Raya melihat sekali lagi lembaran berisi naskah yang ia pegang. Sesekali merematnya, sesekali juga ia menghelah napas kasar. Raya tidak pernah sependiam ini di dekat sosok lelaki berambut acak-acakan di sampingnya. Raya bebas bercerita apa saja yang ia mau. Raya bebas berdekatan sedekat apapun yang ia mau. Namun sayang, Raya sepertinya harus belajar menerima satu persatu perubahan yang membuatnya lebih berani sendiri. Ia harus segera membuktikan bahwa tidak ada Nando juga tidak apa-apa. Bahwa tanpa Nando juga hidupnya akan baik-baik saja.
Lelaki di sampingnya itu sedang berbicara serius dengan Nelisa. Pacar baru yang kelihatannya masih banyak bumbu manisnya. Raya berusaha fokus dengan apa yang ada di tangannya. Namun, pendengarannya yang tajam menghalau niatnya. Ia muak.
"Kenapa bolos segala? Lupa kalau kamu ajak aku ke kantin bareng?"
Raya tidak perlu menoleh hanya untuk melihat wajah ketakutan atau rasa bersalah Nando. Ia bisa menebak dari alibi dan suara yang lelaki itu keluarkan.
"Maafin aku ya? Tapi kemaren aku bener-bener nggak bisa biarin Raya bolos sama Daffa. Kamu tahu sendiri Daffa itu kayak gimana."
Kali ini Raya menoleh, alisnya naik satu dengan dengusan kasar. Memangnya apa yang salah dengan Daffa? Kalau Raya boleh memilih ia akan memilih untuk kenal Daffa lebih dulu daripada harus kenal dengan Nando. Namun, jika ia bisa memilih lagi, Raya tidak ingin mengenal siapapun yang pada akhirnya akan meninggalkan dan menyakitinya. Raya benci ditinggalkan, karena ia tidak punya banyak orang. Dia tidak punya seseorang yang menjadikannya prioritas.
"Nggak usah bawa-bawa nama Daffa." Raya berujar tegas, membuat Nelisa yang semula hendak buka suara mengurungkan niatnya.
Dua remaja itu sudah sepenuhnya menatap Raya. Sama-sama dengan ekspresi yang sulit Raya baca. Gadis itu menghentakan kaki kesal, sebelum meraih pena di ujung meja. Melangkah keluar, memenuhi printah guru eskulnya untuk ke ruang sastra. Ya, meski masih ada waktu lima belas menit lagi.
Jelas Raya memilih menghabiskan waktunya dengan bacaan di sana, menghafal naskah dengan tenang serta mendalaminya. Daripada harus mendengarkan pertengkaran klasik antara dua sahabatnya yang entah Nando masih termasuk sahabatnya atau bukan.
Kaki jenjangnya berjalan dengan lunglai. Rambut yang dia kuncir satu itu bergerak seirama. Tatapannya mengunci pada lorong sepi yang perlahan membuatnya tenang. Kelasnya jamkos, dan ia ada jadwal latihan drama. Sebenarnya Nando masih ada kelas, sebelum lima belas menit kemudian lelaki itu harus ke ruang sastra. Namun, Nando sepertinya mencuri waktu lebih awal.
Selama jam kosong tidak ada Daffa di sana, lelaki itu entah pergi ke mana. Itulah kebiasaan Daffa ketika jamkos. Akan menghilang dari kelas dan kembali dengan telat. Raya menggeleng pelan, jarak ruang sastra hanya tinggal beberapa langkah lagi. Namun, netranya tak sengaja menangkap seseorang di lapangan basket outdoor yang tidak jauh dari perpustakaan.
Lelaki dengan balutan kaos hitam dan celana olahraga itu tampak gigih memasukkan bola ke dalam ring. Tidak peduli beberapa kali ia berhasil, tetapi menurut Raya lelaki itu tidak puas. Selalu mengulang dengan cara yang lebih keras, pantulannya lebih terdengar menggema seiring kakinya mendekat.
Raya berdecak, berlari-lari kecil. Melempar asal handuk yang ia ambil di kursi penonton. Membuat lelaki itu reflek menangkap dan menghentikan permainannya.
"Tumben banget lo ngelakuin hal berguna pas jamkos. Biasanya juga bolos." Raya mengambil duduk di samping lapangan yang teduh, disusul tawa renyah Daffa di tengah lapangan.
"Lah lo sendiri ngapain di sini? Nggak salah kalo gue liat di lapangan? Bukan perpus, kelas, atau ruang sastra?" Sambil bertanya, lelaki itu menghampiri Raya, duduk tepat di samping gadis berwajah cubi.
"Nggak apa-apa, cari suasana baru," kata Raya pelan.
Daffa sibuk mengelap rambutnya dan wajahnya yang basah akibat keringat. Kemudian meletakkan handuk itu di kursi setelah selesai. Ia menoleh, Raya masih diam sembari memandang lurus entah ke mana.
"Lo nggak bawa minum? Minimal bawalah, kayak di film-film gitu. Gue kan abis main basket, jadi haus."
"Dih, gue nggak niat nyamperin lo kali. Niat gue mau ke ruang sastra, mau latihan. Tapi waktunya masih ada lima belas menit lagi, jaid deh gue melipir ke sini," katanya tegas, sedikit sewot.
Daffa terkekeh. Lelaki itu berdiri, membuat Raya mendongak. Sejenak gadis itu terhenyak. Melihat rambut Daffa yang acak-acakan dengan alis nyaris menyatu. Apalagi ketika lelaki itu tersenyum, lesung pipinya membuat Raya tidak bisa berkutik. Dalam keadaan seperti ini, kenapa Daffa terlihat lebih manis?
"Mau ikut nggak?" tawar Daffa, sembari menaikkan satu alisnya.
"Mau ke mana? Ajak gue bolos lagi? Gue cuma mau nyoba satu kali aja, Daff. Untung aja nggak ketahuan, lo mau ajak gue kedua kalinya?"
Daffa mengiyipitkan matanya kala matahari tak sengaja menyorot tepat di wajahnya. Kemudian membuang pandangan jatuh tepat di mata Raya, ia menggeleng pelan. Memangnya ia siapa mau mengajak Raya bolos? Daffa masih cukup waras untuk mengajak Raya ke ranah yang salah. Kecuali gadis itu yang memaksa.
"Kantin." Daffa mengisyaratkan Raya untuk beranjak, dan gadis itu menurut.
Mereka berjalan beriringan, yang membuat tubuh Raya terlihat kecil. Gadis itu sempat kesal, karena di samping Daffa ia terlihat seperti adiknya, bukan temannya.
"Kemaren lo yang maksa ikut." Lelaki itu tiba-tiba buka suara, membuat Raya menoleh dengan alis bertaut.
"Ya karena lo dulu yang bolos."
"Gue kan mau bolos sendirian, bukan ngajak bocil kayak lo. Apalagi si pentol korek itu ikutan. Aneh tau nggak?"
Raya berdecak, tetapi langkah mereka tetap seirama memasuki area kantin. "Gue juga nggak tau tuh anak ngapain ngintilin gue. Jadi dimarahin kan sama ceweknya. Dasar, udah punya pacar juga."
Raya dan Daffa tiba di meja paling tengah ketika Raya menyelesaikan unek-uneknya. Mereka duduk berhadapan, membuat Daffa bisa lebih jelas melihat wajah kesal gadis itu.
"Tapi lo seneng 'kan dia masih deket sama lo? Bukankah setiap orang benci jadi asing kalo sebelumnya deket banget?"
Raya melempar tatapan sendu. "Gue benci jadi asing sama orang terdekat. Tapi bukan berarti gue bisa nyakitin hati Nelisa seenaknya. Dia sahabat gue, Daffa."
Mereka belum ingin memesan makanan. Karena mungkin curhatan demi curhatan yang keluar dari mulut Raya terdengar lebih menarik. Daffa memandang dengan tatapan tak tentu.
"Kenapa? Nando juga sahabat lo 'kan?"
Raya tersenyum kecut. "Iya tapi tetap aja, ini udah beda. Persahabatan gue sama dia harus segera berakhir, ada hati Nelisa yang harus gue jaga—"
Daffa menyorot tatapan itu dengan menelisik lebih jauh.
"Bukan cuma Nelisa kan, lo juga berusaha buat jaga hati lo biar nggak jatuh lagi ke Nando." Daffa terkekeh dan beranjak.
Sebelum benar-benar pergi, Daffa masih mendengar jelas gumaman Raya "Lo bener, Daff. Hati gue juga, perlu gue jaga."
Daffa hanya bisa melanjutkan langkah. Memesan makanan dan minuman sambil berteriak apa pesanan Raya. Mengabaikan beberapa perasaan tak tentu yang Daffa sendiri mati-matian untuk memadamkannya.
Masalalu selalu jadi pemenang.
Nando Marcello akan selalu abadi dalam ruang hidup Raya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Semestanya Raya
Ficção AdolescenteDidekati lelaki karena lelaki itu menyukai sahabatnya? Raya tidak pernah menyangka akan itu. Namun, di balik itu semua, nyatanya ada sosok yang membuat Raya tidak pernah bisa mendeskripsikan bagaimana lelaki itu hidup. Daffa Ganuar, lelaki itu tamp...
