"Tumben lo diem aja? Kehabisan topik?"
Daffa tersenyum kecil serta menggeser duduknya untuk Raya. Jam istirahat sudah tiba lima menit lalu, tetapi Daffa belum beranjak. Padahal biasanya guru baru keluar, lelaki itu sudah menjalankan aksinya entah keluar ke kantin atau sekedar merecoki Raya.
"Gapapa, gue cuma lagi nggak mood ngapa-ngapain."
"Yeee kaya cewe aja lo!"
Daffa kali ini terkekeh sebentar, sebelum akhirnya diam lagi. Daffa yang seperti ini justru membuat Raya bingung. Rasanya ia seperti tidak mengenal Daffa yang biasanya.
"Lo kenapa sih? Putus cinta? Apa dighosting, sama cewe mana?"
Daffa membuang napas pendek. "Putus apaan, pacaran aja kagak. Justru gue dapetin lo aja susahnya minta ampun."
"Apasih lo, Daff!"
Daffa mengaduh ringan saat lengannya dicubit oleh Raya. Sambil melirik gadis itu tajam, sementara sang empu hanya cengengesan.
"Hehe maaf, abisnya lo ngeselin," kata Raya, sambil sedikit menjauhkan tangannya.
"Kebiasaan." Daffa berdecak. "Gue kemaren pulang ke rumah Mama."
Raya diam, sambil menatap Daffa siap mendengarkan apapun yang lelaki itu ucapkan. Mungkin itu yang menjadikan Daffa diam sedari tadi.
"Bukannya seneng ya, ketemu Mama?"
"Seneng, tapi nggak sama keluarga barunya, Ra."
Raya kembali diam, sejauh ini dia mengenal Daffa, baru kali ini dia tahu jika keluarga lelaki itu tidak baik-baik saja. Daffa pandai sekali menutupinya dengan tingkah laku yang kadang membuatnya jengkel, hanya untuk membuatnya terlihat baik-baik saja. Padahal, Daffa sedang di posisi yang berantakan.
"Daff, maaf."
Daffa menoleh, dahinya berkerut heran. "Kenapa lo minta maaf? Gue nggak salah denger, cewe minta maaf?"
Memang ya, pada dasarnya Daffa itu tidak bisa diajak bicara serius, dalam situasi seperti ini saja dia sempat bergurau.
"Lo nggak perlu minta maaf atas apapun, Ra. Pertanyaan lo sama sekali nggak salah. Ya, siapa anak yang nggak seneng ketemu Mamanya?" Lelaki itu tersenyum samar, "Tapi yang nggak pernah gue sangka adalah, Mama lepas tangan atas hidup gue."
Mama lepas tangan atas hidup gue.
Kalimat itu cukup membuat Daffa merasakan sesak lagi jika mengingatnya. Sementara Raya di sampingnya juga tidak tahu harus merespon bagaimana.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Raya
Teen FictionDidekati lelaki karena lelaki itu menyukai sahabatnya? Raya tidak pernah menyangka akan itu. Namun, di balik itu semua, nyatanya ada sosok yang membuat Raya tidak pernah bisa mendeskripsikan bagaimana lelaki itu hidup. Daffa Ganuar, lelaki itu tamp...
