---
"Gue tuh apa sih, Tar, di mata lo?"
Pertanyaan aneh bernada jutek itu membuat Tari mengerutkan dahi. Lalu kembali cuek menata semua perintilan bayi yang menjadi kegiatan favoritnya belakangan ini.
Memasuki usia kehamilan sembilan bulan, Tari menjadi lebih aktif. Setiap pagi ia selalu bangun lebih pagi untuk olahraga dan membuat sarapan. Lalu dengan riang akan berangkat menuju kantor dan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin untuk bisa segera pulang.
Di hari libur, ia senang sekali mengajak Clara dan Luna membeli lebih banyak keperluan melahirkan nanti dan perintilan bayi lainnya.
"Pasangin box bayi, dong, Le."
Leon tidak menjawab. Ia hanya berdecak lalu segera keluar dari kamar bawah tangga yang sudah disulap oleh Tari menjadi kamar bayi super menggemaskan.
Karena sudah tahu bahwa calon bayi mereka adalah perempuan, Tari mendekor semuanya serba putih dan pink. Leon sampai menganga karena wanita itu tidak suka warna pink.
"Kenapa sih marah-marah mulu?!"
"Gue denger ya lo ngomong apa!"
Ternyata keluhannya didengar oleh Leon yang kembali masuk kamar membawa segelas susu dan diulurkan pada Tari yang langsung tersenyum.
"Ikhlas gak sih? Kalo ga ikhlas gue bisa bikin susu sendiri,"
Leon kembali berdecak. Menunggu Tari menandaskan isi gelas, mengusap ujung bibir wanita itu dengan lembut, lalu mengambil alih kembali gelas kosong untuk ia bawa keluar.
"Lo kenapa sih marah-marah mulu?! Nanti Kak Luna sama Ara mau kesini bantu beresin kamar baby L."
"Emangnya kurang apalagi sih, Tar? Ini udah banyak banget barang-barang yang belum akan kepake, kok. Lagian ada gue juga bisa bantu, gak usah apa-apa sama mereka lah,"
Tari langsung menatap laki-laki itu tajam.
"Kan lo yang gak mau bantuin tadi?!"
"Kapan gue bilang gak mau?"
"Tadi! Pas gue mau minta buat pasangin box, lo langsung pergi gitu aja!"
"Kan gue ambilin susu buat lo, Tari. Lo tuh dikit-dikit marah, semua aja bikin lo marah--"
Tari bangkit. Ia memegang perutnya sembari menatap Leon penuh permusuhan.
"Lo tuh yang selalu marah. Dari awal gue hamil selalu bikin gue sedih. Lo gak mau peluk gue, lo gak mau nyentuh gue, emang ya dari awal lo gak pengen gue hamil. Lo gak mau punya anak dari gue!"
Leon menganga. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Tari. Wajahnya langsung pias, dan Tari juga tampak terkejut dengan apa yang keluar dari mulutnya. Wajahnya lalu berubah menatap Leon yang juga tampan terkejut.
Tanpa sepatah katapun, Leon langsung balik badan. Berjongkok mengumpulkan semua bekas paket yang di buka oleh Tari lalu membawanya keluar ruangan.
Laki-laki itu tidak menoleh. Meraih kunci mobil lalu keluar dari apartemen. Meninggalkan Tari yang akhirnya terduduk di sofa dan mulai menangis.
---
"Minum dulu,"
Tari menerima secangkir teh yang diulurkan oleh Luna. Menyesapnya sedikit guna menenangkan dirinya sendiri.
"Kenapa lagi?"
"Dia marah-marah mulu. Katanya gue terlalu berlebihan,"
Luna tertawa. "Dia cemburu, Tari."
![Suit & Sneakers [FIN]](https://img.wattpad.com/cover/327079528-64-k757042.jpg)