Usai lama di rumah Celine, Relyn memutuskan untuk pulang. Setiba di rumah ia memarkir motor di garasi seraya masuk. Saat hendak naik tangga, telinga Relyn menangkap suara perdebatan di lantai dua. Dengan sigap, ia berlari menaiki tangga. Dan benar saja, netranya menangkap Resita dan Nitolen tengah berdebat. Resita duduk di lantai sembari menangis dan Nitolen mengeluarkan suara tingginya.
"Mama," panggil Relyn seraya memeluk sang Mama.
Mulut Nitolen bungkam seketika kala mendapati mereka berpelukan. "Mengapa Mama menangis?" tanya Relyn menenggelamkan tubuh Resita disertai sentuhan lembut.
Brak ...
Nitolen masuk kamar dan menutup pintu dengan keras. "Mama nggak papa kok, Nak!" jawab Resita mengusap air mata. Ia berusaha kuat di depan Relyn dan tak ingin Relyn tahu akan masalahnya.
Jantung Relyn berdegup kencang kala mendapati hal itu, karena itu pertama kalinya Relyn melihat Resita menangis karena perdebatan dengan sang Papa.
Tak ingin lama, Relyn membawa Resita ke kamar. "Mama kenapa? Cerita sama Relyn!"
"Mama nggak Papa, Nak!" jawab Resita berusaha menahan air mata yang hendak keluar.
"Tante Pressa ke mana Ma?" tanya Relyn. Ia penasaran karena sejak pulang dari rumah Celine tidak mendapati keberadaan Pressa.
"Udah pulang!" jawab Resita.
"Tumben pulangnya cepet banget?"
"Karena Mama suruh dia pulang karena hari ini adalah hari terakhirnya bekerja di sini!" jawab Resita.
"Loh, emang kenapa Ma?" tanya Relyn berpura-pura tak tahu.
Resita yang sedari tadi tak ingin bercerita, kini berubah pikiran dan malah menceritakan semua pada Relyn.
Flashback On
Motor matic Resita telah terparkir di garasi, ia pun berjalan masuk. Telinganya tak sengaja mendengar tawa kecil dari Pressa dan Nitolen yang hampir bersamaan di lantai dua. Dengan penuh rasa penasaran, Resita menaiki tangga hingga tiba di sana. Netranya menangkap seorang wanita dan pria tengah berduaan. "Mas Nito!" panggil Resita mengejutkan mereka. Pressa sontak beranjak dari sofa diikuti Nitolen. "Apa maksud semua ini? Kalian pacaran? Kamu khianatin aku ya Mas?" tanya Resita.
"Mbak Resita! Nggak gitu maksudnya, saya bisa jelasin semua kok!" jawab Pressa.
"Tidak ada yang perlu dijelasin! Aku sudah tau kok! Jelas-jelas aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, kalian berduaan di sini! Apa maksud kalian? Dan sekarang aku ngerti, selama ini kamu nggak ada di kantor ternyata pacaran sama Pressa, Mas!" Resita meluapkan emosinya.
"Mbak, tenang dulu! Aku bisa jelasin semua! Mohon izinkan aku untuk menjelaskan semuanya!" desak Pressa.
"Aku tidak ingin penjelasan dari kamu! Sekarang kamu pulang dan jangan kembali lagi ke sini dan putuskan suamiku! Ini pesangon kamu, hari ini adalah hari terakhir kamu kerja di sini! Silakan pergi!" tegas Resita sembari menyodorkan beberapa lembar uang kertas senilai 100.000 yang baru diambilnya dari tas selempang yang dipakai.
"Oke, kalau itu mau kamu! Aku akan pergi dan nggak akan kembali lagi! Uangnya aku terima, Terima kasih!" Pressa pun melaksanakan ucapannya.
"Kenapa kamu khianatin aku? Tega kamu Mas!" Resita kembali meluapkan emosi pada Nitolen disertai air mata.
"Karena aku cinta sama Pressa. Dia selalu berpenampilan cantik setiap hari!" jawab Nitolen.
"Lalu, apakah aku kurang cantik?" tanya Pressa.
"Kamu cantik kok, tapi Pressa lebih cantik. Karena make up dia lebih tebal daripada kamu!" Mendengar itu, hati Resita seolah hancur berkeping-keping. Tubuhnya tak dapat lagi ditopang hingga akhirnya jatuh.
"Apa kamu tidak cinta lagi denganku? Kalau begitu, kembalikan aku pada orang tuaku Mas!" Resita mengeluarkan suara kerasnya.
"Aku masih cinta kamu kok!" jawab Nitolen.
"Lalu, mengapa kamu duakan aku? Dengan asisten rumah tangga kita, pula," tanya Resita.
"Karena aku juga cinta Pressa!" jawab Nitolen.
"Sekarang gini, kamu milih aku atau Pressa? Kalau kamu milih aku, putusin Pressa! Tapi, kalau kamu milih Pressa, kembalikan aku ke orang tuaku!"
"Aku milih dua-duanya!" jawab Nitolen.
"Nggak bisa gitu Mas!"
"Terserah aku lah, kenapa kamu melarangku? Kalau aku bisa dua, kenapa harus satu! Banyak bac*t kamu jadi istri!" jawab Nitolen semakin menusuk hati Pressa.
FlashBack Of
"Untung ada kamu Nak, kalau tidak ada kamu, mungkin perdebatan itu terus berlanjut!"
"Mama yang sabar ya! Di sini ada Relyn, Relyn sayang Mama! Mama nggak boleh nangis!" Relyn mengelus-elus bahu Resita. Resita mengusap pipinya yang basah. "Mama lihat Relyn!" Relyn menangkup pipi Resita. "Mama masih punya Relyn, Mama harus kuat demi Relyn. Sebisa mungkin Mama harus bisa bahagia supaya Relyn juga bahagia! Karena sedihnya Mama adalah sedihnya Relyn, bahagianya Mama adalah bahagianya Relyn. Relyn akan tersenyum kalau melihat Mama tersenyum." Sebisa mungkin Relyn menguatkan sang Mama. Ia tak ingin menceritakan kejadian tadi siang, karena tak ingin menambah luka di hati Resita. "Malam ini, Mama tidur sama Relyn aja, nggak papa! Relyn tahu apa yang Mama rasakan sekarang!" Resita sontak terharu mendengar tuturan Relyn tersebut. Air matanya tak berhenti mengalir hingga akhirnya bisa memeluk erat sang putri.
"Makasih sudah selalu ada buat Mama,.menjadi pelipur lara Mama!" ucap Resita sembari mengusap lembut rambut Relyn.
"Makasih juga karena Mama sudah selalu menasihati Relyn!" jawab Relyn yang kini tenggelam dipelukan Resita.
****
Malam hari telah tiba, Resita dan Relyn berada di lantai bawah sembari menonton televisi. "Mama ingin keluar sekarang, ayo ikut!" ajak Resita.
"Ke mana Ma?" tanya Relyn.
"Jalan-jalan! Soalnya besok kan hari Minggu, kita malming bareng yuk! Kalau perlu, malam ini kita tidak usah tidur di rumah, kita tidur di hotel!" jawab Resita membangkitkan semangat Relyn.
"Waah boleh tuh, Ma! Ayo, Relyn mau, kita berangkat sekarang ya!"
"Oke! Kita naik taxi online aja ya! Mama pesan dulu, kita tunggu di luar rumah! Tapi jangan lupa, siap-siap dulu ya!" ucap Resita diangguki Relyn. Ia naik ke lantai 2 untuk mengemasi bajunya dan Resita, tidak semua, melainkan hanya beberapa sebagai ganti saat di hotel nanti.
"Mama, bagaimana kalau aku ajak sahabatku? Siapa tau dia mau ikut bersama keluarganya!" ucap Relyn yang berniat mengajak Celine.
"Silakan!" jawab Resita.
Relyn menyalakan ponsel sembari berjalan keluar. Ia menelfon Celine. "Hallo Celine!"
"Hai Kak! Ada apa?"
"Besok kan hari Minggu, kamu nggak pengen ngajak keluarga kamu jalan-jalan, menginap di hotel?" tanya Celine.
"Sebenarnya sih aku pengen, tapi nggak tau, Mama Papaku mau atau tidak," jawab Celine.
"Ya sudah ajak keluarga kamu buat nginap di hotel malam ini! Aku juga mau nginap sama Mamaku! Nanti aku kasih tau lokasi hotelnya kalau udah sampai sana!"
"Oke Kak!"
Relyn menutup telfon. "Yeeee ... Sahabat aku mau Ma! Jadi nanti aku bisa main sama sahabatku di sana!" ucap Relyn bahagia.
"Syukurlah!"
"Memangnya kita mau ke hotel mana Ma?" tanya Resita.
"Hotel Aswar di Jalan Kerbau nomor 52!"
"Oke nanti aku kasih tau sahabatku!"
Tak lama kemudian, taxi datang, Resita dan Relyn memasukinya bersamaan. Mereka tak sabar ingin menghirup udara segar ditengah konflik keluarga yang melanda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Relyn
Teen FictionAlur hidup seseorang berbeda-beda. Tidak ada yang tahu selain Tuhan. Seperti cerita seorang Relyn. Remaja 15 tahun yang mengalami percintaan. Semula ia dekat dengan seorang cowok bernama Feki, namun berpacaran dengan Viren yang lebih dulu menyatakan...
