Rendra menghela napas pelan untuk kesekian kalinya, dia menatap sekitar, melihat mahasiswa lain yang tengah bercanda di kantin. Entah kenapa tiba-tiba Rendra merasa sangat rindu dengan Jivka.
Sudah hampir sebulan dia menjauhi Jivka, bahkan adiknya itu sama sekali tidak terlihat lagi di area fakultasnya. Begitupun dengan Rendi.
Jujur, Rendra sebenarnya sangat rindu dengan kedua saudara kandungnya. Tapi dia sendiri sadar, egonya benar-benar sangat tinggi sekarang. Dia tidak ingin menyakiti kedua perasaan saudaranya jika dengan tidak sengaja dia mengatakan hal diluar kendalinya. Rendra sadar, dirinya masih belum bisa mengendalikan amarahnya.
Rendra ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu, yang entah sampai kapan akan selesai. Berdamai dengan diri sendiri itu jauh lebih sulit daripada berdamai dengan orang yang sedang memusuhi kita.
Selama itu pula, dia menjadi dekat dengan Satria, Yovan dan juga Haris. Jujur, dia merasa nyaman berteman dengan ketiga orang itu. Mereka sama sekali tidak pernah menyinggung masalah keluarganya. Itu yang membuat Rendra semakin nyaman.
Dan juga salah satu ucapan mereka membuat Rendra benar-benar terharu. Tidak menyangka kalau dulu dia sempat menyia-nyiakan ajakan pertemanan ketiga orang di depannya ini.
“Gue selalu liat lo megang brosur beasiswa, mau ngambil Dra?” tanya Satria.
Rendra menggeleng pelan, “gak tau. Gue ragu.”
“Lah? Padahal ambil aja Dra. Nilai lo juga kan dari semester awal meningkat terus. Dan sekarang nilai lo masuk ke tingkat tertinggi juga. Lumayan loh,” imbuh Yovan.
Haris mengangguk setuju, “sekiranya masih bingung coba deh lo sharing sama prof. Tama.”
“Prof. Tama? Kenapa?”
“Iya Dra. Karena Prof. Tama selalu bantu anak yang mau ngambil beasiswa. Siapa tau lo dapet masukan dari Prof. kalau emang lo ada keraguan,” jawab Satria.
Rendra menimang sebentar lalu mengangguk, “tapi kalau dipikir-pikir lagi, gue kayaknya bakal ngambil deh.”
“Serius?” tanya Haris terkejut.
Rendra mengangguk, “iya. Bang Jeff juga ngedukung gue kalau ngambil. Tapi kalau dipikir-pikir emang sayang kalau gak diambil. Lumayan kan S2 gue ngeringanin beban peruangan.”
“Bener juga sih. Lumayan juga lo dapet nya diluar,” tambah Satria.
“Terus nanti lo disana tinggalnya di asrama dong?” tanya Haris.
Rendra mengangguk pelan, “tapi gak sampai seterusnya, cuma dua sampai tiga semester setau gue. Kalau mau perpanjang nambah biaya.”
“Itu salah satu keraguan lo ya?” tanya Yovan yang mendapat anggukan Rendra.
“Lagi mikirin kerja paruh waktu kan lo?” tanya Satria.
“Iya. Gue punya sih tabungan yang sempet mau gue beliin motor. Tapi kalau diitung-itung itu cuma cukup buat biaya hidup gue setahun doang.”
Haris mengangguk mengerti, “kalau jadi asdos gimana? Kan lumayan tuh.”
“Susah gak sih Ris? Apalagi Rendra kan dari Indo,” ucap Yovan.
“Gak tau dah, gue masih bingung. Mungkin nanti gue pikirin lagi. Bulan depan gue sidang.”
Satria tertawa pelan, “jadwal sidang lo barengan sama Yovan kan? Semangat dah lo berdua.”
“Lah? Lo enggak emangnya?” tanya Yovan.
“Dosen gue bilangnya undur seminggu.”
“Haris?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Two-R [END]
Fiksi Penggemar'The Meaning of the Number 7 for Twins' "Angka 7 itu angka keberuntungan. Dan karena angka 7 gue punya adik kembar. Gue mohon, jangan benci sama angka 7." - Rendi Adipta Wijaya. "Bagi gue, angka 7 itu kesialan. Karena 7 menit sial itu, gue harus lah...
![Two-R [END]](https://img.wattpad.com/cover/317312474-64-k972801.jpg)