Chapter Twelve

1.3K 154 12
                                        

Jangan lupa Vote nya ya minna~

Selamat membaca~




®®®



"Haruno Sakura? Siapa dia?"

Laki-laki yang masih menekuni buku catatannya itu lantas menoleh ke arah wanita yang duduk di ranjang dengan keadaan polos tanpa sehelai benang pun.

"Oh, dia gadis seperti yang lainnya," ujarnya sambil memainkan pulpen bertinta merah yang baru saja ia gunakan untuk menulis nama gadis pemilik rambut sewarna bunga kebanggaan negaranya.

Wanita itu beranjak pindah dari ranjang ke pangkuan si pria yang langsung merengkuhnya. Tangannya asik memainkan kalung berbandul kipas yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu.

"Sepertinya aku harus menyiapkan bunga sakura untuk di tabur di pemakamannya nanti. Bagaimana rupa gadis itu?"

Si pria melirik sejenak tulisan di bukunya itu. "Dia seperti yang lainnya. Yah, walaupun tubuhnya tidak sebagus Yamanaka Ino, dadanya kecil, rambutnya aneh berwarna merah muda. Ck, pantas saja orang tuanya menamainya Sakura. Mereka kira dengan memberi nama Sakura, gadis itu akan menjadi kebanggaan. Sayang sekali takdirnya mengharuskan ia mati sebentar lagi. Salah sendiri dia berani muncul di hadapanku. Yah, meskipun selama ini terkadang aku berinteraksi dengannya mengenai sekolah. Tapi, sepertinya dia mengetahui sesuatu tentang kasus tahun lalu."

Si wanita berjengit, matanya menatap tajam si pria. "Apa!? Bagaimana bisa? Bukankah kau sudah melenyapkan semua bukti dan saksi mata?"

Si pria mengedikan bahunya acuh, lalu matanya kembali melirik buku catatan miliknya itu. "Sepertinya gadis jalang itu masih menyembunyikan bukti tentang aktivitasku. Haaaah, sudah mati masih saja merepotkan, benar-benar jalang sejati!" ujarnya sambil menyandarkan kepala di sandaran kursi. "Apa aku harus menggali kuburannya dan menyetubuhinya kembali agar dia tenang di alam sana dan tidak membuatku repot?"

Mengernyit jijik, wanita itu bangkit berdiri lalu meraih kotak perhiasan yang ada di dalam laci meja. Setelah memasukan kunci kecil, ia membuka kotak tersebut dan mengambil selembar foto berukuran 2x3. Ia menatap sinis foto tersebut, foto seorang gadis dengan seragam sekolah.

"Kalau begitu, kau harus cepat-cepat melenyapkannya. Sebagaimana kau melenyapkan gadis ini." Senyum merekah terpatri di bibirnya yang masih bengkak akibat kegiatan panas mereka beberapa menit yang lalu. Lalu ia kembali duduk di pangkuan si pria yang mengangkang menyambutnya. Dan sesuatu yang keras memasuki inti tubuhnya, ia mendesah nikmat ketika benda tersebut sudah sepenuhnya berada dalam dirinya.

"Kali ini kita tidak bisa bergerak cepat. Dia di lindungi, tapi tenang saja, aku sudah punya rencana untuk itu," kata si pria dengan seringai di bibirnya. Sebelah tangannya bergerak membantu wanita yang duduk di pangkuannya itu menaik turunkan tubuhnya dan sebelah lagi terulur menutup buku catatan miliknya."Pertama-tama aku hanya perlu bermain dengan kawannya ini," sambungnya sambil meraih foto seorang gadis berambut pirang yang tengah tersenyum cerah.








•••

Sakura mengusap dahinya yang mengeluarkan keringat. Matanya melirik beberapa dus yang baru saja ia bawa.

"Ini dus terakhir." Kakashi datang dengan membawa beberapa tumpukan dus kecil di tangannya, lalu menyimpannya di atas dus yang sakura bawa. "Terimakasih ya, sudah membantu," ujarnya dengan mata menyipit karena tersenyum.

Sakura mengangguk sambil balas tersenyum, lalu Keduanya beranjak berniat meninggalkan ruangan penuh kenangan sekolah itu. Namun, Sakura menghentikan langkahnya ketika matanya menatap sesuatu yang terasa sangat familiar. Kakinya melangkah mendekati lemari kaca yang memajang beberapa seragam sekolah.

Another Eyes ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang