[ 𝐄𝐍𝐃𝐈𝐍𝐆 ]
Nama panjangnya Ashana Davinia, perempuan cantik dengan latar belakang keluarga yang bahagia juga berkecukupan. Ia menjatuhkan hatinya kepada seorang laki-laki yang memiliki senyuman seindah mentari. Dia Gavino Ardhaputra --- laki-l...
Makasih udah lanjut baca bab 02! Semoga sukaaaaaa!
2300+ kata untuk bab ini 💌.
[ Tandai typo please🤸 ]
Enjoyy!!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hari Senin pagi, Hana sudah memasang wajah masam. Ia malas bersekolah karena hari ini upacara. Tapi kan, kalau tidak sekolah, tidak bertemu Gavin. Hana menghela napas, ia memakan sarapannya dengan malas. Hal itu tentu tak luput dari pandangan Ayah, Bunda maupun Rio.
"Pagi-pagi udah murung aja mukanya, kunaonatuh?" [Kenapa sih?] Davin bertanya. Davin memang terkadang suka memakai bahasa Sunda, satu kata atau dua kata. Beliau tidak ada turunan Sunda, tapi teman sekantornya yang berasal dari sana itu terkadang berbicara dengan bahasa Sunda, membuat Davin jadi kebawa-bawa.
Hana menatap sang Ayah, menggeleng pelan dengan makanan yang belum ia kunyah. "Mwales swekwolah," jawabnya jujur.
"Kok males sekolah? Katanya pengen jadi orang kaya?" Kini, Santi ikut berbicara.
Hana memang tidak pernah menyebutkan apa cita-citanya, ia hanya selalu berkata kalau ingin menjadi orang kaya. Padahal kan, sekarang juga udah kaya ....
"Males upacara, Bun. Amanatnya suka lamaaaaaaaaa," keluh Hana yang mendapat respon tak suka dari Rio.
"Halah, lebay amat lo."
"Apasih, nyambung aja lo!" Hana menatap Rio tak suka, yang dibalas tatapan tak suka juga oleh sang empu.
"Udah-udah, habisin sarapannya, terus langsung berangkat. Amanatnya juga harus didengerin tau sayang ... itu kan penting," ucap Santi menasehati anak bungsunya.
"Gimana nanti aja deh."
Santi hanya mengangguk mendengar itu. "Hana berangkatnya mau sama Ayah atau Abang?"
"Sendiri." Jawaban dari Hana, tidak ada dalam pilihan Santi, membuat ibu dua anak itu menghela napas. Sementara Hana kini menatap sang ibu dengan penuh harap. "Boleh kan? Lagian kata Bunda hari ini Ayah kerjanya siang."
"Boleh, asal hati-hati."
"Yess!" ucapnya riang.
"Gak mau banget kayaknya berangkat sama gue." Rio bersuara. Ia saat ini sedang berkuliah di salah satu Universitas terbaik di Jakarta. Rio terbilang cukup pintar. Membuat Hana terkadang iri dengan prestasi yang kakaknya gapai. Hana akui, ia memang tak sepintar Rio.
"Salah siapa, bawa motor kayak mau ngajak mati." Hana berujar kesal. Pasalnya, ia pernah hampir jatuh ketika dibonceng kakaknya itu. Jadi, ia sedikit takut. Ingat, hanya sedikit.