Extra Chapter End

1.8K 125 19
                                        

Belum berakhir masa duka akibat meninggalnya kedua orang tuanya. Sasori harus dihadapkan dengan perusahaan sang ayah yang tiba-tiba mengalami kerugian besar akibat penipuan dana yang dilakukan beberapa karyawan di perusahaan. Para investor dengan sadisnya meminta ganti rugi uang yang telah mereka investasikan menjadi dua kali lipat. Keluarga Uchiha berusaha membantu sebisa mungkin namun Kerugian itu terllau besar dan mengharuskan Sasori menjual semua saham yang ayahnya wariskan. Perusahaannya bangkrut dalam sekejap. Rumah besarnya di sita bank dan semua aset keluarga Haruno juga disita bank.

"Kau bisa tinggal bersama kami, nak." Mikoto menatap prihatin Sasori yang tengah memangku Sakura yang tertidur.

"Tidak apa-apa bibi. Kami akan tinggal di apartemen saja."

Untungnya apartemen bekas Kizashi dulu tinggal tidak ikut di sita bank. Dan untungnya juga Sasori masih memiliki tabungan yang mungkin cukup untuk kehidupan mereka satu tahun kedepan. Sudah cukup ia merepotkan keluarga Uchiha yang sudah rela ikut menjual saham demi membayar kerugian perusahaan ayahnya. Oleh karena itu, ia memilih tinggal di apartemen dan mengurus kedua adiknya sendirian.

"Kalau kau sekolah nanti, siapa yang akan menjaga mereka?" tanya Itachi yang tidak setuju Sahabatnya iru tinggal sendirian di apartemen dan mengurus kedua adiknya.

"Aku akan menitipkan mereka ke penitipan anak sampai aku pulang."

Mikoto menghela nafasnya pelan. "Begini saja. Selama kau sekolah biarkan anak-anak bermain di sini. Jadi saat kau pulang, kau bisa menjemput mereka ke sini. Bagaimana?" Ia tahu jika keputusan Sasori sudah tidak bisa digugat lagi. Pemuda merah iru memiliki pendirian yang kuat seperti kedua orang tuanya.

"Baiklah, jika itu tidak merepot-"

"Merepotkan apanya... Bibi malah senang, kalian itu sudah bibi anggap anak sendiri. Jadi jangan merasa merepotkan bibi." potong Mikoto cepat. Ia menepuk pelan bahu tegar Sasori.

"Kalau begitu kamit pamit dulu, salam untuk paman Fugaku." Sasori menggandeng tangan Naruto dan membawanya keluar dari rumah besar tersebut.

Itachi dan Mikoto mengantarnya dengan perasaan tak tega. Seberapa kalipun mereka berusaha membujuk Sasori, pemuda merah iru akan tetap pada pendiriannya.

"Hey, Sasori jika ada apa-apa cepat hubungi aku."

Sasori mengangguk, ia masuk lebih dulu untuk menidurkan Sakura di jok belakang.

"Sekali lagi aku berterimakasih atas bantuan kalian." Sasori membungkukkan badannya diikuti Naruto yang masih berdiri di samping mobil.

"Bye Sasuke!" Naruto melambaikan tangannya kearah Sasuke yang diam berdiri di samping ibunya dengan wajah datarnya. Sedikitnya bocah itu kecewa karena tidak bisa melihat wajah Sakura setiap waktunya.

"Kabari bibi jika sudah sampai, ya..." Mikoto menatap sendu kepergian anak sahabatnya itu. Meskipun jarak apartemen Sasori dengan rumahnya tidak terlalu jauh, tetap saja ia akan selalu cemas setiap waktunya.

"Dia itu memang keras kepala," ujar Itachi sambil menggelengkan kepala mengingat betapa keras kepalanya Sasori dalam memilih tinggal di apartemen sendirian.

•••

Dari semenjak itu, Sasori benar-benar berperan sebagai ibu dan ayah serta kakak bagi kedua adiknya. Ia akan selalu siap siaga untuk Naruto dan Sakura. Memasak, mencuci dan membantu adik-adiknya mengerjakan PR ia lakukan setiap hari. Tak jarang ia merasa lelah dan letih, rasanya ia ingin menangis saking lelahnya. Namun ketika melihat wajah ceria kedua adiknya semua rasa lelah itu hilang sudah tergantikan dengan semangat baru.

Seperti saat ini, ia baru saja selesai bekerja seharian dan merasa sangat lelah. Namun saat membuka pintu apartemen dan mendapati kedua adiknya dalam keadaan kotor oleh tepung dan krim membuat ia tak bisa berkata-kata. Bukan, ia bukannya marah tapi ia merasa terharu, apalagi melihat sesuatu yang di pegang keduanya.

Another Eyes ✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang