Hari sudah malam tapi Wei Wuxian masih setia berada di kamarnya. Mengunci diri disana. Lan Wangji datang, berusaha membujuknya sekaligus membawa nampan berisi makanan untuk Wei Wuxian.
Tok tok
Lan Wangji mengetuk pintunya terlebih dahulu. Suara Wei Wuxian yang cukup serak terdengar dari dalam, memastikan siapa yang datang sebelum ia mengijinkannya masuk.
Lan Wangji kemudian membuka pintunya perlahan usai diijinkan. Disana ia melihat Wei Ying-nya tengah membuat jimat. Berbagai jimat yang tidak jadi berserakan di bawah. Ruangannya cukup kacau. Lan Wangji menggeleng pelan melihat kondisi ruangan ini. Dia kemudian berjalan hati-hati mendekati Wei Wuxian, berusaha untuk tidak menginjak kertas jimat yang tersebar.
Wei Wuxian menghentikan kegiatannya usai Lan Wangji berada tepat didepannya. Dia melihat Lan Wangji membawa nampan berisi makanan dan memintanya untuk makan. Usai makan, Wei Wuxian menanyakan keberadaan a-yuan pada Lan Wangji dan dijawab bila bocah itu kini tengah bersama Lan Qiren.
A-Yuan memang sempat bersama dirinya sebelum dibawa oleh bibi Jia. Selama Wei Wuxian mengurung diri di kamar, bocah itu bahkan tidak terdengar sama sekali. Lan Wangji berkata jika A-Yuan menempel pada Lan Qiren usai rapat selesai. Ia tidak mau melepaskan Lan Qiren sama sekali bahkan menolak siapapun yang berusaha mengambil dirinya. Lan Wangji juga kena imbasnya, a-Yuan menangis ketika melihat dirinya dan melihatnya seolah ia penjahat karena memotong janggut Lan Qiren, mainan favoritnya.
Wei Wuxian tertawa mendengar ini. Melihat ekspresi Lan Wangji yang rumit usai menceritakan hal ini membuatnya tidak bisa menahan tawa.
Wei Wuxian kemudian menyalahkan Lan Wangji yang memotong janggut Lan Qiren tepat didepan A-Yuan menggunakan Bichen. Padahal itu salah Wei Wuxian yang tidak membawa pergi A-Yuan terlebih dahulu.
Guna mengalihkan topik, Lan Wangji bertanya pada Wei Wuxian tentang apa yang tengah dikerjakannya.
Wei Wuxian berkata bila itu adalah jimat pelindung, jimat komunikasi dan sebagainya. Rata-rata adalah alat yang tujuannya akan digunakan saat perang berlangsung.
" Mengenai rapat tadi. Apa yang kalian bicarakan ? " tanya Wei Wuxian.
Tangannya kembali melukis jimat. Melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.
" Kami berencana untuk menyerang diam-diam bulan depan. " jawab Lan Wangji.
" Dan siapa yang akan dikirim? " tanya Wei Wuxian kembali.
" Aku, Tuan muda Jin, Tuan Muda Jiang, 200 anggota Lan, 150 anggota Jiang, dan masih banyak yang lain akan tergabung dalam misi ini. Kami bukan hanya menyerang secara diam-diam tapi juga mencari sekutu dan membantu warga yang terdampak. "
Wei Wuxian mengangguk mendengar jawaban Lan Wangji sebelum ia tersadar, " Tunggu. Lan Zhan, Jin mana yang kau maksud ? "
Seingatnya dia hanya menyelamatkan dua sekte besar seperti Lan dan Jiang saja karena hanya kedua sekte itu yang terdampak parah akibat ulah sekte Wen. Lantas mengapa ada Jin disini ? Kalau itu Jin Zixun, ingatkan dirinya untuk menebas si congkak itu terlebih dahulu sebelum mulutnya yang ember dan kepribadian congkaknya membahayakan semua rencana.
" Tuan Muda Jin Zixuan. Tunangan shijiemu. "
Oh, Wei Wuxian baru mendengar ini. Seingatnya, Jin Zixuan baru dekat dengan sang shijie usai pertandingan berburu di gunung Phoenix. Sedangkan semasa perang berlangsung, Jin Zixuan ini justru merendahkan shijie-nya, termasuk adegan melempar sup iga akar teratai dan menuduhnya berbohong, sekaligus mengejeknya dengan menyamakannya dengan seorang pelayan karena sudi menyentuh dapur dan repot-repot membuat makanan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Boy Into Girl
FanfictionKetika aku bangun tubuhku berubah Jari tangan yang lentik, kulit putih pucat yang halus, dan sesuatu seperti tergantung di dadaku. Apa ini ? Kemana hilangnya otot yang sudah kubentuk dengan susah payah ? lalu pedang dan 2 bola milikku juga hilang...
