"Kenapa, Kak?"
Raya tidak pernah merasa secanggung ini berada di sekitar Mama, kecuali jika memang ia sedang gagal-gagalnya. Mungkin dari awal Mama memang benar, seharusnya ia tidak perlu berusaha keras untuk hasil yang sama saja. Namun, apa salahnya ia terus mencoba? Raya bahkan tidak tahu, di kesempatan mana ia akan berhasil. Raya tidak mengerti di hari ke berapa ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. Raya selalu yakin, hari itu akan tiba. Meski yang ia hadapi setiap harinya adalah ketakutan, kegagalan, dan segala hal yang menghancurkannya secara perlahan. Itu semua tidak memutuskan semangatnya, untuk tetap mencoba, lagi dan lagi.
Mama mungkin benar. Nilai akademik itu lebih penting untuk ia maju nanti di perguruan tinggi. Mama mungkin hanya ingin itu, tidak ada yang lain. Namun, Raya selalu ingin mengejar mimpinya sendiri meski berakhir gagal.
"Ma, maaf, ya?"
"Kamu kenapa, Raya? Sini, duduk samping Mama."
Mama itu baik sekali. Kalau tidak ada Mama, mungkin dunianya akan runtuh seruntuh-runtuhnya saat-saat seperti ini. Saat ia gagal, saat orang terkasihnya mengecewakannya, saat ia mengecewakan yang lain. Mungkin, ia akan berantakan jika saja senyum Mama tidak ada di ruangan hangat ini. Namun, terkadang ada beberapa hal yang membuat Raya sakit perihal Mama. Mama itu tidak bisa mengapresiasi, dan selalu menginginkan ia berhasil tanpa peduli proses yang ia jalani. Mungkin tidak hanya Mama, semua orang begitu. Tidak peduli sepayah apapun proses yang kita jalani, semua orang hanya ingin melihat hasilnya.
"Aku nggak lolos."
"Mama kan udah bilang berkali-kali, Ra. Itu nggak terlalu penting, mending kamu fokus sama nilai di kelas kamu. Jangan geser terus peringkatnya."
Mama tidak peduli jika ia gagal di bidang apapun, kecuali nilai akademik di kelas. Peringkat dua, bukan apa-apa untuk Mama karena baginya itu sudah biasa. Mama selalu berharap, Raya mampu mendapatkan peringkat satu lagi sama seperti waktu masih sekolah dasar dulu. Masalahnya, ia sudah SMA. Semuanya murni sudah berubah.
"Kak, kamu mau tau kenapa Mama selalu larang kamu terlalu fokus sama kesukaan kamu?"
Raya diam. Sebab dari awal, ia tidak tahu. Raya selalu bertanya-tanya sendiri dan berharap mendapat jawaban meski berakhir sama saja. Maka ketika Mama mengajukan pertanyaan demikian, rasanya seperti ada sesuatu yang mengetuk hatinya lebih banyak dari seharusnya. Lebih terasa jomblang, kosong, atau bahkan nyaris penuh. Raya tidak tahu persis bagaimana rasanya.
Akhirnya Raya kembali menatap Mama, ketika wanita itu mengusap surai hitamnya. Lembut dan di sini ia merasa penuh. Seolah-olah hari kemarin tidak pernah ada. Hari-hari di mana, Mama dan keluarga yang lain meninggalkannya sendirian. Hari di mana, Mama akan selalu ingat makanan kesukaan adik dan kebiasaan kakak. Hari di mana, semua dunianya seolah lenyap tanpa tersisa kecuali suara Mama yang berteriak di pagi hari meminta semua anaknya segera bangun untuk melakukan aktifitasnya masing-masing.
"Mama nggak suka mata sembab kamu, setiap kamu gagal, Kak. Mama tau persis setiap kamu pulang dan bawa juara tiga, kamu pasti merasa bersalah dan malem-malem yang seharusnya kamu gunain untuk istirahat, kamu gunain buat nangis. Mama nggak bisa liat kamu kayak gini, Ra."
Tetapi Mama tidak tahu. Jika dirinya menangis bukan karena juara tiga yang dia bawa, bukan juga karena peringkat dua yang selalu jadi kebanggaan semua orang. Ia menangis karena Mama tidak melihatnya, Mama tidak mengapresiasi apa yang telah ia perjuangkan. Mama bahkan tidak pernah mengucapkan selamat seperti mama mengucapkan hal tersebut pada adik karena sudah masuk sepuluh besar. Hanya itu.
