4. Dicap Pembunuh

128 10 0
                                        

"Kalian semua boleh mencap aku sebagai pembunuh, tapi kalian harus ingat satu hal, hanya Reksa yang boleh menyakiti hatiku"
Tari

****
Hari ini Tari dan Reksa sudah masuk kesekolah, setelah satu hari libur, Tari juga akan  menyandang sebagai murid baru di SMU Dirlangga. Kini perempuan yang berstatus sebagai Istri Reksa itu, tengah mempersiapkan sarapan buat suaminya dengan tubuh yang masih mengenakan seragam SMU Segara.

Tari sudah sarapan duluan, karena dia tahu jika Reksa pasti engan sarapan dengan wanita yang sudah dicap sebagai pembunuh saudaranya. Jam sudah menunjukan pukul 06:15 tapi belum ada tanda-tanda Reksa keluar dari kamar.

Tari menaiki anak tangga dengan pelan, dia berniat untuk membangunkan Reksa, tapi sebelum Tari masuk kedalam, pintu kamar lebih dulu dibuka oleh Reksa yang berhawa dingin.

Tari menunduk didepan pintu kamar Reksa, pria itu berjalan kebawah menuruni anak tangga tanpa menghiraukan istrinya yang terdiam didepan pintu kamar.

Reksa berjalan kemeja makan, di sana sudah ada nasi goreng spesial, segelas ai putih dan segelas susu.

Reksa menarik kursi, dia mendudukan bokongnya dikursi didepan sepiring nasi goreng yang sudah disiapkan Tari.

Tangan Reksa meraih sendok, dia menyedok nasi goreng lalu memasukannya kedalam mulut, Reksa mengunyah sembari menikmati.

"Enak juga masakan perempuan laknat itu" gumam Reksa pelan yang terus menyantap sarapan itu hingga ludes tak tersisa.

Setelah Reksa selesai sarapan, Tari pun keluar kamar dengan sangat rapih, sudah ada tas berwarna hitam yang tersampir dipunggungnya. Tari lama keluar kamar bukan karena dia menghindari Reksa, hanya saja kamar lelaki itu sangatlah berantakan, dari buku berserakan dimana-mana, tempat tidur yang sama sekali tidak rapih, handuk yang Reksa lempar kesembarang arah, bahkan baju dan celana dalamnya berserakan didalam kamar mandi.

"TARI, TARI" teriak Reksa menggema diruang itu.

Tari berjalan dengan buru-buru kearah Reksa yang kini berdiri didepan pintu utama. "Iya, ada apa kak?" Tanya Tari lembut.

Reksa menatap Tari dari ujung kaki sampai ujung kepala, terdapat luka memar dibagian kening Tari akibat benturan tadi malam. Sebenarnya gadisnya itu sangat cantik tapi sayang hati Reksa sudah dipenuhi dengan kata Dendam.

Reksa melemparkan kunci mobil dengan Tari, dengan refleks Tari langsung menangkapnya. "Lo bisa bawa mobil?" Tanya datar.

"Bisa kak" jawab Tari dengan sangat lembut.

"Lo sekolah bawa mobil, gue ogah berangkat sekolah sama pembunuh, gue ngak mau tahu, jam 07:00 lo udah sampe kesekolah, kalau ngak lo tahu akibatnya" ancam Reksa yang nada sangat dingin.

"Iya kak" Tari menatap punggung Reksa dengan kuyu, kapan lelakinya itu bisa bersikap baik terhadapanya.

"Mungkin memang benar, aku ngak bisa terlalu berharap sama kamu" batin Tari meneteskan air matanya.

*******
Semua murid sudah berkumpul dilapangan tanpa terkecuali, mereka juga tidak tahu kenapa Reksa mengumpulkan mereka diwaktu sepagi ini, tidak ada satu pun murid yang membantah, karena SMU Dirlangga adalah sekolah yang sudah terkenal akan skilnya, yang masuk ke sana juga anak dari kalangan menengah ke atas.

Reksa anak yang sangat ditakuti semua murid, selain anak pemilik sekolah Reksa terkenal sebagai ketua geng motor yang bengis, apalagi jika ada yang melanggar perintahnya, hari itu juga dia langsung menerima surat pengeluaran.

Jam sudah menunjukan pukul 6:55, lima menit lagi semua orang akan tahu apa yang ingin disampaikan Reksa sebenarnya.

Reksa sudah dari tadi tiba disekolah, dia masih berada di atas motor yang terparkir dikhusus untuk anak geng motor Serigala.

Setelah beberapa lama Reksa menunggu, akhinya mobil yang dibawa Tari sudah memasuki gerbang SMU Dirlangga.

Tari turun dari mobil, dia sudah mendapati Reksa dan keempat temannya yang menatap dirinya dengan sangat dingin.

"Dia sekolah disini?" Tanya Deren pada Reksa.

Reksa menaikan alisnya sebagai jawaban, dia berjalan kearah Tari, lalu menarik pergelangan tangan Tari dengan kasar.

"Kita mau kemana?" Tanya Tari lembut.

"Ikut aja bangsat" ketus Reksa, Tari hanya diam dia tidak ingin jika Reksa memperlakukan dia layaknya bukan manusia disekolah ini.

Mereka berjalan kearah lapangan yang sudah sangat ramai, tubuh Tari berkeringat dingin, apa sebenarnya yang ingin Reksa lakukan padanya.

"Perhatian semuanya" ucap Reksa dengan lantang mengangkat satu tangannya.

Semua murid membuat lingkaran, ditengah hanya ada Reksa dan juga Tari, Tari hanya menunduk dia takut jika Reksa menyiksanya didepan semua orang.

"Kalian semua perhatikan gadis ini" ucap Reksa, dia menarik dagu Tari dengan sedikit kasar sampai gadis itu menatap semua murid, apalagi Reksa memutar tububnya agar semua murid melihat wajahnya.

"Dia anak baru"

"Iya anak SMU Segara"

"Dia siapanya Reksa ya?"

"Cantik ya"

"Namanya Matahari Veronica, kalian bisa sapa dia dengan nama Tari atau pembunuh"

"Hah? Pembunuh"

"Dia pembunuh?"

Semua murid dibuat bingung dengan kata pembunuh dari Reksa, Air mata Tari turun begitu saja, dia tidak menyangka jika Reksa mempermalukan dia depan semua orang

"Dia adalah pembunuh Raksa" jelas Reksa.

"Dia pembunuh Raksa?"

"Kejam sekali"

"Tega banget, Raksa kan anak baik tega banget dia bunuh Raksa"

"Jika salah satu dari kalian, yang berani bicara ataupun berkenalan sama dia, atau pun ganggu dia, siap-siap surat dari sekolah akan keluar hari itu juga" ancam Reksa tak main-main.

Tari menangis dalam diam, tidak ada satu pun yang merasa iba dengan dirinya. Semua menatapnya dengan sinis.

*****
Tari sudah mengganti seragam SMU Dirlangga, dia berjalan dibelakang bu Ina guru bk, menuju kelas XI

"Assalamualikum, permisi pak" ucap bu Ina masuk kedalam kelas XI MIPA 1

"Waalaikumsalam"

Tari masuk kedalam kelas dengan wajah setenang mungkin, dia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa, karena orang tahunya dia seorang pembunuh.

"Silakan perkenalkan nama kamu" titah pak Obi guru bahasa indonesia.

Tari mengangguk pelan. "Perkenalkan nama saya Matahari Veronica kalian bisa panggil nama saya Tari"

"Oke Tari, kamu bisa duduk dimeja yang kosong, disudut kanan saya"

Tari hanya mengangguk kearah pak Obi, dia berjalan kearah meja kosong tersebut, sudah terlihat kaki Nadira terlentang niatnya sih buat Tari kesandung, tapi sayang kakinya malah Tari injak.

"Ops sorry, sengaja" sinis Tari tersenyum licik menatap Nadira yang meringis kesakitan.

"Kurang ajar, lihat aja, gue bakal buat dia ngak bentah sekolah disini" gumam Nadira kesal.

*****
Ada pesan?

Pesan Author sih, jangan lupa vote sama coment.

MATAHARI SENJATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang