"Maksud lo?"
"Eh bentar-bentar, kenapa lo jadi aneh gini? Mendadak bijak lagi."
Daffa terkekeh, ia tidak tersinggung sama sekali dengan ucapan Raya. Lelaki itu menaikkan satu alisnya, kemudian kini ia memusatkan tatapannya pada Raya.
"Gue kasian aja sama lo," katanya. "Kasian karena dikhianati sama orang terdekatnya sendiri," lanjut Daffa dengan raut wajah yang menyebalkan.
Raya mendengkus, hampir saja dia mengira Daffa sudah berubah. Walaupun Raya tidak yakin seratus persen, karena Raya yakin jika Daffa berubah maka perlu rukiyah mungkin.
"Sialan lo. Udah ah gue mau pergi dulu." Gadis berambut panjang yang diikat satu itu berdiri, sebelum tersenyum tipis, terlihat begitu manis.
"Apapun alasannya, makasih banyak, Daff. Lo bener, jadi orang nggak enakan seringkali kalah," lanjutnya, sebelum akhirnya ia benar-benar pergi. Tidak membiarkan Daffa membalas setidaknya satu kalimat lagi.
Daffa membiarkan gadis itu berlalu sampai punggungnya tidak terlihat lagi. Terlalu banyak yang tidak bisa Daffa nilai atau deskripsikan tentang Raya. Ia menghelah napas, sebelum akhirnya memilih bangkit dan pergi dari taman itu.
* * *
"Ra, gue boleh minta tolong sama lo?"
Raya menatap Nelisa dengan kening berkerut. Tidak biasanya Nelisa bersikap seperti ini, biasanya gadis itu selalu mengutarakan keinginannya tanpa bertanya lebih dulu. Ini terdengar agak aneh.
"Kenapa?"
Nelisa tampak mengambil napas panjang lalu membuangnya perlahan. Hal tersebut justru membuat Raya semakin heran.
"Lo jaga jarak sama Nando?"
"Lo nyuruh gue jaga jarak? Oke."
Nelisa segera menggeleng mendengar jawaban Raya. Ia memegang lengan Raya lembut.
"Gue tanya sama lo, bukan nyuruh." Gadis itu berusaha mengatur dirinya agar tidak terbawa suasana, mungkin rasa cemburu atau hal lain yang bisa mendorong dirinya untuk membenci Raya yang nyatanya masih tidak ingin Nando jauhi.
"Nando minta lo tetep kayak dulu, Ra. Gue nggak masalah, lagian kalian deket sebelum gue tahu kalo ternyata gue sama Nando punya perasaan yang sama." Nelisa diam lagi.
"Ra, gue minta tolong lo tetep di deket Nando ya? Sampai dia lupa sama lo, dan anggep kehadiran gue," lanjut Nelisa tenang, meskipun Raya tahu ada nada tidak rela terdengar.
Raya terkekeh pelan, tidak tahu diri memang Nando. Gadis itu sampai tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nando. Apa mau lelaki itu? Dan Raya juga tidak menyangka jika cinta pertama Nelisa membuat sahabatnya itu terdengar lebih bodoh dari yang ia kira.
"Lo gila?" Raya menggeleng tidak percaya.
"Gue nggak seegois itu, Nel. Kalian udah sama-sama jadi nggak ada lagi gue di antara kalian. Lo jangan bego." Raya tidak tahu lagi harus berkata apa, tetapi ketika matanya bertemu dengan seseorang di pinggir lapangan, Raya memutuskan untuk pergi dari kelas yang kini membuatnya muak.
Dari balik pintu yang terbuka, mungkin tatap itu tidak sengaja bertemu. Kali ini, bukan dengan orang yang berada di pinggir lapangan. Namun, dengan seseorang yang berlawanan arah dengannya.
Nando, yang hendak memasuki kelas. Mungkin, menemui Nelisa di dalam.
Tidak ada kata apapun yang terucap oleh keduanya, padahal baru beberapa hari kemarin mereka saling akrab dan tertawa lepas bersama.
Semudah itu asing?
Raya berusaha menepis pikiran kacaunya, memilih meneruskan langkahnya.
"Ra!"
Raya mengangkat tangannya seolah melambai, sebenarnya malas menemui Daffa. Tetapi entahlah, kakinya malah membawanya menemui lelaki tersebut.
"Lo dicariin sama Bu Riska. Sebenernya dari tadi, cuma gue males ke kelas. Kebetulan ketemu lo di sini," kata Daffa enteng ketika Raya sudah selangkah lebih dekat dengannya.
Raya melotot, ia yang hendak duduk segera bangkit lagi. "Kenapa nggak bilang dari tadi Daffa! Lo tahu? Pertemuan gue sama Bu Riska itu penting! Lo kalo dikasih amanah yang bener dong!"
Daffa menutup telinganya mendengar teriakan Raya yang seharusnya sudah terbiasa ia dengar. Tapi tetap saja, suara cemprengnya membuat Daffa tidak tahan. Mungkin sebentar lagi telinganya akan panas terbakar jika Raya berteriak lebih keras lagi. Oke, terdengar agak lebay.
"Sok penting lo."
"Daffa! Gue nggak becanda!"
Kali ini, Daffa meringis sambil menutup telinganya lebih rapat. Meski lengannya yang kena sasaran empuk pukulan gadis di depannya.
"Heh mak rombeng dengerin gue dulu! Lo mending langsung temuin Bu Riskanya deh di ruang Sastra! Daripada lo tambah telat!" Buru-buru Daffa melarikan diri, sebelum mendengar teriakan Raya yang lebih keras lagi. Memilih aman.
"Daffa!"
Tuhkan benar, untung saja Daffa sudah jauh dari gadis itu. Melambaikan tangan sambil tersenyum tipis, meski raut wajah Raya tidak bersahabat sama sekali.
Raya mengelus dadanya sabar. Hari ini benar-benar membuatnya kesal. Gadis itu membenarkan kuncir rambutnya dan merapikannya sebentar. Mengatur napas, dan kembali melangkah gontai menuju ruang Sastra.
Setidaknya di sana, semoga Raya menemukan ketenangan. Sebab di ruang Sastra, selalu ada yang tidak biasa.
Rumah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Raya
Roman pour AdolescentsDidekati lelaki karena lelaki itu menyukai sahabatnya? Raya tidak pernah menyangka akan itu. Namun, di balik itu semua, nyatanya ada sosok yang membuat Raya tidak pernah bisa mendeskripsikan bagaimana lelaki itu hidup. Daffa Ganuar, lelaki itu tamp...
