Seutas nama yang di sebutkan ibu-ibu komplek tadi mambawa mereka ke sebuah gedung apartemen yang diketahui sebagai tempat dimana pria pemilik nama itu tinggal.
Gedung apartemen yang tidak asing lagi bagi Sasuke dan Shikamaru, mereka pernah datang bertamu untuk mengambil tugas jika dia tidak bisa datang ke sekolah.
"Apa hubungannya Kakashi-sensei dengan almarhum Natsumi?" tanya Hinata dengan nada lirih, ia menatap gedung bertingkat di hadapannya.
"Tidak mungkin mereka bersaudara, kan?" Naruto melirik kawan-kawannya gamang.
Ino mendengus, lalu terkekeh remeh sambil emnatap Naruto."Jangan bercanda! Mereka tidak ada kemiripan sedikitpun. Warna mata, warna rambut dan bentuk wajah mereka sangat beda jauh. Tidak mungkin mereka bersaudara," katanya mengelak kemungkinan positif itu.
"Aku tidak percaya kalau Kakashi-sensei adalah si pembunuh itu..." Hinata menggeleng cepat. Ia tidak percaya jika guru bermaskernya itu adalah seorang pembunuh. Se-cuek dan se-dinginnya Kakashi, pria itu terkadang membantu muridnya yang kesusahan. Apalagi hubungannya dengan Rin yang bersahabat dari sejak kecil. Tidak mungkinkan pria itu tega membunuh sahabatnya sendiri. Hinata kembali menggeleng mengenyahkan segala persepsi yang mulai mengacau di otaknya.
"Bisa saja."
Semua mata langsung menatap Shikamaru. Pria yang paling logis pun mencurigainya.
"Kalian ingat saat kita berbicara dengan ibu-ibu komplek tadi ada yang meneleponku?"
Naruto melotot ke arah Shikamaru. "Jangan bilang itu Kakashi-sensei..."
Shikamaru mengangguk mantap, ia menatap kawannya satu persatu. "Meskipun nomornya acak, aku bisa mengenali suaranya."
"Lalu sekarang kita akan menemui si pembunuh itu? Kalian waras?" Neji menatap tajam kawan-kawannya itu. Ia tak habis pikir, jika sudah tau begitu kenapa mereka masih memaksa datang kemari.
"Lalu membiarkannya lolos? Sekarang atau tidak sama sekali. Polisi saja sangat kesulitan mengungkap si pembunuh, kita yang akhirnya akan menemukan titik terang tidak mungkin mundur begitu saja dan membiarkannya lolos lagi. Dia mungkin akan kabur dan hilang entah kemana saat kita lengah sedikit saja. Lalu menunggu waktu yang tepat untuk membunuh kita satu-persatu. Tidak ada jalan selain terus maju. Jika benar dia pembunuhnya, mungkin dia sedang memikirkan dengan cara apa dia akan membunuh kita ketika dia menonton kita sedari tadi dari atas sana," ujar Sakura yang sedari tadi diam. Kepalanya menengadah ke atas, menatap salah satu jendela apartemen yang menampilkan sesosok pria berdiri diam di sana.
"A-astaga!" Ino memekik kaget melihat orang yang berdiri di jendela itu. Beberapa menit kemudian orang itu masuk ke dalam apartemennya bersamaan dengan Itachi dan Sasuke yang baru kembali entah dari mana.
"Aku sudah meminta bantuan beberapa temanku di kepolisian. Mereka kebetulan sedang libur tugas dan sedang santai. Mereka akan berjaga di cafe depan. Aku sudah memberi mereka beberapa instruksi. Jika dalam waktu 20 menit kita tidak kembali, mereka akan menyusul dan melapor ke kepolisian," kata Itachi.
Sai mengernyit, ia menatap tajam Itachi dan Sasuke. "Kalian tahu ini sangat berbahaya bukan? Kenapa tidak minta bantuan paman fugaku saja langsung, pria yang kalian sebut sensei bisa saja pembunuhnya."
Sasuke menatap kawan-kawannya satu persatu. "Aku, itachi dan Shikamaru akan pergi kesana." putusnya yang membuat Sakura mengernyit tak setuju.
"Lalu kami?" Naruto menunjuk dirinya dan yang lainnya yang namanya tidak di sebut.
"Kalian tunggulah bersama teman itachi-nii di cafe depan," kata Shikamaru.
"Aku ikut!" Sakura dengan wajah datar membalas tatapan tajam yang Sasuke layangkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Another Eyes ✓
Losowe[END] Penasaran dengan teror aneh yang di alaminya, Sakura mencoba mencari tau penyebab teror itu dan apa yang diinginkan si peneror. Di bantu oleh Naruto dan sahabat lainnya. Mereka berusaha mecari sesuatu yang seharusnya tidak mereka cari. Sesuatu...
