Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Byuuurrrrrrr...
Pada akhirnya tubuh sepasang kekasih itu tercebur bersamaan di sebuah danau. Pelukan mereka terlepas, sedetik sebelum air itu memecah dan memercikkan isian danau kemana-mana. Yuta cepat menggerakkan tangannya. Meskipun dadanya masih terasa nyeri —ia tetap harus berusaha lebih kuat untuk menjaga kekasihnya.
"Lisa?" Panggilnya, saat hamparan air itu mulai tenang dan tak menampilkan bagian wajah cantik yang tadi terjun bebas bersamanya.
Berpikir sebentar, Yuta berusaha mencari suara pikiran gadis itu untuk memberikan petunjuk tentang keberadaannya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tapi, kosong.
Nyatanya Yuta tak mendengar suara apa-apa kecuali percikan air danau yang kini tengah membuat tubuhnya menggigil.
Tak putus asa, pria itu pun hendak segera menyelam demi mencari keberadaan kekasihnya. Hingga kemudian gebyaran air menggagalkan rencananya. Senyumnya terpatri, saat melihat gadis yang dicintainya itu menunjukkan wajah cantiknya yang juga tengah kedinginan.
"Li—"
"Keparat! Bisa-bisanya kau membuatku hampir mati begini?!"
Bibirnya menggerutu sebal, sambil menggerakkan tangan untuk menepi kepinggir danau. Yuta pun perlahan mengikuti gerakannya. Lalu tak lama keduanya benar-benar sudah menepi di sana.
"Apa menurutmu aku pantas mati hanya demi makan Ramen?"
"Aku tidak bermaksud begitu."
"Lalu? Ah, aku sangat yakin, kau sebenarnya memang sengaja membuatku berada di dalam situasi berbahaya untuk mengancamku kan?"