Bab 2

2.2K 243 54
                                        

"Kak Omi di mana? Aku di depan bengkel." Tanya sepupu Omi dalam jaringan telepon seluler.

"Aku di waiting room! Masuk aja!" Pinta Omi.

"Ok..." Balas jejaka ini kemudian mematikan sambungan.

"Mana Bima? Katanya Bima yang datang." Ujar Naomi ketika melihat Juna yang masuk.
Lalu jejaka ini duduk di sebelah sepupunya.

"Bima mendadak ada photoshoot. Pas kebetulan aku datang kerja. Langsung di suruh Bubu kesini."

"Makasih ya Jun."

"Mana?! Katanya mau zoom.... " Ujar Juna ketika dia melihat Naomi malah membuka aplikasi medsos.

"Nggak tau! Belum di kirim linknya. Pokoknya aku uda siap." Jawab Naomi santai.

"Uda telpon orang rumah?" Tanya Juna.

"Uda. Tadi papa juga telpon. Soalnya papa ngecek  ke rumah, dan akunya nggak ada."

"Papa Dito pasti kuatir... " Kata Juna yang ikut memanggil Dito dengan sebutan papa.

"Tentu. Telat dikit aja, pasti di tanya.
Ya.... Maklum, anak tunggal. Cewek pula.
Takut kenapa-kenapa."

"Makanya kak Omi cari suami, kan enak ada yang ngawal. Lagian biar nggak ngerepotin kita mulu."

"Asem kamu, Jun! Aku bilangin Bubu, lho!"

Juna tertawa karena berhasil membuat sepupunya kesal.

"Jun, waktu kamu liat sepupu kamu menikah, punya pasangan, apa kamu nggak pengen seperti mereka?" Tanya Naomi.

"Bukan masalah kepengen atau tidak. Tujuan hidup bukan hanya menikah, kan?"
Juna seakan meminta persetujuan.
Naomi yang pekerja keras tentu saja menganggukkan kepala.

"Apakah dengan menikah, kita bisa bahagia?
Sampe sekarang pun, aku juga nggak nemu alasan yang tepat untuk menikah." Juna kembali berbicara.

"Keturunan mungkin? Supaya nama marga nggak putus."

"Kalo keturunan, masih ada Bima dan Candra. Mereka boleh kok nikah duluan.
Lagipula masih ada Laksono yang lain." Jawab Juna.

"Gimana dengan bercinta?"

"Maksudnya kebutuhan biologis?" Tanya Juna balik.

"Iya... "

"Belum kepikiran. Karena aku sibuk cari uang. Nggak sempet mikir bercinta.
Kan kita sama orang sibuk, Omi.... " Ucap Juna tanpa menyematkan kak kepada sepupunya.

"Sesibuk-sibuknya, pasti kamu berusaha mengeluarkan bibit anakmu kan?"

Juna tertawa terbahak-bahak, dia tahu apa yang dimaksud Naomi.

"Jadi gimana yang jatuh tadi?" Tanya juna dengan sisa tawanya. Dia mencoba mengalihkan perhatian.

"Ya... Gimana ya?
Namanya kecelakaan, dia jatuh dan pastinya kesakitan.
Aku salut sama anak ini. Dia bertanggungjawab banget."

"Emang orang nya sekarang dimana?"

"Dia nunggu di luar, sambil benerin motornya. Aku nggak tahu, rusaknya dimana.
Liatin Jun! Kasian..... " Pinta Naomi.

"Mobilnya uda di klaimkan ke asuransi?"

"Uda, full cover kok."

Juna keluar ruangan dan ia melihat ada seorang gadis yang berjongkok di samping motor.

"Kamu nggak papa?" Tanya Juna.

Ica menoleh sesaat ke sumber suara, dia melihat Juna yang saat ini ikut jongkok di sebelahnya.

#10 HOLD (TAMAT) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang