Bab 26 : Kembali Ke Tempatnya

217 53 12
                                    

Jaehyun membuka pintu rumah sakit itu, Mingyu berdiri di dekat jendela, menikmati angin pagi hari dari lantai enam ini. Cahaya matahari pagi mengelus lembut wajah laki-laki dengan perban di kepala dan tangan yang tampak seperti mumi.

"Kenapa lo?" tanya Jaehyun, angkat bicara dan duduk di ranjang rumah sakit, menatap Mingyu yang tampak tidak perduli atas kehadirannnya.

"Tangan gue patah, kepala gue dicium aspal." Mingyu menerangkan dengan setengah hati, saat ini dia sedang tidak ingin bertemu dengan Jaehyun.

Semenjak kejadian pondok itu, Mingyu memilih menghindar dari Jaehyun karena Ia merasa tidak ada apa-apanya dan selalu tersadar akan Jihyo adalah milik orang lain saat melihat wajah sahabatnya itu.

Suatu fakta yang ingin dia hindari, selamanya.

Kekehan yang terdengar mengejek dari belakangnya memenuhi ruangan bercat putih yang semula tenang.

"Nih, gue bawain bubur ayam. Lo belum makan, 'kan?" tanya Jaehyun. "Maklum, lo kan juga ditendang dari keluarga. Pasti gak ada yang jenguk atau perduli."

Mingyu hanya diam.

Yang Jaehyun ucapkan memang benar, tidak, fakta itu berlaku untuk tongkrongan mereka. Nyatanya, mereka semua hanya orang-orang yang punya masalah dengan keluarganya masing-masing.

Mulai dari perceraian, kekerasan rumah tangga, harapan orang tua yang berlebihan, sampai ditendang keluar dari keluarga.

"Gue habis dari rumah Jihyo."

Suara Jaehyun yang kali ini berhasil membuat Mingyu menoleh, penasaran dengan apa yang Jaehyun lakukan disana. Berpura-pura lebih tepatnya.

"Menginap, di kamar yang sama. Lo bisa tebak apa yang terjadi kalau perempuan sama laki-laki satu kamar, 'kan?" tanya Jaehyun, sengaja menambahi bumbu-bumbu agar Ia menang telak.

"Tutup mulut setan lo, Jae." Mingyu menatap nyalang, menghunus manik mata Jaehyun yang tampak tetap tenang.

"Gue gak tahu kalian pacaran betulan atau enggak, gue juga gak tahu lo udah tahu tentang pertunangan gue ama Jihyo atau belum. Tapi, gue mau kasih peringatan."

"Dia tunangan gue, dia gadis gue, dan dia milik gue. Lo? Cuman alat yang dipakai gadis gue untuk dapat perhatian dari tunangannya, yaitu gue. Jung Jaehyun."

Senyum mengejek Jaehyun membuat Mingyu semakin murka.

"Peringatannya adalah mulai sekarang jaga jarak lo dari Jihyo, lo selalu tahu kan kalau gue gak pernah suka sesuatu yang punya gue disentuh sama orang lain yang gak jelas asal-usulnya?" tanya Jaehyun.

"Keluar dari kamar gue, Jae. Gue di sini sebagai pasien, bukan untuk sebagai tersangka pembunuhan pakai pisau buah. Ucapan lo omong kosong semua. Masalah Jihyo, gue yakin lo tertarik buat mainin dia kan? Itu alasan kenapa gue dari awal gak pernah mau kenalin dia ke brengsek kayak lo semua." Mingyu berpura-pura tak tahu apa-apa.

Walau hatinya sudah sangat berantakan, otaknya yang sudah berhenti berpikir, mendengar bagaimana Jaehyun mengakui gadis bernama Jihyo itu. Jihyo sudah menang, mungkin gadis itu akan sangat senang melihat perjuangannya mencapai titik dimana Jaehyun mengakuinya seperti ini.

Tapi ... tidak dengan Mingyu.

