"Sakura..."
Sakura berbalik ketika suara yang memanggilnya itu kembali muncul. Ia pendarkan matanya menelisik sekitar tempatnya berada. Sejauh mata memandang hanya ada awan putih dimana-mana, bahkan tempat yang ia pijak pun terasa begitu lembut, selembut kapas dan juga dingin seperti ada angin berhembus di bawah sana.
"Sakura.."
Lagi-lagi suara itu terdengar, memanggilnya dengan lirih. Sakura menoleh kesana kemari mencari sumber suara itu sampai matanya berhenti di satu titik. Awan putih di depannya mulai bergerak membentuk seseorang. Lama kelamaan awan itu berubah warna dari hitam sampai warna lainnya yang mengiasi baju seragam orang itu.
Sakura menyipitkan matanya, merasa familiar dengan wajah orang di depannya itu. "Kau!"
Orang itu tersenyum dan berjalan mendekat. Tangan pucatnya bergerak menggenggam tangan Sakura.
Sakura berjengit ketika merasakan dingin merayapi tangannya seiring kulitnya bersentuhan dengan kulit pucat orang itu.
"Akhirnya aku bisa berkomunikasi denganmu tanpa gangguan." Ucap orang itu dengan tatapan sendu.
"Ke-"
"Dengar. Sakura, kau harus segera menangkapnya. Salah satu orang terdekatmu kembali dalam bahaya. Nama teman pirangmu tertulis di bukunya dan itu bukanlah hal baik. Temanmu akan berakhir seperti kami dan wanita itu. Kau harus cepat sebelum dia menyakiti temanmu."
"A-apa maksudmu?" Sakura menatap bingung orang –gadis yang dulu pernah mengikutinya dan teman-temannya sewaktu pulang sekolah–(Chp.6)
"Sekarang dia mengincar salah satu temanmu. Kau harus bergerak cepat sebelum dia mati seperti wanita itu!"
"S-siapa yang kau maksud?"
"Kau sendiri melihatnya bukan betapa kejamnya wanita itu di bunuh?"
Seketika ingatan mimpinya tentang Rin seliweran di otaknya. "Bibi Rin...." Lirihnya.
"Dia berbahaya. Dan sekarang dia mengincar temanmu! Kau harus segera menangkapnya!" Ucap gadis itu sambil mengguncang tubuh Sakura. "Carilah setiap lembar halaman dari diari itu. Mereka di kubur di suatu tempat. Itu adalah bukti-bukti dari kejahatannya."
"Kau harus cepat! Teman pirangmu dalam bahaya!"
"I-ino?" Tanya Sakura. Seingatnya teman pirangnya hanya Ino saja.
"Kau harus segera menangkapnya kalau tidak orang-orang terdekatmu akan mati!" Teriak gadis itu sambil terus mengguncang lengan Sakura
Sakura tersentak, "Apa maksudmu!"
Gadis itu menggeleng, tangannya mencengkram kuat lengan Sakura lalu mengguncangnya kuat. "Tidak ada waktu lagi! Kau harus cepat sebelum semuanya mati!"
"Apa maksudmu! Katakan dengan jelas!" Seru Sakura sambil berusaha melepaskan cengkraman gadis itu.
"Kau harus cepat!"
"Apa yang harus aku lakukan!? Aku bahkan tidak tau lembaran itu terkubur dimana!" Sakura menjerit frustasi. Rasa takut yang merayapi hatinya membuatnya panik.
"Kau tau! Ingatlah semua mimpi-mimpimu, Sakura. Kau pasti bisa mencarinya. Kau harus cepat!" Setelah mengatakan itu tiba-tiba gadis itu malah beringsut mundur menjauhinya sambil berseru, "Dia jahat! Dia bengis dan kejam. Dia berbahaya, sangat-sangat berbahaya. Berhati-hatilah Sakura..." Ucapnya sambil terus berjalan mundur lalu hilang di telan awan putih.
"Oh hey! Tunggu! Jangan pergi!" Seru Sakura berusaha mengejar namun nihil, gadis itu sudah hilang.
Sakura menatap sekelilingnya cemas. Otaknya tersus memutar ucapan gadis itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Eyes ✓
عشوائي[END] Penasaran dengan teror aneh yang di alaminya, Sakura mencoba mencari tau penyebab teror itu dan apa yang diinginkan si peneror. Di bantu oleh Naruto dan sahabat lainnya. Mereka berusaha mecari sesuatu yang seharusnya tidak mereka cari. Sesuatu...
