Bab 22 : Tawaran dan Pengakuan

245 59 10
                                    

"Kita akhiri aja semuanya setelah lulus, Jae. Kita terjebak di hubungan ini hanya perkara bisnis. Dari pada begitu, di masa depan kita bisa kerja sama aja sebagai rekan kerja kayak Papaku sama Ayahmu."

Jaehyun masih terdiam, menatap Jihyo yang juga menatapnya tanpa suara lagi.

Ada banyak pertanyaan yang ingin Jaehyun tanyakan pada Jihyo. Kenapa dia ingin menyudahinya? Apa dia sudah tidak suka lagi dengannya? Tapi, kenapa?

"Hujan lagi," ucap Jihyo sambil menatap keadaan di luar mobil. Jaehyun menarik lengan Jihyo, meminta gadis itu kembali menatapnya.

"Lo begini karena apa, sih? Lo benar-benar bulol sama Mingyu? Gue kenal lo lebih lama daripada dia, dia cuman orang-"

"Jae, sakit," rintih Jihyo menatap pergelangan tangannya yang di genggam erat oleh Jaehyun. "Memangnya kenapa? Bukannya seharusnya kamu senang? Aku udah sadar dari kegilaan aku selama ini sama kamu."

"Mingyu? Lo sadar karena dia?" tanya Jaehyun.

"Iya! Aku sadar aku gak suka sama kamu, kamu gak ada apa-apanya dibanding dia. Kamu gak pernah sebaik dia, atau seenggaknya jadi tunangan yang baik buat aku. Itu yang buat aku bertanya-tanya kenapa aku tahan sama sikap kamu, tapi aku sadar setelah itu ... yang aku lakuin selama ini cuman karena terobsesi ama kamu, Jae! Itu bukan cinta atau rasa suka!"

Jaehyun segera melepaskan tangannya dari pergelangan tangan Jihyo, kemudian mulai kembali menjalankan mobilnya.

Jihyo menoleh pada Jaehyun. "Aku gak suka sifat kasar kamu yang begini, Jae."

Setelahnya mereka hanya diam, mobil milik Jaehyun kembali sunyi dengan berakhirnya perdebatan mereka. Jihyo memilih menatap ke luar, sementara Jaehyun fokus mengendarakan mobilnya walau pikirannya masih melayang-layang entah kemana.

Jaehyun sudah berhasil memarkirkan mobilnya, kemudian tangannya mulai meraba-raba payung yang ada di belakang.

Jihyo sudah membuka pintu mobilnya dan Jaehyun segera menarik tangan Jihyo. "Gila lo? Di luar masih hujan, tunggu gue."

Jaehyun keluar dari dalam mobil kemudian membuka pintu mobil di sebelah Jihyo dan menarik gadis itu agar masuk ke bawah payungnya.

"Gak usah, aku-"

"Nanti kalau lo sakit siapa yang mau tanggung jawab?" tanya Jaehyun sekaligus memotong ucapan Jihyo.

Mereka berjalan masuk ke dalam gedung yang terlihat mewah itu. Setelah masuk, mereka langsung diarahkan ke meja yang sudah di reservasi oleh Ayahnya Jaehyun.

"Wah, cantik pemandangannya," ucap Jihyo. Berdiri di sudut ruangan VVIP dengan pemandangan ibu-kota dari lantai dua puluh.

Jaehyun tersenyum dan duduk di kursi meja makan itu. Melihat Jihyo sibuk memotret pemandangan di depan sana.

"Lo ikut ke Jogja?" tanya Jaehyun, masih menatap bagian belakang Jihyo yang tampak sibuk menatap gemerlap cahaya dari gedung-gedung pencakar langit.

Gadis itu sudah tinggal di Jakarta sejak kecil, tapi masih tampak mengagumi hal-hal semacam ini.

"Hmm, kalau dibolehkan sama Papa Mama." Jihyo berbalik dan berjalan ke kursi di depan Jaehyun dengan makanan pembuka yang baru disajikan.

"Kamu ikut?" tanya Jihyo basa-basi.

"Jelas, ini perpisahan sekolah. Kapan lagi gue bisa ikut beginian sama temen-temen SMA. Anggap aja, terakhir kalinya."

Jihyo tampak menganggukkan kepalanya. "Benar, tapi aku takut gak dibolehkan sama Papa Mama. Soalnya jauh."

"Ada gue, bilang aja gue ikut. Gue yang jagain lo."

Detik itu Jihyo menatap Jaehyun dengan tatapan terkejutnya. Bicara apa Jaehyun ini? Menjaganya? Bukannya Jaehyun selalu risih berdekatan dengannya dan berujung gadis itu terkena semprot karena terlalu merepotkan.

"Apa?" ulang Jihyo, merasa itu hanyalah halusinasi.

"Gue yang jaga lo, karena lo tunangan gue."

Bahkan kali ini Jihyo lebih terkejut.

"Jae? Kamu kenapa?"

Habisnya, Jihyo merasa ada yang tak beres dengan laki-laki di depannya ini.

"Apa? Memang benar, 'kan?" tanya Jaehyun tanpa perduli dan sudah memakan roti di depannya.

"Lo mau ke Jogja, 'kan? Itu pasti jadi yang pertama buat lo, soalnya gue yakin keluarga lo gak akan bawa lo pergi jauh-jauh tanpa pengawasan ketat. Yang kemarin di Bali, itu pasti karena gue," tutur Jaehyun kepedean.

Tapi sepertinya itu memang benar, Jihyo pun setuju dengan pendapat Jaehyun itu. Dia dibolehkan pergi ke Bali karena bersama dengan Jaehyun meski itu adalah acara bisnis. Namun, sepertinya tanpa Jaehyun, Papanya juga akan menolaknya dengan keras.

"Aku ... gak yakin," ucap Jihyo, setelahnya menghembuskan nafasnya.

Setelah disana sekitar satu jam, mereka memutuskan untuk pulang. Sebelum Jihyo turun dari mobil Jaehyun, laki-laki itu kembali menarik tangannya.

"Lo masih jadi milik gue, 'kan? Lo jangan macam-macam sama orang lain, karena gue gak suka milik gue disentuh sama yang lain."

"Kamu tuh kenapa sih, Jae?" Jihyo akhirnya bertanya juga.

"Cincin itu masih ada di jari lo, artinya lo masih milik gue. Jadi, gue gak akan maafin pengkhianatan apapun dari lo. Terutama dari lo sama Mingyu."

Jaehyun mengecup pipi kanan Jihyo, berhasil membuat gadis itu terdiam seribu bahasa dengan mata yang terbuka lebar. Laki-laki di sampingnya malah memamerkan senyum tipisnya, menyentuh sudut bibir Jihyo dengan ibu jarinya. Gadis itu segera menoleh kearah lain, menghindari kejadian yang tidak-tidak.

"Gue gak akan lakuin hal itu kalau lo gak mau."

"Tapi ... gue kasih lo kesempatan." Jaehyun menjeda ucapannya sambil menatap Jihyo yang tampak tak nyaman. "Balik ke gue, karena di hati lo pasti masih ada gue."

"Gue gak kasih kesempatan ini cuma-cuma."

"Setelah ini, mungkin gue bisa jadi Jaehyun yang selama ini lo dambakan?"

Apa-apaan? Kenapa Jaehyun semakin aneh.

"Jujur, gue benci lihat lo sama Mingyu." Tangan Jaehyun menepuk pucuk kepala Jihyo dengan pelan beberapa kali.

Berhasil membuat Jihyo merasakan jantungnya kembali berdebar kencang.

Sial, sudah cukup! Tiga bulan lebih rasa itu tak kembali, namun kini kembali lagi hanya dengan ucapan yang diyakini Jihyo hanya janji manis.

Dia hanya ingin membuat Jihyo semakin patah hati setelah menaruh harapan lebih.

"Jae, jangan bicara macam-macam!" tegas Jihyo kemudian menarik dirinya segera keluar dari dalam mobil Jaehyun.

-TBC-

Forever OnlyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang