[ 𝐄𝐍𝐃𝐈𝐍𝐆 ]
Nama panjangnya Ashana Davinia, perempuan cantik dengan latar belakang keluarga yang bahagia juga berkecukupan. Ia menjatuhkan hatinya kepada seorang laki-laki yang memiliki senyuman seindah mentari. Dia Gavino Ardhaputra --- laki-l...
Kemungkinan dari bab 19 -- ending, setiap chap nya bakalan lebih sedikit dari bab 1 -- 18, karena dari bab itu aku cuma ngeluarin draft hehe, kalau dari bab 19 ditulis dadakan kayak tahu bulat.Waktu itu nulisnya pas libur, kalau pas sekolah suka jadi sok sibuk haha :)
Oke segitu aja sii
1900± kata untuk bab ini 💌.
[ Tandai typo, please 🤸 ]
Enjoyy!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Bunda sama Ayah, resmi cerai hari ini."
Air mata Hana lolos begitu saja, mengalir membasahi pipi mulus nya. Tangannya ia angkat untuk mengusap air mata yang akhir-akhir ini selalu lancang mengalir deras diiringi dadanya yang selalu sesak, membuat Hana terlihat seperti manusia paling lemah.
Hana paling tidak bisa menahan rasa yang ada dalam hatinya, mau itu sedih, bahagia, marah, Hana tidak bisa menahannya. Dan bila sedih, Hana akan menangis, tidak bisa untuk berpura-pura baik di depan semua orang.
Kata Hana : "Kalian yang pura-pura baik padahal lagi jauh dari kata itu, hebat banget, gue yang gampang nangis diem aja di pojokan."
Perempuan itu tersenyum getir, menatap bunda nya yang sama sekali tidak mengeluarkan air mata, tatapan nya terlihat datar. Berbanding terbalik dengan dirinya. Tapi, Hana tahu, bunda selalu menangis, saat malam hari tiba. Di saat bunda mengira, kalau anak-anak nya tidak akan tahu, tapi bunda salah.
Hana tahu, dan Hana sakit mendengar tangisan itu.
Isakan pilu sang bunda, terdengar jelas di kedua telinganya. Kata-kata menyakitkan yang keluar dari bunda, akan terekam jelas dalam memori Hana. Dan permasalahan ini, berawal dari Ayah nya.
Ayah -- sosok yang dulu sangat hebat dimatanya. Ayah yang menjadi cinta pertamanya, dan Ayah yang selalu menjadi panutannya. Sosok yang selalu membuat keluarga nya bahagia. Sosok yang akan melakukan apapun demi keluarganya. Sosok Ayah yang sudah mengajarkan nya untuk menjadi anak hebat, kini menjadi sosok yang mengajarkan nya untuk menaruh rasa tidak suka kepada Ayah nya sendiri.
Ayah yang dulu selalu jadi sumber kebahagiaan nya, kini menjadi awal kehancurannya.
Tangan Santi terulur mengusap pipi Hana yang basah bekas air mata gadis itu. Santi mengusap lembut pipi Hana, seulas senyum pun terbit di bibir nya. "Kebahagiaan bunda sekarang, yaitu bahagianya Hana dan Kak Rio. Bunda udah nerima kok, sayang. Mulai saat ini, kita buka lembaran baru, tanpa hadirnya sosok Ayah, ya?"