33 : Sahabat Itu Rumah

10 4 0
                                        

Halo!

How are you?

1800± kata untuk bab ini 💌.

[ Tandai typo, please 🤸 ]

Enjoyy!

Perempuan yang sudah rapi itu menatap pantulan dirinya di cermin

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Perempuan yang sudah rapi itu menatap pantulan dirinya di cermin. Tersenyum manis saat ia berhasil mengalahkan pemikiran jahatnya kemarin siang saat Kia memarahi dirinya habis-habisan. Awalnya Aya merasa sangat marah --- karena Kia terus menyudutkannya, tapi saat ia ingin protes, Kia selalu memotong ucapannya dengan kalimat pedas yang mampu menamparnya.

"Gue ikut campur juga karena masalah lo pada jadi berdampak ke persahabatan kita. Gak mikir sampe sana? Najis."

Aya beranjak dari duduknya dengan kesal setelah berkata demikian. Aya kesal dengan sahabatnya yang tidak ada dipihaknya. Padahal ia tidak merasa ikut campur, karena masalah mereka merembet pada persahabatan nya yang menjadi retak. Jadi wajar dong kalau katanya ia ikut campur?

Aya menghentakkan kakinya meluapkan rasa kesal. Tapi langkahnya terhenti saat sebuah suara menghentikan pergerakannya. Aya berbalik badan dan menatap datar saat tahu siapa pelakunya.

"Apa? Mau ceramah lo?"

Di luar dugaan, orang di depannya mengangguk, lalu menyeret Aya menuju taman belakang. Tak perduli jika perempuan itu terus berontak. Ia sudah muak dengan drama ini, ia harus menyelesaikan masalah, salah satunya dengan menyadarkan Aya.

"Apaan si lo?" Aya menatap Kia tak suka.

"Dewasa dikit."

Aya menatap datar ke arah Kia. "Temen lo yang gak dewasa." Katanya.

Kia berdecih pelan. "Cih, lupa diri."

"Ada apa ngajak gue ke sini?" Tanya Aya.

Kia mendudukkan dirinya di kursi, lalu terkekeh pelan, ia menghela nafas sebelum menceramahi sahabatnya ini. "Minta maaf ke Hana."

"Kenapa? Gue gak salah. Kenapa lo mojokin gue seakan di sini gue yang paling salah?" Tanya Aya tak suka.

"Tuh kan, sahabat gue bisa gak tahu diri juga ternyata." Ketus Kia. "Lo gak ngerasa kalau lo juga mojokin Hana seakan-akan dia yang merasa paling tersakiti?"

"Ya dia emang ngerasa paling tersakiti,"

"Dan lo ngerasa paling bener."

Aya terdiam saat mendengar itu. Ia sedikit tersinggung dan kehabisan kata-kata. "Coba deh lo bayangin kalau ada di posisi Dara sama Hana."

Melihat Aya terdiam, membuat Kia mengajukan pertanyaan. "Mau dari sudut pandang Hana atau Dara dulu?"

"Apa maksud lo?"

HANAGAVINTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang