Raya tidak pernah berpikir bahwa bertengkar dengan sahabat hanya perihal lelaki akan terjadi di hidupnya. Ia benci jadi pecundang yang ternyata menyakiti banyak pihak. Seharusnya dari awal ia tidak perlu memberontak atas perasaan yang menyakitinya, sehingga merambat melukai orang lain.
Raya seharusnya bisa menahan perasaan jatuh cinta itu lebih lama. Membiarkan hilang sendiri tanpa sepengetahuan Nando ataupun yang lainnya. Namun, ia salah. Amarah dan cemburu saat itu, membawanya pada titik ini. Ia kalah dengan perasaannya sendiri, dan hubungan persahabatan mereka yang jadi korban.
"Nel, dengerin gue dulu."
Nelisa bisa saja mengabaikan perasaan Raya yang seharusnya sudah menjadi tanggung jawab perempuan itu. Sebab sejak awal, ia juga pernah hancur melihat kedekatan Nando dan Raya yang seperti tidak ada jarak sedikitpun. Bahkan, sampai Nando dan dirinya sudah mengakui saling mencintai. Namun, Raya itu sahabatnya. Sejak awal, Raya tidak salah dengan perasaan yang tumbuh. Kebersamaan akan selalu menghadirkan perasaan, entah oleh kedua pihak atau hanya sepihak. Menurut Nelisa, Raya tidak sepenuhnya salah.
"Kenapa lo nggak bilang sama gue? Gue kelihatan jahat banget 'kan di sini?"
Nelisa tertawa ringan yang terdengar hambar. Kemudian mengambil langkah untuk lebih dekat dengan Nando maupun Raya.
"Gue udah nyakitin lo, Raya!" tekan Nelisa, terdengar sedikit pilu.
Raya menggeleng, sedang Nando hanya bisa diam. Raya tidak pernah merasa bahwa Nelisa menyakitinya. Sebab Raya tidak tahu apa yang terjadi antara Nelisa dan Nando—yang katanya sahabatnya. Namun, tidak ada cerita sedikitpun tentang hubungan mereka sebelum dirinya sejauh ini menaruh perasaan dan harapan besar pada Nando. Raya muak, menghadapi perasaan kacau hanya karena cinta klasik anak remaja, tetapi ia juga tidak bisa menghentikannya.
Raya membuang napas pelan, ia menoleh sekilas pada Nando yang kini sudah beralih di samping Nelisa. Tangan lelaki itu tampak menggenggam erat tangan sahabatnya meski Nelisa berusaha menepis dengan segala cara.
"Nggak ada yang nyakitin gue, Nelisa. Semua ini terjadi begitu aja. Lo, Nando, nggak ada yang nyakitin gue. Gue yang salah, karena punya perasaan sama kayak lo, buat satu cowok yang sama juga. Tapi gue nggak tau gimana cara mencegahnya. Jadi tolong, jangan salahin diri lo sendiri. Ini perasaan gue, bukan tanggung jawab kalian."
Raya meremat tangannya sendiri berusaha meredam gemuruh di dadanya yang membuat ia sesak. Genggaman erat tangan Nando pada Nelisa sudah menjelaskan bahwa lelaki itu tidak ingin kehilangan sedikitpun tentang Nelisa. Bahkan, lelaki itu tampak ketakutan Nelisa pergi setelah mengetahui semua yang terjadi.
"Do, jaga Nelisa baik-baik. Sekali lo bikin dia nangis, gue nggak akan segan-segan buat perhitungan sama lo. Gue udah mengambil langkah ini, jadi lo jangan kecewain gue."
Nando mengangguk pelan, walau di dalam hatinya ada rasa sakit saat Raya mengatakan hal tersebut. Seolah-olah gadis itu akan meninggalkannya sendirian——meski kenyataannya dia tidak pernah sendirian.
"Ra——gue bisa——"
"Nggak ada yang perlu lo korbanin, Nel. Dunia ini nggak cuma tentang gue, cari kebahagiaan lo tanpa takut itu bakalan nyakitin gue. Hidup ini persaingan meski tanpa sengaja. Jadi, kalau memang lo menang, jangan mau mengalah."
Raya mengambil selembar naskah di meja, kemudian kembali berdiri tegak di depan dua manusia yang pernah mengambil alih dunianya. Lalu tersenyum, "Gue duluan. Kita tetep profesional latihan kayak biasanya. Tapi untuk hari ini, gue izin dulu. Nanti gue bilang langsung ke Bu Riska."
"Ra——"
"Jangan kecewain gue, Do." Setelah mengatakan itu Raya benar-benar pergi. Membiarkan suara Nando tertahan, sementara tangan lelaki itu masih menggenggam erat tangan Nelisa. Raya tahu, Nando tidak ingin kehilangan salah satunya. Ia maupun Nelisa.
* * *
"Gue abis beli sesuatu di kantin, kebetulan ada kembalian dan gue beliin coklat deh. Buat lo, gue nggak suka soalnya."
Raya menoleh ketika Daffa mengulurkan sebatang coklat yang ukurannya lumayan besar, dengan merk yang akhir-akhir ini mulai naik daun. Mendengkus karena mendengar alasan lelaki itu. Bilang saja, dia niat membelikan untuknya.
"Makasih." Raya menerimanya disertai senyum tipis.
Daffa mengangguk kikuk, kemudian dengan perasaan canggung, ia duduk di samping Raya. Taman belakang sekolah adalah tempat favorit Raya, Daffa mengetahui itu karena hampir tidak pernah Raya tidak mengunjungi tempat tersebut.
"Ada masalah?"
Raya menoleh lagi, menggeser sedikit duduknya agar Daffa memiliki tempat. Kemudian menggeleng pelan sambil tangannya memilin-milin coklat yang diberikan Daffa.
"Sini gue kupasin." Daffa bersuara lagi, dan mengambil alih coklat tersebut. Setelah selesai dikupas, ia kembali memberikan pada Raya yang masih tidak mengeluarkan suara apa-apa.
"Ra?"
"Daff, hari ini lo pulang sendiri?" tanya Raya pelan, pikirannya hari ini kacau sekali.
Daffa mengangguk, "Mau pulang bareng gue?"
Raya terdiam lagi, sebelum akhirnya menggeleng sambil menatap lelaki di sampingnya. "Gue titip adik gue ya? Minta tolong anterin dia sampai rumah. Soalnya hari ini gue nggak bisa pulang cepet, dan dia nggak boleh pulang sendiri sama Mama."
Daffa bergeming. Dia tahu semua pembicaraan antara Nando, Nelisa, dan Raya di ruang sastra karena dirinya belum benar-benar pergi. Daffa paham, bukan hanya adik satu-satunya yang menganggu masalah Raya. Gadis itu sedang mengalihkan masalah dengan sahabatnya dan memilih masalah lain sebagai pelarian. Raya terus berlari dari masalah satu ke masalah berikutnya tanpa menyelesaikan salah satunya. Itulah kenapa, Daffa tidak akan membiarkan Raya sendirian. Raya perlu seseorang yang memahami tanpa perlu banyak mengungkapkan kerumitannya.
"Iya, nanti gue anterin," kata Daffa pada akhirnya. Kemudian tersenyum ketika Raya sudah menghabiskan hampir separuh coklat darinya dalam diam.
"Ra, gue tau lo lagi banyak masalah. Gue emang bukan satu-satunya orang yang bisa dipilih buat membagi perasaan lo. Tapi, kalau lo nggak punya pilihan lain, gue ada di sini. Jangan sungkan buat cerita apa pun, liat gue sebagai teman saat ada masalah. Setelah itu, lo bisa anggap gue dari sudut pandang mana pun."
Raya terpaku. Gigitan pada coklatnya terhenti perlahan. Sedari awal harusnya Raya sadar, bahwa lelaki di sampingnya tidak pernah meninggalkan dirinya. Daffa selalu punya celah untuk hadir ketika ia terluka. Daffa selalu datang pertama, meskipun kata kebanyakan orang ia dan Daffa adalah musuh bebuyutan yang tidak pernah akur. Namun, di balik itu semua Daffa selalu menjadi yang selalu ada. Daffa kerap menenangkan saat ia dilanda gundah.
"Gue capek, Daff. Dan nggak pengen ngomong atau ngelakuin apa pun, gue cuma capek."
Daffa mengangguk pelan, ia paham. Maka dari itu, ia membiarkan kepala Raya untuk dirinya tarik pelan dan bersandar di bahunya. Mengusap rambutnya lembut, membuat Raya terpaku untuk kesekian kalinya. "Gapapa, lo pasti bisa lalui ini semua."
Dan bagian paling menyesakkan adalah, ketika orang lain yang tak sebegitu dekat dengannya paham akan lukanya. Namun, orang terdekatnya sendiri tidak bisa mengerti barang sedikit pun.
Daff, makasih banyak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Raya
Fiksi RemajaDidekati lelaki karena lelaki itu menyukai sahabatnya? Raya tidak pernah menyangka akan itu. Namun, di balik itu semua, nyatanya ada sosok yang membuat Raya tidak pernah bisa mendeskripsikan bagaimana lelaki itu hidup. Daffa Ganuar, lelaki itu tamp...