"Maaf, Ma."
Raya mungkin ingin mengatakan banyak hal lebih dari sekedar kata 'maaf' tetapi seperti kebanyakan orang, lidahnya seakan kelu jika berbicara dengan Mama mengenai perasaannya. Raya ingin sekali mengatakan pada Mama, bahwa ia sudah berusaha, selalu.
"Ra, dengerin Mama, ya? Mama bukannya nggak dukung mimpi kamu. Gagal itu selalu ada di setiap perjuangan. Tapi kalau kegagalan itu yang selalu buat kamu nangis, Mama juga ikut sakit, Ra. Kamu harus belajar lebih ikhlas, karena nggak semua hal sejalan sama apa yang kita usahain, nggak, Ra. Nggak semua hal sesuai yang kita mau. Semua orang bakal berlalu lalang dan yang berjuang nggak cuma kamu. Makanya, ketika kamu udah mantepin sama satu mimpi kamu, kamu harus terima semua konsekuensinya termasuk gagal berkali-kali. Termasuk, nggak pernah diliat sama siapapun proses kamu. Termasuk, rasa sakit di dalamnya, kamu harus siap."
Mama memang selalu memberi wejangan untuknya. Seperti jangan telat makan karena takut sakit, jangan begadang agar badannya tetap segar ketika bangun, atau jangan kebanyakan main ponsel karena radiasinya di mata. Tetapi untuk yang satu ini, jarang sekali Mama membahasnya. Dan itu yang cukup membuat hatinya terasa lebih lega sekaligus sesak. Mama benar, ketika ia sudah yakin dengan satu mimpi maka harus siap dengan rasa sakitnya. Semuanya.
"Aku udah berusaha, Ma. Tapi kenapa nggak ada satu pun yang sesuai dengan usaha aku, Ma? Bahkan satu kali aja. Aku udah ngabisin banyak kegagalan, dan seharusnya dengan usaha kerasku, aku bisa berhasil, kan, Ma?"
Mama tersenyum, kemudian menggeleng pelan. Detik-detik itu hanya mereka habiskan dengan diam. Seolah ruangan seluas ini, memberi kebebasan mereka untuk menyesap perasaannya perlahan-lahan. Sampai Mama membawa kepala Raya untuk bersandar di bahu, lalu mengusap surainya lebih lembut.
"Kamu nggak pernah gagal, Ra."
"Tapi kenapa?"
"Aku pengen sekali aja, Ma. Takdir baik berpihak sama aku. Pengen sekali aja, Ma. Aku bisa buktiin ke Mama bahwa aku nggak lagi gagal. Aku pengen sekali aja, Ma. Apa yang aku harapin terwujud, aku pengen tau rasanya gimana, Ma."
"Kamu pasti bisa, Ra. Nggak harus hari ini, nggak harus tahun depan, atau nggak harus hari-hari yang udah berlalu. Semua yang kamu lakuin, semua yang kamu usahain, adalah bentuk dari keseriusan doa kamu. Jangan bosen buat selalu berdoa, usaha, kita nggak pernah tahu di bagian mana doa itu bakal terwujud, kita nggak pernah tahu, di bagian mana usaha itu bakal membuahkan hasil yang sesuai. Kita nggak pernah tahu, Ra."
Rasanya seperti diberi semua hal yang Raya butuhkan, rasanya cukup sekali. Mungkin dari dulu, hanya ini yang Raya butuhkan. Pelukan Mama, bahu Mama untuknya bersandar, kalimat penenang dari Mama, usapan lembut pada rambutnya, dan semuanya jadi lebih lengkap ketika melihat wanita itu tersenyum lalu mengangguk. Seolah meyakinkan dirinya, tidak apa-apa. Apapun yang terjadi, masih ada Mama di sini. Apapun yang terjadi, masih ada Mama tempatnya pulang.
"Makasih, Ma."
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Raya
Teen FictionDidekati lelaki karena lelaki itu menyukai sahabatnya? Raya tidak pernah menyangka akan itu. Namun, di balik itu semua, nyatanya ada sosok yang membuat Raya tidak pernah bisa mendeskripsikan bagaimana lelaki itu hidup. Daffa Ganuar, lelaki itu tamp...