"Jangan lupa buburnya, setelah sembuh jangan pernah lagi ganggu gadis gue. Kalau bisa, mulai dari sekarang. Menjauh dari Jihyo, enyah dari kehidupannya."

Jaehyun menghampiri Mingyu, menepuk bahu laki-laki itu dengan senyuman menyebalkannya.

"Dan ... jangan pernah mimpi lo bisa menang di hati dia. Jangan pernah mimpi untuk rebut Jihyo dari gue. Apapun hubungan kalian, masih gue pemenangnya." Jaehyun menunjukkan tangan dimana jari manisnya tersemat sebuah cincin polos berwarna silver miliknya dan melenggang pergi setelah berhasil menjatuhkan mental Mingyu.

Sementara setelah kepergian Jaehyun, Mingyu masih berdiri di tempat yang sama namun sudah menutup jendelanya karena matahari yang makin terik.

Harapannya, Jihyo akan menghubunginya.

Tapi ... ternyata malah orang lain. Wonwoo.

"Dimana?"

"Di Rumah, kenapa?"

Jihyo menatap ponselnya dengan kesal, Mingyu dari semalam tak ada kabar, sekarang saat di telepon malah sedang berada dalam panggilan lain. Memangnya dia kemana? Tadi, Jihyo sudah datang ke kelasnya. Tapi di sana tidak ada Mingyu.

Tapi Jihyo memang tidak menanyakan keberadaannya, mungkin nanti saat pulang sekolah Jihyo akan kembali ke kelas laki-laki itu.

•••

"Permisi, ada Mingyu gak?" tanya Jihyo pada teman sekelas Mingyu.

Perempuan itu tampak mengerutkan alisnya, melihat Jihyo aneh. "Loh, lo gak tahu? Mingyu kemarin kecelakaan, dia lagi di rumah sakit sekarang. Katanya sih, dia patah tulang ringan di tangan kanannya?"

Lawan bicaranya itu heran, bagaimana bisa Jihyo yang pacarnya tidak tahu menahu soal keberadaan dan kondisi pacarnya itu.

Jihyo menjatuhkan rahangnya, pikirannya sudah melayang kemana-mana. Berita apa ini? Kenapa Jihyo tidak tahu apa-apa? Kenapa Mingyu sama sekali tak mengabarinya?

"Apa? Patah?" tanya Jihyo yang langsung diangguki oleh teman sekelas Mingyu.

Detik itu Jihyo langsung berjalan cepat menuju gerbang sekolahnya. Sambil menghubungi Mingyu yang sampai sekarang masih belum membalas pesannya.

"Halo?"

"GYU! KAMU KENAPA?" teriak Jihyo murka, ada rasa bersalah di hatinya kenapa dia tidak mendengar kabar ini sekaligus kecewa kenapa hanya dia yang tidak diberitahu?

"Apa? Oh ... gak apa-apa, cuma-"

"Kamu di mana? Kamu keterlaluan gak kasih tau aku apa-apa. Emangnya aku ini apa? Aku kayak orang bodoh nanya-nanya ke teman sekelasmu." Jihyo mengoceh dengan cepat, rasa khawatir sekaligus marah tersalur dalam ucapannya.

"Di Karya Medika, gue di sini. Lo gak usah ke sini ya. Matahari udah mau tenggelam."

Mingyu tersenyum getir, Ia sangat ingin bertemu dengan gadis itu, tapi sepertinya memang sudah saatnya memberi Jihyo jarak. Agar dirinya dapat terbiasa dan tidak terlalu terpukul setelah melihat hubungan Jaehyun dan Jihyo terekspos.

"Gue udah baikkan, semuanya baik-baik aja."

Mingyu mematikan ponselnya, nanti Ia akan beralasan kalau suster datang untuk membawakan obat dan terpaksa harus mematikan panggilannya.

Sudah cukup, cepat atau lambat gadis itu akan ditarik pergi dan menjauh oleh Jaehyun.

Semuanya akan kembali ke tempatnya masing-masing.

-TBC-

Forever OnlyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang