Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

7. Daffa dan Segala Tingkah Uniknya

16 5 1
                                        

"Nel, gue minta tolong lo chat Nando ya, bilang sama dia, Bu Riska nyariin."

Setiba di kelas, Raya menghampiri Nelisa yang duduknya berjarak satu bangku dengannya. Ia sudah memutuskan untuk tidak menemui Nando sendiri atau mengirimkan pesan pada lelaki itu. Sebab Raya tidak ingin ada kesalah pahaman antara dirinya dan Nelisa.

Nelisa yang semula menulis, kini menoleh ke Raya. Gadis itu merapikan rambut poninya, dahinya berkerut, terlihat heran.

"Kenapa nggak lo aja? Lo 'kan ada nomer dia." Nelisa kembali menulis sebentar, menuntaskan dua kata yang sempat terhenti.

Gadis itu kemudian mengambil ponsel dari dalam tasnya, "Berarti bener, lo ngejauhin Nando. Apa itu karena gue? Lo ada perasaan sama dia?"

Sambil tangannya mengetik pesan untuk Nando, Nelisa masih menunggu jawaban Raya. Tetapi tampaknya, Raya tidak mengeluarkan suara sedikitpun.

"Lo—"

"Gue sama sekali nggak ada perasaan apapun sama Nando. Kita murni temenan, gue cuma lagi males aja ngomong sama dia."

Nelisa mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Biasa aja, nggak usah sewot gitu jawabnya. Nih, udah gue omongin."

Nelisa memperlihatkan chatnya kepada Raya, setelah melihatnya Raya mengangguk.

"Makasih." Kemudian gadis itu kembali ke tempat duduknya sendiri.

Jujur, Raya tidak terbiasa dengan suasana ini. Biasanya dia akan menghabiskan banyak waktu untuk berbalas pesan dengan Nando selama jam kosong. Namun kali ini beda, Nando sudah ada Nelisa. Itu artinya, Raya sudah bukan prioritasnya lagi.

Sibuk melamun, gadis itu akhirnya tersadar ketika ponselnya berdering tanda pesan masuk.

"Nando?" Ia bergumam, sambil membuka aplikasi chatnya.

["Kenapa lo nggak chat gue sendiri aja? Kan yang dikasih amanah lo."]

Raya memutar mata, tidak berniat membalas dan memilih meletakkan ponselnya di samping kepala. Namun baru saja hendak merebahkan kepalanya di meja, seseorang mengambil ponselnya.

"DAFFA!"

Teriakan Raya menggema, sampai membuat seisi kelas menoleh ke arahnya. Mereka sepertinya sudah tidak asing dengan pemandangan ini. Raya dan Daffa memang tidak pernah akur. Ada saja yang mereka ributkan.

"Santai aja kali suara lo."

"BALIKIN HP GUE! LO NGESELIN BANGET TAU NGGAK?!"

Daffa mengangkat agak tinggi ponsel gadis itu, sehingga membuat Raya kesulitan mengambilnya. Jangan salahkan Raya, salahkan saja tubuhnya yang pendek itu.

Daffa terkekeh, diselingi melihat salah satu chat yang Raya abaikan tadi. "Kenapa lo? Tumben nggak bales chat nih anak."

Raya mendengkus, masih berusaha mengambil  ponselnya meskipun Daffa terus menjauhkan dari tangan mungil gadis itu.

"Bukan urusan lo." Akhirnya Raya menyerah, ia memilih kembali duduk, dan suasana kelas ikut tenang.

"Urusan gue."

"Apa sih lo? Lo bukan siapa-siapa, inget itu!" sahut Raya cepat, terdengar lebih sewot.

Daffa menaikkan sebelah alis, sembari mengembalikan ponselnya. "Lo bener juga, gue bukan siapa-siapa lo. Tapi kayaknya lo lupa siapa gue."

Raya memilih tak menyahut, lelaki di sampingnya itu pasti akan mengeluarkan kata-kata yang berbanding terbalik dengannya. Daripada menghabiskan waktu untuk mendengarkan hal yang tidak jelas, maka Raya melanjutkan acara tidurnya.

"Jangan tidur dulu Raya. Pr lo belum kelar, setengah jam lagi Bu Nesa masuk."

Raya sontak membuka matanya, eskpresi gadis itu sangat terkejut dan bingung. Mulutnya sedikit terbuka, dan dalam hitungan detik ia menepuk dahinya pelan.

"Yaampun Daffa! Kenapa lo baru bilang!"

"Lo nggak bales chat gue, padahal lo bilang mau selesain PR tapi di kelas malah tidur."

Raya berusaha mengatur napasnya, waktu tiga puluh menit dengan soal matematika empat puluh itu sangatlah di luar jangkauannya. Ia bingung sendiri, tidak tahu harus berbuat apa.

"Daff, apa gue pura-pura sakit aja ya. Nanti gue tiduran di UKS."

"Jangan gila lo." Daffa menoyor dahi gadis itu, membuat Raya mengaduh.

"Makanya lain kali, kalo nggak mau bales chat dia, nggak usah males juga bales chat gue. Sok penting banget lo," lanjut Daffa mengejek.

Raya mengusap wajahnya gusar. "Udah mending lo pergi, omongan lo sama sekali nggak ngebantu gue."

Daffa berdiri, tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celana. Alis tebalnya terangkat satu, tangan kanannya mengangkat tinggi-tinggi sebuah buku. Senyum lelaki itu terbit, lesung di pipinya ikut muncul.

Terlihat manis.

"Salin punya gue." Ia memberikan buku tulisnya, "Tapi nggak gratis," lanjutnya penuh penekanan.

Raya mendengkus, mengambil buku tersebut sedikit cepat. "Nanti gue traktir. Makasih, gue salin dulu."

Daffa mendekat, hingga jarak mereka hanya beberapa jengkal saja. Ia masih mempertahankan senyumnya, tangan lelaki itu terulur menyentuh puncak kepala Raya.

"Gue bukan lo, yang bisa diakalin sama makanan. Gue kaya, kalo lo lupa."

Dengan keadaan yang masih linglung, Raya mengangkat wajahnya, pandangan mereka bertemu beberapa saat, sebelum akhirnya Raya segera mengalihkan pandangannya.

"Ja-di lo mau apa?"

Daffa terkekeh mendengar nada bicara Raya yang mendadak gugup. "Lo aneh, ngapain jadi gugup?"

"DAFFA!"

Daffa reflek menjauhkan diri, sembari berjalan semakin menjauh dan melambaikan tangan, lelaki itu pun berteriak.

"Bayarannya temenin gue ke Gramedia nanti malem, Ra!"

Tidak lupa, dengan senyum kemenangan khasnya.

Semestanya RayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang