Dua Puluh Tujuh

4.8K 362 14
                                        

---

"Gue kayak lagi dibohongin abis-abisan, kalo lo tadi gak nyusul gue beneran kayak orang bego seumur hidup."

Leon lantas menggapai Tari. Membawa wanita itu dalam pelukannya.

"Aku gak berniat bohongin kamu. Awalnya aku gak tahu kalo kantor kamu itu punya Gio. Aku baru tahu beberapa tahun ini karena dia lihat aku mau diusir satpam waktu kamu ngambek gak mau ketemu aku."

"Dan Gio yang ngasih akses kamu bisa masuk kapan aja jadi bisa gangguin aku?"

Leon mengangguk.

"Dia bahkan kenal papa,"

"Karena Lex. Kamu tahu kan gimana terkenalnya dia diantara orang-orang itu. Papanya Gio pernah jadi kuasa hukum Lex waktu kasus pembebasan lahan dimana gitu. Nah LBH Gio yang jadi pendamping masyarakat waktu itu."

Tari mendongak. "Gio lawan papanya sendiri di pengadilan?"

Leon mengangguk. "Karena itu jadi ketemu diluar pekerjaaan dan jadi pada kenal. Aku kenal Gio memang dari jaman kuliah. Dia satu SMA sama kita, Tar. Kalo kamu inget dia salah satu yang paling lama sama tongkrongan aku."

Tentu saja Tari menggeleng. "Aku gak inget pernah lihat dia,"

"Soalnya dateng selalu paling malam pas kita udah mau balik. Atau waktu kamu jemput aku yang mabok kayaknya selalu ada dia. Mungkin kamu gak perhatiin aja,"

"Kamu gak ada campur tangan dalam pekerjaan aku, kan?"

Tentu saja suaminya menggeleng. "Bukan karena Fanny ataupun karena aku. Gio menilai kamu karena kualitas dan kemampuan kamu, sayang. Gak ada intervensi dari siapapun,"

Tari masih belum puas. "Terus kenapa kamu gak pernah ngomong kalo Gio itu sahabat kamu?"

"Awalnya aku mau cerita. Tapi Gio minta buat gak ngasih tahu sampe kamu sadar sendiri. Soalnya kata dia kamu itu jutek banget kalo di kantor. Dia gak mau karena kita kenal secara personal nanti kamu jadi sungkan sama dia,"

Hal itu akhirnya membuat Tari menyurukkan wajahnya. "Aku malu, Leo. Aku tadi sombong banget sama diam. Gimana mungkin abis ini aku masang image yang biasanya kalo berhadapan sama dia?"

Leon terkekeh. Tangannya mengelus lengan Tari dengan lembut.

"Kan dia juga sombong. Sombongin balik aja,"

"Dia bos aku, Leo."

Kekehan kembali datang dari Leon.

"Gak ada yang perlu berubah hanya karena kamu tahu dia sahabat aku. Toh itu tidak mempengaruhi kinerja kamu, kan? Kamu gak tiba-tiba jadi males kerja karena ternyata bos kamu itu sahabat suami kamu kan?"

Wanita itu langsung manyun. Membuat Leon langsung terkekeh.

"Tapi omong-omong soal Gio kamu kapan mau ngomong ke aku kalo kamu udah officially pindah ke LBH nya dia?"

Pertanyaan itu membuat Tari melepaskan pelukan. Ia lalu bergerak untuk bersandar pada headboard. Pergerakan yang diikuti oleh suaminya tersebut.

"Tiba-tiba aku ngerasa ngelakuin banyak kesalahan sama kamu setelah kita menikah,"

Melihat istrinya yang seperti sedang melakukan pengakuan dosa membuat Leon tersenyum kecil. Ia meraih jemari Tari untuk digenggam dan dielusnya pelan.

"Beberapa hari lalu aku hang out sama Ara dan Kak Luna. Kita ngobrolin banyak hal termasuk soal pernikahan. Melihat bagaimana cara mereka membicarakan pernikahan dan suami mereka, aku ngerasa terlalu seenaknya sama kamu. Aku ngerasa kadang hubungan ini cuman tentang aku. Kamu gak pernah interuspi apapun keinginan aku."

Leon tahu Tari sedang ingin menyampaikan isi kepalanya saat ini.

"Pembicaraan Gio tadi bahkan masih sulit aku terima waktu dia nanya apa suami aku bakal terima aku ambil job ini. Pembahasan ini udah dari lama banget. Beberapa bulan yang lalu. Aku kesal waktu fokus Gio malah pada hal-hal pribadi yang menurut aku tidak harus dia risaukan."

"Gio begitu bukan karena dia ragu sama kamu. Itu murni karena dia gak mau kamu kerepotan kalo aku rewel nantinya."

Tari menggeleng. "Bukan itu intinya. Gio benar. Seharusnya aku mendiskusikan semua keputusan yang aku ambil ini sama kamu. Gak seharusnya aku merasa bahwa semua ini cuman berhubungan sama aku."

Leon mengecup punggung tangan kekasihnya.

"Aku terlalu dominan dan kamu hanya menuruti semua keinginan aku. Hubungan kita jadi gak seimbang. Aku jadi gak tahu sampai batas mana aku akan keterlaluan tanpa mikirin kamu nantinya,"

"Jangan merasa begitu--"

"Waktu kita honeymoon aku ngerusak momen bahagia kamu dengan mengambil keputusan sepihak. Tapi kamu tetap gak marah sama aku. Waktu aku mau tinggal di apartemen aja padahal kamu udah beli rumah, kamu juga ikut aja. Waktu aku resign dan milih LBH kamu juga terima aja,"

"Tari, stop--"

"Bahkan waktu aku ngomong aku belum mau punya anak kamu juga gak nolak padahal aku tahu kamu pengen sekali punya anak sendiri,"

Leon lalu memegang wajah Tari untuk menatapnya.

"Aku gak tahu kamu lagi kenapa jadi melankolis seperti ini, tapi biarin aku jelasin semua kegalauan kamu malam ini."

Bibir Tari masih maju.

"Urusan honeymoon udah kita bahas. Dan itu udah berbulan-bulan yang lalu. Aku happy kok mereka nyusul, cuman sebel karena di ledekin aja. Tapi it's not a big deal, baby."

"Untuk urusan pekerjaan, aku tahu itu mimpi kamu dari lama. Gimana mungkin aku melarang kamu melakukan hal yang kamu sukai. Perempuan cantik aku ini juga sangat cantik hatinya, gimana mungkin aku bisa menahan kamu membantu orang lain?" Ucapan itu tentu saja menghangatkan hatinya. Walaupu ucapan Leon sebelumnya cukup membuat Tari takjub. "Walaupun, yaah, aku juga request khusus sama Gio untuk gak ngasih kamu kasus yang terlalu berbahaya dan harus selalu keep in touch sama aku. Aku laki-laki protektif dan posesif, kamu paham gimana aku selama ini. Cowok-cowok aneh yang deket sama kamu aja pada mundur kok, gimana orang yang niatnya jahatin kamu. Taekwondo dan boxing aku gak mungkin disia-siain, dong."

Melihat Tari kembali manyun membuat Leon terkekeh. Namun kembali berkata dengan lugas.

"Kalo untuk urusan anak, semua itu benar-benar keputusan kamu. Yang akan hamil dan melahirkan itu kamu, sayang. Semua sakit itu cuman kamu yang akan rasain, dan aku gak bisa ambil sakitnya seperti aku ambil alih semua keputusan-keputusan kamu yang lain. Kalo memang belum waktunya, aku gak apa-apa kok. Aku juga gak masalah cuman hidup berdua sama kamu selamanya. Lagian aku belum siap membagi kamu sama siapapun,"

Tari langsung menyerbu Leon dengan pelukan.

"Aku juga mau menaruh kamu di urutan paling atas prioritas aku."

Leon tertawa. "Aku akan terima itu dengan senang hati."

"Aku mau membalas semua tahun-tahun yang sudah kamu habiskan untuk aku. Gio bilang kamu udah suka aku dari SMa?"

"Udah, ah. Gak usah dibahas."

Tari melepaskan pelukan. Menatap Leon yang tampak salah tingkah.

"Aku pikir itu bohong. Gimana rasanya?"

"Rasanya apa?"

"Mengusir cowok-cowok yang dekat sama aku?"

Tawa langsung menggema di kamar itu. Leon tidak lagi menahan diri, ia tertawa bangga sembari kembali membawa Tari ke dalam pelukannya.

Hingga sebuah bisikan Tari membungkam tawa tersebut.

"I'm pregnant I guess,"

---

Love

--aku

Suit & Sneakers [FIN]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang