Raya meletakkan ponsel di atas meja, kemudian mengambil buku matematika. Dia harus membuat PR untuk besok. Gadis itu berusaha melupakan apapun yang dikatakan Daffa di sekolah dua hari lalu. Raya memang tidak menjawab apa-apa setelah lelaki itu mengajukan pertanyaan terakhir kali. Ia buru-buru dipanggil Nando katanya Bu Riska sudah menunggu. Untungnya selama dua hari ini, Daffa tidak mengungkit apa-apa. Mereka tetap bertemu seperti biasanya.
Raya tidak bodoh untuk menafsirkan kalimat Daffa. Namun, ia lebih memilih untuk mengabaikan. Gadis itu hendak menulis rumus, tetapi urung ketika ponselnya berbunyi. Dering khas yang ia sematkan untuk satu orang, itu akhirnya berbunyi lagi setelah kurang lebih dua minggu tidak ada kabar. Raya mengambil ponsel tersebut dan membaca pesan yang dikirimkan Nando.
[Lagi apa, Ra?]
Gadis itu sempat menyerngitkan dahinya heran, sebelum akhirnya membalas chat tersebut.
[Mau belajar, kenapa? Tumben]
Seharusnya bukan itu yang Raya katakan. Ia bisa saja membalas dengan lugas tanpa embel-embel 'tumben' karena seperti dulu,
jam-jam malam memang rutinitasnya bertukar pesan. Namun masalahnya, semua itu sudah tidak lagi sama.
Belum mendapat balasan, Raya mengirim satu teks lagi.
[Lah Nelisa mana? Ngapain lo malah ngechat gue?]
Tidak lama dari itu, ponselnya kembali berbunyi. Kali ini, pesan yang dikirim Nando membuat Raya terkejut. Namun, sebisa mungkin dia biasa saja.
[Gak tau tuh anak. Entahlah, cuma masalah sepele doang]
Oh jadi, ketika ia ada masalah maka larinya ke dirinya? Raya membatin, tidak habis pikir. Raya meletakkan ponselnya kembali ketika sudah membaca chat itu dari notif, kemudian berusaha fokus pada tugas yang sedang ia buat.
[Ra? Lo ngejauhin gue ya? Kenapa sih nggak kayak dulu aja? Gue masih butuh lo.]
Raya mendengkus kasar lalu melempar penanya asal. Ia meraih ponsel itu kemudian mematikan data internet agar Nando tidak bisa menghubunginya kembali. Gadis itu memilih beranjak menuju lemari kecil di sudut kamarnya, untuk mengambil buku yang Daffa beri saat di Gramedia.
Raya mengamati sampulnya sejenak, sebelum akhirnya membuka buku itu pelan. Kosong, tidak ada satu pun tulisan di sana. Gadis itu mengucir rambut panjangnya yang menghalangi kegiatannya sejak tadi. Membuang napas kasar, pikirannya mendadak kacau.
Ia membuka halaman pertama, dengan rasa jengkel ia menulis sesuatu di sana.
Daf, asal lo tau ya, Nando nyebelin banget. Masa iya, udah punya cewek kalo ada masalah larinya ke gue? Dipikir gue siapa? Emang gue cewek apaan bisa dijadiin tempat pelarian doang. Bener kata lo, kenapa ya gue bisa betah sahabatan sama dia dulu?
Tapi, Daf. Nando itu dulu baik banget, sumpah demi apapun dia nggak pernah nyakitin gue. Dia sebenernya nggak salah, kan perasaan nggak bisa dipaksa. Gue aja yang cepet baper. Ya, lagian dia sering banget bilang sayang dan cinta sama gue. Jadi wajar dong, kalo gue baper? Eh udah deh, ngapain gue ceritain Nando di buku ini? Maaf ya, Daf. Padahal lo beliin buku ini khusus buat ceritain lo tapi gue malah nyelipin nama Nando di sini.
Gue nggak bermaksud apa-apa, tapi Nando nggak seburuk yang lo kira kok.
12 Desember 2019
Raya menutup bukunya, diakhiri dengan mengusap wajahnya kasar. Sejauh mana ia ingin mengabaikan Nando, nyatanya nama lelaki itu tidak pernah hilang dalam ceritanya. Akan selalu ada, cerita-cerita baru yang meskipun menyakitkan untuk ia tulis. Raya tetap menulisnya.
Gadis itu baru saja hendak beranjak menuju kasur, tetapi suara ketukan pintu membuat ia mengurungkan niatnya. Gadis itu berdiri, dan membukakan pintu.
"Kak, dipanggil Mama."
Raya yang sudah siap tidur dengan balutan baju tidur gambar beruang itu akhirnya mengangguk pasrah. Kalau Mama sudah memanggilnya malam-malam begini pasti ada yang tidak beres. Ia membiarkan adiknya——Freya, si bungsu itu berlalu dari kamarnya. Kemudian ia ikut menyusul.
"Kenapa, Ma?"
Raya duduk di meja makan sambil menuangkan minum pada gelas, menegaknya sampai tandas. Pemilik rambut kecoklatan sedikit bergelombang itu mendekat, tubuhnya yang kurus dan kulitnya yang putih membuat perempuan itu terlihat lebih awet muda di umurnya yang sudah hampir lima puluh tahun. Mama meletakkan kue yang baru saja dibuatnya, membuat Raya tersenyum lalu menyomot satu.
"Jangan ambil banyak-banyak, Ra. Kakak sama adek belum makan."
Raya mendengkus kasar, selera makannya hilang begitu saja. Namun, ia tetap menghargai Mama dan memakan satu potong kue bolu pisang kesukaan adek—walaupun ia juga suka tetapi bukan tergolong makanan favoritnya.
"Freya bilang, kamu ada seleksi buat lomba dua bulan ke depan?"
Raya mengangguk singkat. "Kenapa gitu, Ma?"
Mama menggeleng pelan. "Jadi itu ya alesan kamu jarang pulang bareng sama Adek? Kadang Mama kasian sama dia, kalau pulang sendirian. Kamu nggak bisa bilang sama guru kamu, latihannya sebelum pulang sekolah gitu?"
Raya menghabiskan gigitan kecil kue yang tersisa kemudian menatap Mama. Adiknya memang satu sekolah dengannya, Freya kelas sepuluh sedangkan dirinya kelas dua belas. Di sekolah, mereka jarang bertemu kecuali jika berangkat dan hendak pulang sekolah. Sebab, kelasnya dan kelas adiknya jauh. Ia di lantai tiga sedangkan adiknya di lantai satu.
Raya memang sering latihan di jam pelajaran, tetapi banyak guru yang protes karena jam belajarnya terganggu. Raya merupakan siswa yang masuk peringkat tiga besar di kelasnya. Tentu saja, guru tidak ingin ia ketinggalan pelajaran. Al-hasil dua hari kemarin Raya latihan sepulang sekolah yang mengharuskan Freya pulang sendiri dengan angkot. Karena seharusnya bisa pulang bersamanya naik motor. Raya sudah cukup umur untuk mengendarai motor sendiri, sedangkan Freya belum.
"Awalnya udah latihan pas jam pelajaran, Ma. Tapi sekarang nggak bisa, karena jam belajar aku terganggu." Gadis itu menghelah napas, "Freya bisa tungguin aku kalau nggak boleh pulang sendirian. Lagian, dia baik-baik aja 'kan pulang sendirian juga?"
Mama menggeleng, kemudian menyentuh tangan putrinya. "Kamu nggak boleh egois dong, Ra. Adik kamu baru beberapa bulan sekolah di sana dan biasanya selalu bareng kamu. Baru dua hari dia pulang sendirian. Mama nggak mau terjadi apa-apa sama dia. Tadi aja, ada yang nakalin dia pas lagi nunggu angkot. Bapak nggak bisa jemput, Mama apa lagi sibuk. Kakak kamu kerja, cuma kamu yang bisa Mama andelin buat jagain adik kamu."
Raya memalingkan wajahnya kesal. Ia tahu, ini baru untuk adiknya. Namun, dulu juga ia sama 'kan? Malahan dia tidak ada kakaknya, ia mandiri sama sekali tidak bergantung pada siapa-siapa. Dia bisa pulang dan berangkat sendiri. "Terus gimana, Ma? Aku juga kan harus tetep jaga nilai aku, dan lomba itu aku harus lolos. Ini tingkat provinsi lo, Ma."
"Ra, kamu belum tentu lolos 'kan? Jadi, mending kamu udahin aja dari sekarang. Mama pengen kamu punya waktu istirahat lebih banyak. Kamu juga bisa jagain adik kamu, kalau ada apa-apa dia nggak sendirian."
Tatapan Raya meredup. Itu pasti bukan satu-satunya alasan Mama. Mama punya alasan yang lain, untuk melarangnya melakukan ini semua. Karena bagi Mama, apa yang ia lakukan selama ini sia-sia. Tidak pernah bisa menjadi juara pertama dan stuck di juara tiga. Mama sudah bisa menebak hasilnya, jadi Mama rasa tidak ada yang perlu diperjuangkan. Namun, menurut Raya itu salah. Raya tidak akan menyerah, hanya karena ia berkali-kali gagal.
"Ma, aku nggak bisa. Ini udah di tengah jalan."
"Tapi hasil kamu sama aja, Ra. Dan malah bikin peringkatmu makin turun."
Raya tidak menjawab apa-apa lagi, selain bangkit dari kursinya meninggalkan Mama menuju kamar. Selalu saja ia yang dipaksa mengalah padahal ini hanya masalah sepele dibanding mimpinya yang besar. Padahal, Freya sudah sama besarnya dengan dirinya. Adiknya itu sudah bisa melakukan banyak hal tanpa dirinya.
Mama seharusnya bisa bersikap sedikit lebih adil 'kan? Seharusnya hal sepele seperti ini tidak menjadi penghalang mimpinya. Menjadi pemenang dari lomba drama adalah mimpi yang sedari dulu belum terwujud. Raya harus membuktikan bahwa kali ini ia bisa.
Raya akan memperjuangkan apapun caranya. Raya yakin, ia bisa membuktikan itu pada Mama.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Raya
Teen FictionDidekati lelaki karena lelaki itu menyukai sahabatnya? Raya tidak pernah menyangka akan itu. Namun, di balik itu semua, nyatanya ada sosok yang membuat Raya tidak pernah bisa mendeskripsikan bagaimana lelaki itu hidup. Daffa Ganuar, lelaki itu tamp...
