Kata orang, level tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan. Dan kini, Raya harus belajar untuk menerima kenyataan. Bahwa Nando tidak pernah mencintainya. Tetapi untuk ikhlas, tidak semudah kelihatannya. Makanya, Raya membiarkan semuanya mengalir begitu saja tanpa memaksa untuk cepat selesai.
Setidaknya, ia tahu lebih cepat.
"Lo jadian sama Nando?"
Nelisa tampak terkejut, bahkan mata gadis itu membola. Lalu sedetik kemudian, ia duduk menghadap penuh ke arah Raya.
"Lo kok bisa tau?" tanya Nelisa.
Namun belum sempat Raya menjawab, Nelisa kembali bersuara. "Oh iya, lo kan deket sama dia. Pasti dari dia kan?"
Raya tersenyum tipis, berusaha menutupi rasa sakitnya. Nelisa tahu jika dirinya dekat dengan Nando. Gadis itu juga seharusnya tahu, tidak mungkin lelaki dan perempuan dekat jika salah satunya tidak melibatkan perasaan.
Tetapi, Raya seharusnya tidak menyalahkan Nelisa. Justru dirinya yang salah karena tidak jujur dari awal. Jika sudah begini, Raya bisa apa selain mengalah? Lagian juga, mereka saling mencintai.
Raya mengangguk. "Iya, dia seneng banget. Lo tau nggak sih apa yang gue obrolin selama ini? Dia tuh nggak pernah ngelewatin nama lo. Selamat ya!"
Nelisa tampak tidak percaya, tetapi gadis itu tersenyum semakin lebar. Entah apa yang Nelisa pikirkan, Raya tidak ingin tahu. Itu semua jelas menyakitinya lebih dalam. Bagaimana mungkin dia tega menghancurkan senyum penuh kebahagiaan itu?
"Nggak percaya gue. Tapi makasih ya!" balas Nelisa antusias.
Raya tersenyum lalu mengangguk. "Sama-sama."
"Daffa!"
"Setiap jalan mata lo dikemanain sih? Apa mata lo rabun deket? Sampai gue di sini, segede ini nggak keliatan?"
Nelisa dan Daffa sontak menutup telinganya akibat teriakan Raya yang bukan main. Lalu setelah gadis itu berhenti misuh-misuh, Daffa berdehem.
"Lo yang salah," katanya. Sambil menaikkan satu alis, lelaki itu kembali bersuara. "Tangga bukan buat duduk, tapi buat orang jalan."
Raya berdecak kesal! Tidak salah sih, tapi memangnya lelaki itu tidak bisa bicara baik-baik atau permisi gitu?
"Lo bisa 'kan bilangin gue pelan-pelan atau permisi gitu? Gue bisa mati lo senggol-senggol mulu!"
"Lebay." Daffa kembali berujar santai, tidak peduli dengan wajah Raya yang sudah memerah padam.
"Lo yang salah, harusnya lo yang sadar. Bukan cari pembelaan. Awas, gue mau lewat," lanjut Daffa tenang.
Raya minggir sambil misuh-misuh, sepanjang Daffa melewatinya dan kini lelaki itu sudah berada di tangga lebih atas, tangan Raya tidak berhenti mengepal erat. Rasanya jika bertemu dengan Daffa, maka emosinya meluap begitu saja.
Tepat di tangga paling atas, Daffa menoleh.
"Nggak usah marah-marah terus mak rombeng, malu sama kisah percintaan lo yang kandas mulu!"
"Heh dasar mulut reog lo!" balas Raya tidak kalah berteriak.
Daffa terkekeh, tidak menanggapi dan memilih melanjutkan perjalanannya.
Nelisa meringis kecil, melihat wajah Raya merah padam. Sebelum akhirnya, ia memegang pundak Raya guna menangkan.
"Udah, orang kayak gitu ngapain lo ladenin. Bikin tenaga abis aja," ucap Nelisa.
Raya memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya kembali.
"Tuh anak emang rese. Sial banget sekelas sama dia, ketemu setiap detik, menit, mana bikin kesel setiap hari!" gerutu Raya, sembari menaiki tangga.
Nelisa ikut saja, walaupun telinganya panas karena mendengar ocehan sahabatnya. Ya, setidaknya itu bisa menyalurkan emosi Raya. Dari pada dipendam terus nanti jadi stres.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Raya
Teen FictionDidekati lelaki karena lelaki itu menyukai sahabatnya? Raya tidak pernah menyangka akan itu. Namun, di balik itu semua, nyatanya ada sosok yang membuat Raya tidak pernah bisa mendeskripsikan bagaimana lelaki itu hidup. Daffa Ganuar, lelaki itu tamp...
