Di siang yang sejuk, tampak Viren dan Relyn tengah berdua di taman. "Relyn, aku mencintaimu. Aku tidak ingin pisah darimu!" ucap Viren sembari menyodorkan mawar merah. Relyn tak bergeming. Ia tetap bungkam sembari menatap dalam sepasang mata Viren. "Terimalah bunga ini sebagai tanda bahwa kamu masih mencintaiku!"
Relyn masih terbungkam. Ia bingung harus apa. Jika ia menerimanya, masalahnya akan memanjang. Jika ia tak menerima, kasihan Viren yang tulus mencintainya. Mungkin, dia akan merasa terabaikan.
"Maaf Viren. Aku tidak bisa menerima itu! Aku tau, kamu masih mencintaiku. Tapi maaf, kamu harus nurutin perkataan orang tuamu, jangan membantah! Kita berteman saja ya!" jawab Relyn.
"Tapi tolong, kamu jangan cari laki-laki lain selainku! Kamu harus berjanji padaku, Relyn. Karena aku sangat mencintaimu!" pinta Viren diangguki Relyn.
Viren pun menyodorkan kelingking. Relyn menautkan kelingkingnya pada kelingkin Viren.
"Terima kasih! Aku janji, aku akan selalu berada di sampingmu dikala suka maupun duka! Aku tidak akan menduakanmu, meski tiada hubungan diantara kita, selain pertemanan. Semua itu karena orang tuaku, tapi aku ikhlas menerimanya!" ucap Viren masih setia menatap Relyn. Relyn yang mendapat tatapan itu pun sontak memandang setiap inci wajah Viren. Jujur, ia tak ingin melepaskan Viren begitu saja. Namun, terpaksa karena kehendak orang tua. Ia masih ingin bersama Viren seperti Seryl dan Kio yang menjadi pasangan serasi. Ia berharap suatu saat nanti, hati Reren terketuk untuk menerimanya kembali.
*______*
"Huuupp! Astaga, aku mimpi!" Relyn terbangun dengan kaget. Ternyata, semua itu hanya mimpi. Relyn melirik jam dinding yang menunjuk pukul 03.14. "Hufft ... Bisa-bisanya aku mimpi seperti itu! Apakah itu pertanda bahwa Viren tak ikhlas melepaskanku? Jujur, aku masih cinta dia! Namun, tak bisa bersama karena kehendak orang tua! Dear Viren, semoga kamu baik-baik saja dan tidak kepikiran aku supaya bisa move on!"
*_____*
Para siswa/siswi SMPN 05 Garuda melakukan aktivitas pagi disekolah. Ada yang bermain di halaman, melaksanakan tugas piket dan mengobrol. Seperti siswi kelas 9B yang kini tengah membicarakan Relyn. Pasalnya, perdebatan Relyn dengan Feki ramai dibicarakan orang-orang tak hanya kas 9B. Beruntung, hal itu tak didengar oleh Guru BK, Wali kelas ataupun Kepala Sekolah sehingga masih aman.
Di depan gerbang, Relyn turun dari mobil usai bersalaman dengan orang tuanya yang hendak bekerja. Ia mengangguk saat bertemu Jaja, satpam sekolah SMPN 05 Garuda. Setelah, itu ia bergegas masuk kelas. "Hallo kawan!" sapa Relyn seraya meletakkan tasnya. Ia merasa aneh karena teman-temannya terdiam seribu bahasa sembari menatapnya. Relyn mengamati penampilannya dengan cermin kecil yang selalu ada di tas.
"Sok-sokan!" bisik Tia pada Liyli. Beruntung tak didengar Relyn.
Karena merasa aneh dengan teman-temannya, Relyn pun keluar kelas.
Saat berjalan ke taman, Relyn berjumpa dengan seorang perempuan cantik lebih muda darinya tengah sendiri di koridor. Relyn penasaran dengan orang itu, sehingga ia menghampirinya. "Hai!" sapa Relyn membuatnya menoleh.
"Hallo!" Mata Relyn sontak berbinar saat melihat wajahnya. Berkulit putih, hidung mancung, bibir tipis dan berambut lurus.
"Kamu siswi baru ya?"
"Iya."
"Kelas berapa?" tanya Relyn.
"7D."
"Salam kenal, aku Relyn kelas 9B!" Mereka bersalaman.
"Salam kenal juga, saya Loveka Celine Agatha! Biasa dipanggil Celine." jawab Celine. Mereka menormalkan posisi berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diary Relyn
Fiksi RemajaAlur hidup seseorang berbeda-beda. Tidak ada yang tahu selain Tuhan. Seperti cerita seorang Relyn. Remaja 15 tahun yang mengalami percintaan. Semula ia dekat dengan seorang cowok bernama Feki, namun berpacaran dengan Viren yang lebih dulu menyatakan...
