Extra Chapter 1 - The Baby

1.4K 129 7
                                        

Saat itu di musim semi yang cerah, bayi merah itu lahir lebih cepat dari perkiraan dokter yang seharusnya masih 2 bulan lagi. Saking kecilnya ukuran bayi itu, dokter dan para perawat harus ekstra hati-hati selama proses persalinan berlangsung. Tangis haru langsung memenuhi ruang bersalin ketika suara tangisan bayi terdengar melengking. 

Haruno Mebuki menangis haru ketika tubuh bayi yang masih merah itu di simpan di atas dadanya. Ia elus pelan  sambil sesekali mengecup kepala si bayi. Haruno Kizashi pun tak kalah terharunya, ia sampai menangis heboh sambil menyalami semua tangan yang ada di sana. Bahkan tak segan-segan ia mengajukan undangan hajatan syukuran atas lahirnya putri cantik mereka itu. Para dokter dan perawat hanya bisa menggeleng geli melihat suka cita keluarga haruno tersebut.

Sedangkan di salah satu sekolah dasar ternama, terlihat seorang bocah berumur 10 tahun tengah duduk santai bersama teman-temannya sambil bermain konsol game. Ia melirik malas gerbang sekolahnya yang mulai sepi. Seharusnya supir jemputannya itu sudah datang, ia ingin segera duduk manis menemani ibunya yang berada di rumah sakit.

"Hey, Sasori... main yang benar dong, jadi kalah, kan..." Bocah berambut kuning yang duduk di sampingnya merengek kesal akibat game yang mereka mainkan bersama mengalami kekalahan.

Bocah bernama Sasori hanya meliriknya malas. Pemuda itu kemudian meraih ponselnya dari dalam tas berniat menghubungi supir keluarganya.

"Hey, Sasori jemputanmu sudah datang tuh," ujar salah satu bocah berambut putih gelap sambil menunjuk sebuah mobil yang memasuki kawasan sekolah.

"Hmmm," Sasori berdiri dari duduknya dan segera menggendong tasnya. "Hidan, Dei, Itachi... aku duluan." Ia melambai sebentar kearah ketiga kawannya sebelum menaiki mobil jemputannya.

"Paman kenapa lama sekali?" tanyanya saat sudah duduk manis di dalam mobil.

Si supir meliriknya lewat kaca spion tengah. "Ahhh, tadi saya harus menjemput tuan Haruno."

Sasori menelengkan kepalanya bingung. "Ayah? Bukannya ayah harusnya sudah terbang ke London tadi pagi?"

Si supir tersenyum cerah. "Nyonya baru saja melahirkan, tuan muda."

"Apa?! Ibu melahirkan?!"

Dan selanjutnya, Sasori menyuruh si supir untuk mengemudikan mobil dengan cepat ke rumah sakit. Antara bahagia dan bingung Sasori menatap cemas jalanan di depan sana. Yang ia tahu ibunya hanya mengalami keram perut saja kemarin dan jadwal lahiran pun di perkirakaan masih 1 bulan lagi. Kenapa bisa secepat ini? Apa terjadi sesuatu?

Dan pikiran-pikiran buruk tentang suatu hal itu sirna ketika matanya melihat keadaan sang ibu baik-baik saja. Dan yang paling membuatnya terdiam dengan mata berbinar adalah bayi mungil yang berada dalam inkubator.

"Kecil sekali..." Wajah dan tangan Sasori menempel di dinding kaca inkubator. Matanya terus menatap bayi merah yang ada di dalamnya, meneliti penuh tubuh kecil itu.

Kizashi terkekeh melihat wajah antusias anak sulungnya itu. "Kau ingin menggendongnya?"

Atensi mata Sasori langsung berpindah kepada sang ayah. Ia menatap terkejut Kizashi. "Me-memangnya boleh?"

"Boleh. Tapi harus memakai baju ini dan membersihkan tangan dulu biar steril." Sorang perawat yang menemani mereka bergerak menyerahkan baju khusus untuk memasuki ruangan steril tersebut.

Sasori dengan wajah tegang mencuci tangannya dengan air dan sabun khusus. Setelah kain berwarna biru itu terpasang rapih di tubuhnya, ia digiring masuk ke ruangan di mana adiknya berada.

"Pegang seperti ini ya... pelan-pelan saja... jangan panik." Si perawat memberi arahan sambil membantu Sasori menggendong dengan benar bayi kecil itu.

Kizashi terkekeh geli melihat wajah Sasori yang terlihat ingin menangis. Pipi bocah itu bersemu merah dan matanya berkaca-kaca siap menangis.

Another Eyes ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang