Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

27. Memeluk Ruang Hampa, pada yang Hampa

18 2 0
                                        

"Ra, pulang sekolah ada waktu? Main yuk, kita udah jarang banget main berdua. Mau, ya?"

Raya berhenti menggambar acak di buku tulisnya kemudian menatap Nelisa dengan pandangan penuh di depannya. Ia terdiam sejenak, menilik lebih instens penampilan Nelisa sekarang. Matanya sedikit sembab, rambutnya yang sepagi tadi ditata rapi, siang ini dibiarkan acak-acakan, kemudian suaranya terdengar agak serak. Raya menyipitkan matanya, tidak biasanya Nelisa seperti ini, kenapa rasanya berbeda sekali?

"Hei, are you okay?"

"Gue oke kok, Ra. Kepala gue cuma pusing dikit tadi."

"Lo bohong, Nel. Siapa yang bikin lo seberantakan ini?"

Nelisa diam, dan Raya tidak ikut diam. Gadis itu berdiri, kemudian mendekat ke Nelisa lalu memeluknya. Sebab Raya tahu, seseorang yang sedang tidak baik-baik saja hanya butuh pelukan tanpa pertanyaan, itu akan membuatnya merasa lebih baik sekaligus merasa dipahami.

Nelisa membeku, ia bahkan sudah lupa kapan terakhir pelukan Raya, saat dirinya lebih memilih sibuk dengan Nando. Nelisa bahkan tidak peduli jika Raya terluka, melihat kedekatannya bersama Nando. Namun, lihat hari ini? Siang ini, istirahat kedua, di saat orang lain menikmati istirahatnya, di saat mungkin Nando masih bisa tertawa bersama temannya, Raya tetap setia menemani dirinya. Raya selalu baik, selalu menjadi orang pertama yang akan memeluknya di saat ia rapuh, sebelum Nando menggantikan di waktu singkat itu.

"Ra, gue boleh minta tolong sama, lo?"

Serak. Suara Nelisa begitu serak dalam dekapan Raya. Seolah memberikan isyarat bahwa gadis itu memang dalam keadaan kacau. Seolah memberitahu bahwa ia membutuhkan Raya, sekarang, besok, atau bahkan sampai kapanpun. Raya tidak pernah merasa seperti ini, hatinya terasa seperti tertijam pisau tajam. Ia sudah mewanti-wanti siapapun tidak boleh menyakiti sahabatnya, sekalipun itu Nando. Nelisa pernah jadi dunianya. Sebab dahulu, sebelum ia mengenal Nando sedekat kemarin, Nelisa lah yang selalu ada untuknya, begitupun sebaliknya.

"Lo boleh minta tolong apapun sama gue, Nel."

"Bantu Nando lupain, lo, Ra. Gue cemburu, gue capek, Nando selalu inget lo. Nando selalu cari segala cara buat hubungin lo. Gue ngaku, gue kalah, Ra."

Menangis. Suara Nelisa bergetar, perlahan bahunya terguncang dengan isakan kecil mulai terdengar. Jatuh cinta di umur belasan memang banyak lukanya. Di posisi yang masih labil dan rasa penasaran yang tinggi. Raya tidak pernah melihat Nelisa seperti ini, karena memang Nando yang pertama untuk gadis itu. Raya ikut merasakan sakit, apalagi penyebab rasa sakit itu karena dirinya. Raya tidak pernah merasa sesak seperti ini, sekalipun Nando menyakitinya. Namun, melihat Nelisa yang seperti ini, dunianya seakan runtuh di detik itu juga.

"Hei, Nelisa. Dengerin gue, ya?"

Raya mengurai pelukannya, menarik tangan Nelisa dan menarik satu kursi di sampingnya, membiarkan Nelisa duduk di sana. Raya itu tipe sahabat yang romantis dan peka. Ia hapus air mata Nelisa kemudian tersenyum hangat.

"Nel, percaya sama gue, kalo Nando sayang sama lo. Dia pernah malem-malem ke rumah gue, cuma mau bilang ke gue, nggak boleh jahuhin lo karena lo nangis waktu itu. Dia nggak tega liat lo nangis, Nel."

Raya menggeleng pelan. "Nando nggak pernah sayang sama gue, lebih dari sahabat. Nando sering menekankan itu, dan sekarang gue udah jaga jarak sama itu cowok, buat lo, Nel. Dan buat Nando yang masih sering hubungin gue, itu mungkin salah satu caranya adaptasi buat keadaan barunya tanpa cerita sama gue. Lambat laun, dia akan fokusin dunianya ke lo, karena gue nggak akan respon dia, selama dia ada cewek. Itu prinsip gue, Nel."

Nelisa mengangguk, sudut bibirnya terangkat membentuk lengkungan senyum tipis. Ia merasa lebih baik dan tenang. Raya berhasil meluluhkan kekacauannya. Bahkan, di saat ia berniat jahat.

"Apa perlu gue omongin ini sama Nando, Nel?"

Nelisa menggeleng pelan. "Nggak perlu, Ra. Lo udah bikin gue sedikit tenang. Seenggaknya, lo nggak respon Nando dan itu satu-satunya cara dia buat move-on dari lo."

Nelisa mengelah napas, terasa lebih ringan dari tadi. "Ternyata jatuh cinta sesakit ini ya, Ra? Bahagia pas awal-awal doang. Apa semua cowok kayak gitu, manis di awal doang?"

Raya terkekeh, seraya mengangkat bahunya. "Nggak semua, tapi kebanyakan iya."

*     *     *

"Bel udah bunyi dari tadi, lo ke mana aja sih? Balik ke kelas nggak? Ini gue males ya, denger guru ceramahin seisi kelas cuma gara-gara lo. Mana semua orang sekarang lagi liatin gue, seolah bilang gue tau lo di mana."

Raya mengomel di sambungan telepon, dengan suara yang agak berbisik. Karena semua pasang mata mengarah padanya, Raya terpaksa izin ke guru untuk menelpon Daffa. Guru satu itu memang sangat peduli dengan muridnya, jika ada yang membolos pasti diminta kembali ke kelas.

["Gue lagi di kantin, sebentar lagi balik ke kelas. Nanggung, Ra. Minuman gue belum abis. Tuh guru kayaknya sayang banget sama gue ya, Ra. Gue nggak ada aja dicariin, kok Mama nggak ya?"]

"Daffa, nanti lagi curhatnya ya, sekarang mendingan lo balik ke kelas. Ini gue udah berasa horor banget pada liatin gue. Cepet gue tunggu dua menit, dua menit nggak balik, jangan harap gue mau ngomong sama lo."

["Iya, Ra. Iya, gue otw."]

Raya tersenyum puas, berhasil. Mengancam Daffa mudah juga, pikirnya. Gadis itu kembali menatap gurunya. "Sebentar lagi, Bu. Dia lagi jalan ke sini."

"Baik, kita lanjutkan ya."

"Assalamualaikum, Bu."

Baru saja gurunya hendak menulis di papan, Daffa muncul di balik pintu dengan cengiran khasnya, matanya hampir menyipit, keringat membasahi pelipis, napasnya sedikit memburu karena habis berlari. Lelaki itu melangkah pelan, dengan tidak peduli tatapan horor teman-temannya.

"Walaikumsalam. Telinga kamu ketinggalan di mana, Daff? Bel sekenceng itu nggak denger?"

Daffa menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal, melirik sejenak ke arah Raya yang dibalas dengusan kasar gadis itu. "Denger kok, Bu. Telinga saya masih berfungsi dengan baik. Tadi di kamar mandi antri, Bu. Hehe, jadi telat masuk. Ibu ini baik banget loh, boleh kan saya duduk?"

Karena tidak ingin memperpanjang masalah, guru itu mengangguk singkat. "Silahkan duduk, tapi kalau diulangi lagi, Ibu nggak akan segan-segan buat hukum kamu."

Daffa tersenyum lega. "Ibu tenang aja, makasih Ibu baik."

"Ya sudah duduk, pelajaran mau dilanjut."

"Baik, Bu."

Daffa berjalan ke arah bangkunya melewati meja Raya. Padahal kalau menurut rute, itu berbalik arah dari tempat duduknya. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan meletakannya di meja Raya.

Raya yang memang dari semula memperhatikan lelaki itu, langsung menyerngitkan dahinya. "Buat siapa?"

"Lo, tadi nggak ada kembalian, jadi gue beliin. Makan aja, jangan badmood apalagi nggak mau ngomong sama gue, ya?"

Raya tersenyum kecil ketika Daffa sudah kembali ke tempat duduknya. Mengamati coklat berukuran sedang. Daffa selalu punya cara, untuk mengembalikan moodnya.

"Makasih, Daff," bisiknya, menoleh pada Daffa yang sudah duduk di tempatnya.

Semestanya RayaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang