34 : Sunday With Gavin, Again [END]

25 4 0
                                        

Halow!

Ini Part terakhir 🥺🤍

Seneng banget bisa nulis sampe ending, tapi sedih jugaa harus selesai sampe sini :)

Thank you for reading to the end, I love you guys!

2000± kata untuk chapter ending 💌.

[ Tandai typo, please 🤸 ]

Enjoyy!

'Sahabat itu, rumah gue

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

'Sahabat itu, rumah gue.'

Hana tersenyum tipis saat mengingat ucapan Dara siang tadi. Perasaannya menghangat, senyumnya enggan luntur sedari tadi. Rupanya bahagia sedang menemaninya hari ini. Perempuan dengan baju tidur biru nya yang bergambar bunga itu menatap langit malam yang gelap dengan ditaburi banyak bintang yang teramat indah.

Pikiran Hana menerawang jauh pada masa lalunya. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca, bibir yang tadinya tersenyum bahagia, kini tersenyum getir. Ah, rupanya bahagia sudah bosan dan pergi meninggalkan nya beberapa detik lalu. Tanpa permisi, air matanya lolos begitu saja, tangannya sengaja tidak menghapus air mata itu. Hana membiarkannya terus mengalir membasahi pipinya. Hana membiarkan semesta malam ini mengetahui kalau bahagianya detik tadi, kini sudah berganti dengan gurat sedih penuh kerinduan.

Menghela nafas saat dadanya terasa sesak. Hana berusaha menahan isakannya. Kenapa saat ia merasakan bahagia, rasa sakit dan pikirannya selalu tidak bisa diajak kerja sama? Kenapa rasa sakit selalu menghampiri nya tanpa aba-aba? Bahkan saat dirinya sedang senang sekalipun.

Hana hanya rindu. Ia rindu cinta pertamanya yang sudah lama tak ia dengar lagi suara nya, cinta pertamanya yang sudah lama tak ia lihat wajah tampannya. Hana rindu pada sosok yang sudah mendatangkan luka hebat pada keluarganya. Hana rindu sosok hebat itu.

"Hana rindu ayah..." Bibirnya berusaha tersenyum walaupun terasa sulit. "Rindu banget... Ayah apa kabar?" Lirihnya dengan isakan yang berhasil lolos dari bibirnya. Setelah ayahnya datang ke rumah meminta izin untuk meninggalkan negara kelahirannya waktu itu, disitulah Davin tidak bisa dihubungi.

"Ayah... ayah bahagia gak sama keluarga baru nya?" Hati Hana sangat sakit saat berkata 'keluarga baru.' Nyatanya, ia belum sepenuhnya bisa menerima kepergian ayahnya. Ayahnya masih ada di bumi, tapi kehadirannya seolah hilang. "Rasanya sakit ayah, sakit saat Hana tahu kalau ayah udah lupain Hana.."

"Ayah bahagia sendiri. Ayah gak ajak Hana.. Ayah gak ajak bunda sama kakak. Ayah jahat..."

Hana terus terisak, berusaha meredakan rasa sesaknya dengan menghela nafas berkali-kali. Tapi rasanya masih sama. Sesak ini tidak ingin berhenti. Sesak yang bercampur dengan kerinduan yang terasa sangat menyakitkan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 16, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

HANAGAVINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang