27. Ngak Peka

117 10 4
                                        

Happy Reading...

Sudah tiga jam Tari berdiri dibawah tiang bendera, dengan keringat sudah bercucuran dipelipisnya, sejak berdiri tidak habisnya dia ngedumel, mengumpat bahkan mengeluh dengan terik panasnya matahari.

"PANAS" teriak Tari sembari menyeka keringatnya.

Reksa yang berdiri di samping Tari menghela berat, rasanya kupingnya sangat panas sejak berdiri istrinya itu cuma mengomel saja, saat tahu jika Tari dihukum berdiri didepan tiang bendera, Reksa berinisiatif untuk menemani Tari dengan berdiri di sampingnya, karena dia tidak tega jika Tari berdiri kurang lebih empat jam sampai bel pulang sekolah sendirian.

"Pasangan suami istri yang romantis" ucap Gilang yang memperhatikan mereka dikoridor lantai satu bersama ketiga temannya, mereka sedang istirahat kedua.

"Gue ngak nyangka jika sekarang Reksa bisa bucin gitu sama Tari" sahut Iqbal menatap ketuanya tak percaya.

"Pengen punya istri juga gue" sambung Gilang.

"Emang lo udah punya calon?" Tanya Deren penasaran.

Gilang menyengir, dia menggaruk tekuknya yang tak gatal, "jangankan calon istri, calon pacar aja gue ngak punya"

Gino menyunggikan senyum, membuat ketiganya heran, "kenapa lo?" Tanya Iqbal heran.

"Ngak pa-pa" jawabnya dingin, pasalnya Gino bukan tersenyum mendengar cerita Gilang tapi dia sedang menatap seorang gadis yang duduk dipinggir lapangan, gadis itu adalah Nadia cewek polos anteknya Nadira sih gadis ulat bulu.

Gino selama ini menyukai Nadia, dia menyukai Nadia karena kepoloson gadis itu, sebenarnya dia kurang suka jika Nadia berteman dengan Nadira, tapi apa boleh buat, dia saja tidak ada keberanian untuk dekat dengan Nadia.

"LAPAR" teriak Tari mengelus perutnya yang sejak tadi terus berbunyi, pagi tadi dia hanya sarapan roti, padalah sejak dikelas dia sudah berkhayal menyantap bangko pedas, tapi semua itu gagal gara-gara Nadira.

"Bisa ngak sih, ngak usah teriak-teriak terus" sahut Reksa sedikit ketus.

Tari mencabikkan bibirnya kesal, dia bahkan menyumpahi suaminya itu dalam hati, kalau bukan dalam hati mana berani dia, bisa-bisa tidur diluar.

"Dasar cowok ngak peka" sindir Tari tanpa menatap Reksa.

"Siapa cowok ngak peka?" Tanya Reksa sewot, dia merasa kesindir nih, bisa-bisanya istrinya itu tidak tahu diri bilang kalau dia cowok ngak peka, mau peka gimana lagi coba, udah ditemenin selama tiga jam berdiri.

"Kamu tahu ngak sih kalau aku tuh lapar" ucap Tari dramatis, "aku tuh cape tahu ngak? Cape aku tuh" sambung Tari.

"Bukan lo aja yang cape, gue juga cape tahu ngak?"

"Ya udah sana, lo pergi aja sana" usir Tari sembari mendorong lengan Reksa sedikit kasar.

"Gitu aja ngambek" sindir Reksa terkekeh melihat wajah istrinya yang ditekuk.

"AHH CAPE" teriak Tari duduk menyenderkan punggungnya ditiang bendera, sembari mengibas-ibaskam tangan seperti kipas angin.

Reksa menatap wajah Tari yang kini sedikit pucat, "kamu laper benaran?" Tanya Reksa serius.

Tari mendongak menatap wajah tampan suaminya, dengan polos dia mengangguk lemas, setelah Tari mengangguk, Reksa tidak sengaja melihat bu Dian berjalan dikoridor, seketika ide berilian muncul diotaknya.

"Aku punya ide, supaya kita bisa selesai nih berdiri di sini, dan kamu bisa makan" ucap Reksa tersenyum smirk menatap Tari.

Mata Tari berbinar, dia langsung berdiri dan menatap wajah Reksa dengan serius, "caranya?"

MATAHARI SENJATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang