaehyun.
Alhasil, Jihyo pergi ke kamar Mingyu.
Namun, hal yang pertama Jihyo lihat ketika masuk adalah. Lampunya masih menyala dan Mingyu duduk di pojok kasur dengan jendela kamar yang masih terbuka.
"Gyu? Belum tidur?"
Mingyu menoleh, tersenyum begitu melihat Jihyo dengan rambut tak tertata dan mata yang masih setengah terbuka. Gadis itu tampak baru bangun tidur.
Entah sekadar tidur, atau melakukan hal yang lain. Mingyu akan menutup matanya dari apapun fakta itu.
-TBC-

KAMU SEDANG MEMBACA
Forever Only
FanfictionJaehyun bilang dia tak akan pernah mengakui Jihyo sebagai tunangannya karena mereka dipaksa bertunangan beralasan bisnis kedua orang tuanya masing-masing. Sementara Jihyo mati-matian mencintai Jaehyun. Entah dengan alasan apa. "Kalau kamu gak suka s...