Sekarang Alex ada di mall bersama Mew, dengan mudahnya dia mengajak pergi Alex dengan imbalan ice cream. Bagaimana yang mengajaknya orang lain dan bukan Mew
Pasti Alex sudah di pusat penjualan organ dalam sekarang
'' Uncle don't say like that, papa Alex baik kok. Mungkin uncle punya salah sama papa, makanya papa jahat sama uncle "
" Kan saya udah bilang ke kamu papa kamu ninggalin saya waktu kami berteman sangat baik "
" Just ask uncle's mistakes to papa, biasanya Alex peluk papa usap pelut papa lalu say solly, pasti papa maafin " (sorry)
Mana mungkin Mew melakukan itu. Kepalanya menggeleng, Alex terus saja membela Gulf.
" Kenapa kamu malah usap perut, harusnya cium tangan dan usap keningnya gitu "
" Di pelut itukan Alex sama nong dulu tinggal, papa bilang pelutnya seling sakit kalna Alex suka menendang. Jadi Alex usap pelut papa. Hmm nanti kalo papa malah sama Alex, Alex bakal cium tangan papa dan usap keningnya "
" Kamu lahir dari perut papamu? ", tanya Mew kaget
" Ya, kenapa uncle? "
Mew menarik nafasnya tak percaya, bagaimana seorang pria bisa hamil. Memang ada beberapa kasus seperti itu yang terjadi di Tailand, tapi kenapa harus Gulf orangnya.
Mew tidak percaya
Sekali lagi ditariknya nafas panjang mulai mencoba stabil lagi berbicara dengan Alex.
Siku kemejanya di gulung, bayangkan auranya itu ada di dekat anak kecil yang menggemaskan
" Kamu kelas berapa "
" Alex belum cekolah, umul Alex 4 tahun "
" Umur 4 tapi bahasa Inggris kamu lancar banget "
" Eumm.. Alexkan tidak tinggal dicini dulu, lumah Alex dulu ada snow nya loh uncle ", Mew membersihkan mulut Alex yang kotor terkena ice cream cokelat
" Salju? Kamu emangnya tinggal dimana dulu? "
" Jauh cekali dali sini dan halus naik pecawat, is beautiful place uncle. Lumah Alex kecil tapi banyak mainannya " (harus)
' Jauh sekali dari Tailand? ', benaknya
" Oh.. mungkin karena papamu pindah makanya dia ninggalin saya, tapi yaudahlah pokoknya papa kamu itu jahat "
" Huhf.. uncle tau uncle Off? Papa itu baik, coba tanya uncle Off. Dulu pelnah kaci uang ke uncle Off banyak cekali "
Apalagi ini yang Mew dengar, begitu banyak kejadian yang tidak sama sekali dipikirkannya. Jika anak kecil tidak bisa berbohong maka semua yang dikatakan Alex adalah kebenaran.
Mew mencoba terus menggali informasi, lupa tujuannya menemui Alex adalah agar bisa mencuci otak kecilnya
'' Kamu kenal Off? "
" Ya Alex kenal, waktu Alex kecini uncle Off sama Bai yang jemput "
" Bai? Ga sopan banget manggil nama, harusnya kamu panggil daddy itukan orangtuamu "
" Alex tidak punya daddy, papa hate it. Olang tua Alex cuman papa dan oma "
Oh iya, sejenak Mew sadar dia membawa Alex tanpa sepengetahuan siapapun.
" Ha maksudnya?? "
" Alex sama nong Natasya cuman punya papa, Alex tidak punya daddy dan mama "
Mew terkejut entah yang keberapa kalinya, siapa sangka Gulf orang tua tunggal. Lalu anak di depannya ini anak siapa jika bukan anak dari Bright ataupun gadis lain
" Alex tau kenapa papa hate daddy? "
" I dont know, Alex cuman tau papa selalu nangis kalo Alex tanya dimana daddy "
Pembicaraan ini semakin lama semakin ke arah yang tidak Mew mengerti, mulai dari Gulf yang melahirkan, Alex yang mengenal Off, dan Bright bukanlah ayah dari Alex.
Jadi anak siapa Alex ini?
Semakin banyak pertanyaan dikepala Mew tapi tidak satupun bisa diucapkannya setelah mendapat email pembatalan untuk proyek besarnya. Tenggat proposal itu 1 hari lagi.
Setelahnya Mew memutuskan untuk menelepon Gulf, tidak banyak waktu untuk segera mendapatkan kontrak kerja sama itu
Dimintanya nomor Gulf pada Bright
" Halo ", suara dari sebrang telepon
" Halo pa, ini Alex "
" Phi Alex? Kamu pakai telepon siapa ini, kamu dimana nak "
" Alex di mall pa, Alex pakai telepon hm.. uncle what's your name? "
" Mew "
" Alex pakai telepon uncle Mew pa. Alex lagi jalan jalan sama uncle Mew pa "
" Alex sekarang kamu di mall mana "
" Alex tidak tau, Alex kasih teleponnya ke uncle ya.. papa tanya uncle aja "
" Iya nak ", handphone nya pindah ke tangan Mew dan ia sedikit menjauh
" Ga begini ya caranya, saya tidak suka kamu bawa anak saya begitu. Kamu mau nyulik anak saya? ", tegas Gulf
" Gue cuman minta lo acc proposal gue, gue butuh itu sekarang, soal anak lo bakal gue pulangin "
" Kamu jangan main main sama saya, urusan pekerjaan ga ada sangkut pautnya sama keluarga saya. Kemana kamu bawa Alex "
" Anak lo aman, acc proposalnya dulu nanti gue kasih anak lo "
" MEW! SAYA TIDAK SEDANG BERCANDA YA, KAMU BAWA KEMANA ANAK SAYA "
" Jangan berani lo bentak gue, gue buang ni anak lo ditengah jalan ", disebrang telepon itu Mew seperti mendengar suara Gulf yang hampir menangis
" Saya acc proposal kamu, anter anak saya kesini dan bawa proposalnya ", sengal nafas kepanikan Gulf
" Oke, 30 menit ", lalu telepon itu diputus Mew secara sepihak
Di keadaan lain Gulf panik setengah mati, kepalanya hampir saja terhempas ke pintu besar diruangan Bright. Pikirannya terus bertanya
Bagaimana Alex bisa bersama Mew
Gulf tengah menahan air matanya sekarang, takut jika menetes dan mengenai Natasya bayi ini akan ikut menangis juga
Untuk hal yang Mew perbuat semalam, Gulf tidak memikirkannya lagi. Yang terpenting Alex tidak boleh dekat dengan Mew, Gulf belum siap untuk jujur.
.
.
.
30 menit berselang Mew tiba dengan Alex yang digendongnya. Ia tidak jadi membelikan Alex sepatu baru. Wajah keduanya tampak akrab, bahkan Alex nyaman digendong Mew.
" Sini nak ", peluk Gulf erat pada Alex
Mew yang melihat itu hanya terdiam, inilah kelemahan Gulf. Menyentuh Alex sedikit saja bisa menghancurkannya.
" Tanda tanganin ini "
Pelukan itu dilepas Gulf sesaat lalu diambilnya bolpoin untuk menandatangani surat surat itu
" Uncle pulang ya Alex kapan kapan kita main lagi, dahh "
" Bye uncle, hati hati dijalan thank you ice klim nya ya "
Lalu Mew pergi begitu saja tanpa rasa bersalah, tidak berpikir kepanikan orang tua bukanlah rollercoaster perasaan.
Gulf menasehati Alex disepanjang perjalanan pulang kerumah. Tapi yang ada Gulf disuruhnya untuk tidak kawatir. Anak kecil itu memberi penjelasan kepada Gulf, berkata Mew baik kepadanya, tanpa tahu dulu Mew seperti apa.
