Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

3. Biang Rusuh dan Rumah Raya

21 5 5
                                        

Sebenarnya tidak ada yang perlu Raya salahkan atas perasaannya sendiri. Tetapi terkadang, Raya kesal dan marah pada dirinya sendiri. Kenapa dia tidak sadar dari awal? Bahkan Raya baru ingat, ketika Nando bermain ke rumahnya, Nelisa juga melakukan hal yang sama. Hampir tidak pernah, Nando bermain sendiri tanpa berbarengan dengan Nelisa. Meski mereka tidak datang bersama.

Seharusnya dari awal, Raya juga sadar. Beberapa kali Nando menyebut nama Nelisa di sela-sela pembicaraan mereka. Yang Raya katakan pada Nelisa tadi siang, tidak bohong. Benar, Nando kerap kali menyelipkan nama Nelisa di obrolan random mereka berdua.

Rasanya Raya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Ia tidak menyangka, bahwa mengetahui kenyataan ini akan semenyakitkan itu. Seperti tidak ada lagi semangat—mati rasa.

Dengan rambut hitam nan panjang yang dibiarkan terurai bebas, Raya merebahkan diri ke kasur. Tubuhnya yang mungil, membuat dirinya terlihat kecil di antara beberapa boneka berukuran besar di sebelahnya.

Raya jadi ingat, ketika Nando memamerkan boneka besar milik kakaknya ketika mereka vidio call. Boneka itu berwarna pink yang membuatnya tersenyum waktu itu.

Nando itu menurutnya meskipun tingkahnya agak aneh, tetapi ia adalah sosok penyayang. Raya tidak pernah sejatuh cinta itu, apalagi dengan tatapan teduhnya selalu kentara saat menatapnya berbicara.

Raya selalu suka tentang Nando. Tubuh yang tidak terlalu tinggi yang mungkin suatu saat akan bertambah tinggi melebihi ekspetasinya. Kulitnya putih bersih dan badannya berisi. Rambutnya sedikit ikal. Bagian yang paling Raya suka adalah matanya. Matanya terlihat tajam tetapi penuh keteduhan.

Indah.

Baru saja Raya hendak terpejam, berusaha melepaskan perasaan sesaknya. Suara ponsel berdering begitu nyaring, sebelum akhirnya membuat Raya memutuskan membuka matanya.

'MULUT REOG (DAFFA)'

Raya menyerngit, ada apa Daffa menelponnya malam-malam begini? Penasaran, Raya akhirnya menekan tombol hijau tetapi baru saja terhubung dan belum sempat berbicara, panggilan diakhiri begitu saja.

Raya mendengkus! Kenapa Daffa tidak bisa diam sehari saja? Kenapa lelaki itu senang sekali menganggu ketenangannya?

Raya rasanya ingin membanting ponselnya, tetapi urung ketika melihat notif pesan dari layar utama.

["Sorry. HP-nya dipegang adek gue tadi. Jadinya asal telepon."]

Raya mendengkus, dengan segera mengetik balasan.

["Rese lo."]

Baru saja terkirim, balasan dari Dafa kembali ia terima.

["Namanya juga anak kecil. Lagian juga, gapapa kali dari pada lo gabut, galau karena hubungan tanpa statusnya kandas, nggak ada yang chat lagi. Mending digangguin sama adek gue aja, lumayan nemenin kegabutan lo."]

Apa-apaan sih Daffa ini? Sok tahu sekali! Belum sempat Raya mengetikkan balasan yang mungkin akan membuat Daffa mati kutu, tetapi ponselnya kini kembali berdering tanda panggilan masuk.

["Gue di depan rumah lo. Mau nyontek pr."]

Setelah mengatakan itu, panggilan kembali diakhiri secara sepihak.

Raya membulatkan matanya. Dia tidak salah dengar 'kan? Daffa di depan rumahnya? Eh apa-apaan ini? Raya tentu panik, buru-buru ia mengintip di balik jendela. Ternyata benar, ada Daffa yang sedang menunggu di luar.

Tadi katanya hpnya dimainin adiknya, sekarang kenapa lelaki itu ada di sini?

*       *         *

Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk berdebat dengan dirinya sendiri, yang mungkin membuat Daffa menunggu sampai lelah. Raya akhirnya memutuskan keluar dengan  rambut yang diikat asal, celana panjang ia pilih acak di lemarinya, dan kaos warna hitam berlengan pendek jadi pilihannya.

Di depan sana, Daffa menatapnya dengan santai. Raya terpaksa menghampiri, bersamaan dengan Daffa berjalan mendekat.

"Lo ngapain ke sini sih?"

Daffa mengedikkan bahu, seolah tidak peduli dengan raut wajah Raya yang sudah diambang batas kesabaran.

"Mau nyontek pr lo. Sekalian bawain titipan dari temen deket lo, yang katanya deket banget," kata Daffa enteng, sembari menyerahkan satu kantung kresek warna hitam yang tidak Raya ketahui isinya.

"Nando?" Raya bertanya heran, tangannya menerima pemberian Daffa dengan ragu.

"Lo ngerasa deket banget berarti sama Nando?" Daffa terkekeh mengejek, membuat Raya diam seribu bahasa.

"Nggak mau ngajak gue masuk? Sopan lo terima tamu begini?"

Mendengar itu, Raya berdecak malas. Sembari membuka pintu, ia bergumam menyindir.

"Lagian, siapa yang nyuruh lo bertamu."

Daffa membiarkan sindiran itu seolah angin lalu. Ia duduk di sofa dengan santai tanpa disuruh, tamu raja 'kan? Sebagai raja, maka Daffa berprinsip bebas melakukan apapun.

"Aduh, di rumah gue itu nggak ada siapa-siapa. Lo kenapa malah ke sini sih? Ganggu gue tau, nggak?" Raya benar-benar bingung bagaimana caranya berbicara dengan Daffa bermaksud menyuruh lelaki itu pergi secara halus—meski perkataanya barusan jelas terdengar kasar.

"Dibilang gue mau nyontek pr. Tinggal kasih tau gue prnya, gue salin, beres dan pulang. Ribet amat lo. Itung-itung biar galau lo itu nggak keliatan banget kalo sendirian."

Raya melotot tak suka, sedari tadi Daffa itu terus menyebutnya sedang galau. Iya, memang itu kenyataannya. Ia sedang patah hati, tetapi apa Daffa tidak bisa memakluminya sedikit saja?

Meski dengan kekesalan yang meluap-luap, Raya kembali ke kamarnya untuk mengambil buku. Memberikannya pada Daffa sedikit melempar, sebelum akhirnya ia berjalan ke dapur untuk mengambil minuman ataupun makanan yang ada di sana.

Setidaknya, kata Mama. Kalau ada tamu, harus diperlakukan dengan baik. Meski Daffa seharusnya masuk ke pengecualian.

Raya meletakkan cemilan snack dan minuman yang baru saja ia ambil, kemudian duduk di seberang sofa dengan santai. Menghidupkan ponsel, berusaha mengabaikan Daffa yang berada di sekitarnya.

"Ra?"

Panggilan itu membuat Raya menoleh. Tetapi Daffa di sana, tersenyum. Lesung pipitnya kentara di pipi bagian kanan, rambutnya yang berantakan dan sedikit panjang membuat Raya tanpa sadar mengakui bahwa Daffa terlihat lebih tampan malam ini.

Namun yang membuat Raya menarik kembali pendapatnya adalah, ketika lelaki itu bersuara setelah beberapa detik diam seperti orang bodoh.

"Kalo mau kasih contekan, kerjain tugasnya yang bener dikitlah. Bisa barabe kalo kerjaanya salah semua gini."

Dan Raya berdecak. Sedangkan Daffa kembali melanjutkan ucapannya.

"Kalo udah bego soal percintaan, nggak usah bego jugalah soal pelajaran."

Semestanya RayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang