Chapter Two

2K 208 11
                                        

Aku menatap sekelilingku heran. Dimana ini? Seingatku setelah mengerjakan tugas sekolah aku langsung pergi tidur. Apa aku sedang bermimpi lagi?

Ku tatap sekelilingku lagi. Gelap. Disini sungguh gelap dan pengap. Sebenarnya aku ada dimana?

Aku bangkit berdiri dan berjalan pelan mencari sesuatu yang setidaknya bisa menajdi petunjuk.

Dugh

Ahhh, apa itu? Apa yang ku tabrak barusan?

Aku menjulurkan tanganku meraba benda yang barusan ku tabrak. Sepertinya itu rak.

Ya, ini memang rak. Aku bisa meraba beberapa buku tersimpan disana.

Tak!

Seketika aku berhenti melangkah. Aku mendengar sesuatu jatuh di belakangku. Pelan-pelan aku melirik ke belakang. Gelap, aku tidak bisa melihat apapun.

Tak!

Sekali lagi aku mendengar benda jatuh, tapi kali ini suara itu dari depanku. Aku mencoba melangkah pelan-pelan sambil tetap meraba rak yang ada di sampingku.

Mataku memicing berusaha fokus ke arah depan yang gelap gulita. Ini benar-benar mengesalkan. Sebenarnya ada dimana aku ini?

Tak!

Bersamaan dengan suara itu, kakiku merasa menginjak sesuatu. Sesuatu menghalangi jalanku. Dengan penasaran aku meraba-raba ke arah depan.

Seketika aku melotot. Sesuatu yang dingin menyentuh tanganku. Lalu aku merasa tanganku mengenai sesuatu yang seperti rambut?

Sesuatu di depanku itu bergerak menarikku untuk jongkok.

Tangaku mulai gemetar. Tubuhku merinding. Suhu di sekelilingku tiba-tiba menjadi dingin. Ada apa ini?

Aku coba menarik tangaku, tapi tidak bisa. Ada yang menahan tanganku. Nafasku memburu ketakutan. Jangan bilang itu hantu. Sesuka-sukanya aku dengan film horror, tapi kalau mengalami langsung begini tentu saja aku takut.

Seketika bayangan hantu berwajah seram dan badan ringsek yang pernah ku lihat di film-film berseliweran di otak ku. Ini sungguh menakutkan.

Aku ingin teriak meminta tolong, tapi suaraku tidak keluar seperti tertahan.

"Sstt... jangan berisik."

Aku membeku ketika mataku menangkap jelas sosok yang menahanku.

Sosok itu kini terlihat jelas, bukan hantu dengan wajah seram dan badan ringsek melainkan seorang gadis yang terlihat seumuran denganku. Rambut panjang yang berantakan. Baju seragamnya yang lusuh. Tunggu seragam? Sepertinya aku pernah melihat seragam itu, tapi dimana?

Ku lihat wajahnya yang begitu pucat seperti mayat. Ada beberapa lebam di wajahnya yang pucat itu. Gadis itu menatapku ketakutan. Apa yang terjadi dengannya?

"Kau-"

Belum sempat aku bertanya ia langsung membekap mulutku dengan tangannya yang bergetar hebat.

Ia menggeleng dengan cucuran air mata. Lalu tiba-tiba menarik ku berdiri dengan panik.

Dengan wajah panik ia menyerahkan sesuatu kepadaku. Buku coklat usang yang sedari tadi ia peluk erat.

"Pergi... lari... dia datang... cepat..."

Aku mengerut bingung dengan ucapannya yang terbata-bata itu.

Another Eyes ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang