Beberapa waktu kemudian, datang sepasang insan setengah tua menghampiri Relyn. Relyn menyalami sepasang insan tersebut. "Di mana anakku?" tanya Lesi yang sepertinya terkejut saat mendengar kabar bahwa Viren masuk rumah sakit.
"Ada di dalam Tan," jawab Relyn. Lesi hanya diam, karena ia tahu bahwa putranya sedang dalam penanganan dokter.
"Tadi kamu yang telfon saya?" tanya Reren.
"Iya Om," jawab Relyn. Detak jantung Relyn berdetak dua kali lebih cepat, disebabkan rasa bingung yang menempati hatinya.
"Nama kamu siapa?" tanya Lesi.
"Relyn," jawab Relyn sembari menunduk. Ia tak berani menatap orang tua Feki ketika ditanya tentang diri.
"Kamu siapanya Feki?" tanya Reren.
Deg ...
Pertanyaan yang ditakuti Relyn akhirnya terdengar. Ia terdiam sembari memikirkan jawaban yang tepat. Sejak tadi detak jantungnya sudah berdetak cepat, ditambah mendengar pertanyaan itu rasanya ingin pingsan.
"Relyn, kenapa bengong?" tanya Lesi dengan lembut menghentikan lamunan Relyn.
"Maaf Om, Tante ...." Relyn hendak menjawab yang sejujurnya, namun ia sangat takut dengan Reren yang sepertinya berwatak keras hingga ucapannya terhenti dan kembali dalam lamunan.
"Jawablah!" pinta Reren dengan suara lebih tinggi.
"S-s-s-sa-saya temannya Viren," jawab Relyn menyembunyikan kebenaran.
"Yang bawa Viren ke sini kamu?" tanya Lesi.
Orang tua Viren bergantian memberi pertanyaan pada Relyn hingga membuat Relyn semakin takut dan ingin melarikan diri. "Enggak."
"Terus?"
"Viren ke sini naik ambulan."
"Owh."
Rasanya Relyn benar-benar ingin keluar dari rumah sakit agar terbebas dari jeratan pertanyaan yang banyak. Namun disisi lain, ia penasaran dengan kondisi Viren dan ingin menunggu hingga penanganan usai. "Bagaimana anak saya bisa begitu?"
"Saya juga tidak tau Tan, tadi waktu saya makan siang, Viren telfon minta tolong, lalu saya datang dan bertanya tentang kejadiaannya tapi tidak dijawab dan saya langsung menelfon ambulan untuk membawa Viren ke sini!" jelas Relyn masih setia menunduk.
"Owh ya sudah. Terima kasih sudah menolong anak saya," ucap Lesi diangguki Relyn.
Tak berselang lama, seorang lelaki berpakaian putih keluar dari ruang perawatan Viren. Lesi beranjak dari tempat duduk lalu menghampiri sang dokter. "Dokter, bagaimana kondisi anak saya?" tanya Lesi.
"Luka di kepala anak Ibu berhasil kami tangani, hanya saja dia mengalami sakit cukup parah pada tulang belakangnya sehingga harus diberi perawatan khusus!" jawab dokter didengar Relyn dan Reren yang masih duduk.
"Lakukan yang terbaik untuk anak saya ya dok!" pinta Lesi.
"In Sya Allah Bu! Ya sudah saya permisi dulu, Ibu boleh menjenguk anak Ibu sekarang!" jawab dokter dilanjut pamitan.
Lesi mengajak Reren masuk ruangan Viren, Relyn yang merasa tak diajak langsung beranjak dari kursi dan berpamitan.
*____*
Relyn tiba di rumah pada pukul 16. 51 dengan kondisi rumah masih sama, hanya ada Pressa yang tengah bersih-bersih. "Kamu dari mana Rel?" tanya Pressa sembari mengepel.
"Dari rumah teman Tan."
"Kenapa kamu tadi nggak menghabiskan makananmu?" tanya Pressa.
"Habisnya aku buru-buru Tan, soalnya temanku tadi kena musibah dia minta pertolongan sama aku!" jawab Relyn. Andaikan yang bertanya Resita, mungkin Relyn akan berbohong.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Relyn
Ficção AdolescenteAlur hidup seseorang berbeda-beda. Tidak ada yang tahu selain Tuhan. Seperti cerita seorang Relyn. Remaja 15 tahun yang mengalami percintaan. Semula ia dekat dengan seorang cowok bernama Feki, namun berpacaran dengan Viren yang lebih dulu menyatakan...
